Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Pantas Mati


__ADS_3

Alex meletakan pistol tepat di kening Leonardo, saat itu juga mata mereka bertemu di satu titik yang sama, saling menatap satu sama lain, melayangkan tatapan yang penuh dengan dendam.


Mata Leo tampak merah menahan amarah, dengan pelupuknya yang telah penuh dengan air mata, lengannya pun di kepalkan dengan kuat menahan emosi yang bergejolak di dalam jiwa.


''Coba saja bunuh aku kalau kau berani, brengsek...'' sungut Leo dengan suara yang sedikit di tahan namun dengan nada yang penuh dengan penekan.


''Baiklah jika itu memang mau'mu,'' jawab Alex menarik pelatuk lalu hendak benar-benar menembakan.


Ceklek...


''Dor...'' yang terdengar hanyalah suara mulut Alex sendiri.


Tubuh Leo gemetar hebat, jantungnya pun berdetak dengan sangat kencang, matanya semakin memerah, dengan tangan yang masih di kepalkan. Dia menatap wajah musuhnya dengan perasaan dendam yang seolah tidak dapat lagi dia tahan.

__ADS_1


''Dor... dor... dor...! kamu ingin aku menembak'mu seperti itu? ha... ha... ha... Maaf sekali, aku tidak akan semudah itu menghabisi nyawa'mu, kau harus menderita terlebih dahulu, kalau perlu, kau harus kehilangan orang-orang yang kau sayangi terlebih dahulu, baru setelah itu kau menyusul mereka,'' ujar Alex menatap dan berbicara dengan penuh penekan.


Setelah itu, pistol pun di turunkan, dia memainkan pistol tersebut di tangannya, memutar-mutar pistol dengan begitu lihai'nya. Leo menarik nafas panjang setelah senjata yang mematikan itu tidak lagi berada di keningnya.


Dia sedikit membungkuk dengan menghembuskan nafasnya perlahan, sekuat apapun dirinya, tetap saja, jika di hadapkan dengan senjata yang di tempelkan begitu saja di keningnya, akan membuat perasaan orang tersebut ketakutan.


Dan itulah yang saat ini di rasakan oleh Leo, meski wajahnya tidak menunjukan rasa takut sama sekali, namun berbeda dengan isi hatinya, andai saja tidak ada Adelia, istrinya yang saat ini sedang mengandung buah hatinya, mungkin saja perasaan takut itu tidak akan pernah ada, karena selama ini dia memang tidak pernah takut mati, selalu bertarung dan melawan siapapun yang menghalangi jalannya.


''Ingat, Leonardo...! aku akan mengambil alih organisasi mafia yang saat ini berada di bawah naungan'mu, sedikit demi sedikit aku akan menghasut anak buah'mu agar mereka beralih mengikuti'ku, andai saja kau tidak membunuh adikku satu-satunya, mungkin persahabatan kita masih akan tetap sama seperti dahulu,'' Ucap Alex sedikit menunduk.


''Baiklah, kita lihat saja nanti,'' Alex hendak melangkah.


''Dia pantas mati...!''

__ADS_1


Ucapan Leo membuat Alex menghentikan langkahnya, dia mengepalkan tangan dan kembali berbalik lalu menatap Leonardo dengan tatapan tajam.


''Apa maksudmu, brengsek...'' tanya Alex dengan suara menahan rasa geram.


''Adik'mu itu pantas mati, dan aku tidak menyesal telah membunuhnya, dia adalah parasit yang tidak tahu diri, dan tidak tahu caranya berterima kasih, dia menusukku dari belakang setelah aku begitu percaya dan telah menganggap dia seperti saudara kandung sendiri. Adikmu itu, si Jimmy, memang sangat pantas untuk mati...'' ujar Leo yang sukses menyalakan api kemarahan di dalam diri Alex.


Dia tampak membulatkan bola matanya, mengepalkan kedua tangan dan merasakan sesak di dada, mendengar nama adiknya di cemooh oleh musuhnya, sejelek apapun kelakuan Jimmy, dia tetap adik satu-satunya yang dia punya dan dia sayangi dengan sepenuh hati.


Leo sadar betul bahwa ucapan yang baru saja keluar dari dalam mulutnya, akan benar-benar menyulut emosi di dalam hati Alex Will yang saat ini berdiri tidak jauh dari tempat tidur'nya, Dia menatap wajah Alex yang kini sudah benar-benar terlihat marah.


Dan benar saja, merasa geram, Alex pun merogoh kembali saku celananya, dan meraih pistol yang tadi dia masukkan ke dalamnya.


Leo memejamkan mata, menyebut dan mengucap maaf di dalam hatinya kepada Adelia, dan juga salon bayi'nya.

__ADS_1


'Istriku, maafkan aku jika aku tidak bisa menemani mu sampai anak kita lahir nanti, jaga dia dengan baik. Aku mohon maaf yang sedalam-dalamnya, aku mencintaimu, menyayangi'mu, dengan segenap jiwa dan ragaku...'


____________-----------______________


__ADS_2