Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Kenyataan Pahit


__ADS_3

Gabriel terlihat berjalan mondar-mandir di dalam rumahnya, merasa gelisah karena sang kekasih bersikap aneh, entah mengapa kekasihnya tersebut tidak mengangkat telpon darinya, bahkan tidak membalas pesannya juga, sungguh membuat hati seorang Gabriel gelisah dan dilanda dilema.


Apa yang terjadi? Mengapa kekasihnya itu bersikap seperti ini? Jika di ingat-ingat, dirinya merasa tidak melakukan kesalahan apapun.


Dia pun menatap layar ponselnya berkali-kali, berharap sang kekasih membalas pesan atau menelpon dirinya, namun, harapannya ternyata sia-sia, karena berkali-kali dia mengecek ponsel, kekasihnya tersebut sama sekali tidak merespon setiap pesan yang dia kirimkan.


Akhirnya dia pun memutuskan untuk kembali menelpon Axela, berharap kali ini dia mau mengangkat telpon darinya.


Tut


Tut


Tut


Suara telpon yang tidak di angkat.


Briel pun kembali menelan kekecewaan, karena telpon darinya masih saja di abaikan. Akhirnya, dia menyerah dan memilih membanting tubuhnya di atas kursi, duduk dengan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi di ruang tamu.


Dia pun memejamkan mata, seraya mengingat-ingat, apakah dirinya telah melakukan sebuah kesalahan sehingga kekasihnya itu bersikap seperti ini? Briel pun mengusap wajahnya dengan sedikit kasar, merasakan kekecewaan yang teramat dalam.


Kemudian, ponselnya pun berbunyi, tanda sebuah pesan video masuk, dan dia tersenyum merasa senang karena akhirnya Al membalas pesannya.


Briel menyentuh layar ponsel dan membuka pesan tersebut. Namun, seketika senyumnya terhenti, raut wajahnya berubah muram, Briel menyipitkan kelopak matanya, melihat dengan seksama, menyaksikan dengan perasaan berdebar, karena ternyata pesan video yang kirimkan oleh Al adalah video rekaman CCTV.


'Apa ini?' (Batin Briel penuh tanda tanya)


Dia pun terkejut bukan kepalang, jantungnya berdetak begitu kencang, dengan tubuh yang gemetar, keringatnya pun bahkan kini mulai bercucuran membasahi pelipis wajahnya, serta tubuhnya juga sekarang.


'Jadi dia sudah tahu siapa aku? Apa yang akan aku lakukan sekarang?' ( Batin Briel, dengan mata yang berkaca-kaca)


Setelah termenung sejenak, menutup wajah dengan kedua tangannya, dia pun akhirnya memutuskan untuk mendatangi rumah kekasihnya itu untuk menjelaskan, tidak peduli jika saat ini keadaan sudah larut malam, dia akan mencoba mengatakan yang sejujurnya kepada sang kekasih tentang identitas dirinya yang sebenarnya.

__ADS_1


Briel meraih kunci motor lalu keluar dari dalam rumah.


Gabriel, dia sungguh tidak ingin kehilangan wanita yang sangat dicintainya itu, Al adalah satu-satunya orang yang dia punya di dunia ini, satu-satunya wanita yang memberinya kebahagiaan sekaligus harapan baru dalam hidupnya, dia tidak ingin kalau sampai wanita itu meninggalkan dirinya, hidup seorang Gabriel akan terasa hancur kalau sampai hal itu terjadi.


Briel melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, melaju kencang di jalanan, memecah kegelapan malam, dan ditemani dengan gerimis air hujan yang perlahan mulai berjatuhan, dia tidak peduli jika kecepatan motornya sudah di atas rata-rata, dan air hujan yang sudah mulai membasahi tubuhnya.


Akhirnya, tidak membutuhkan waktu lama, dia pun sampai di depan pagar tinggi rumah besar milik Axela, memarkir motor tepat di depan pagar, dia pun membuka pagar yang memang tidak dalam keadaan di kunci dan masuk kedalamnya.


Pak satpam yang sedang berjaga pun segera berlari menghampiri Gabriel.


''Maaf, Mas. Anda siapa?'' tanyanya meraih pergelangan tangan Gabriel.


''Maaf, Pak. Saya pacar Al, saya mau bertemu dia, ada hal penting yang harus saya katakan dengan dia,'' jawab Briel.


''Tapi ini sudah malam, Mas. Tuan Leo memberi perintah kepada saya, untuk tidak menerima tamu siapapun di atas jam 9 malam.''


Satpam tersebut mengencangkan genggaman tangannya.


''Sebentar saja, Pak. Saya mohon.''


Pak satpam itupun meraih ponsel dari dalam saku celananya, dan hendak menelpon majikannya, dia pun melepaskan cengkeraman tangannya dan memegang ponsel.


Namun, baru saja dia akan melakukan hal tersebut, Briel terlihat berlari kencang menyusuri halaman, dan dia pun berdiri di luar jendela kamar Al, menatap ke atas, ke arah jendela kamar kekasihnya yang terletak di lantai dua.


''AXELA, AKU DI SINI, AKU INGIN BICARA DENGANMU, AKU AKAN MENJELASKAN SEMUANYA, AKU MOHON, IZINKAN AKU BICARA ...'' Briel berteriak dengan mendongakkan wajahnya ke atas.


Dia terus menatap ke arah kamar, berharap sang kekasih menunjukan wajahnya dan mau menemui dirinya.


''AXELA ...'' Briel kembali berteriak.


''Mas, jangan membuat kegaduhan di sini, silahkan pulang sekarang,'' ucap Satpam kembali memegangi tangan Gabriel dan hendak membawanya keluar.

__ADS_1


Namun, tangan kekar Gabriel berhasil menepis tangan Pak Satpam hingga membuat dia tersungkur ke atas tanah.


''Sebentar saja, Pak. Saya mohon.'' Briel, mengiba dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.


Pak Satpam itupun berlari ke arah Pos, karena tiba-tiba saja hujan turun dengan begitu derasnya, dia hendak menelpon majikannya, seraya berteduh di dalam Pos.


🌹🌹


Al bangkit dari tempat tidur, dan membuka selimut yang sedari tadi menutup seluruh tubuhnya, dia pun menatap ke arah jendela, mendengar suara kegaduhan yang diiringi dengan suara rintikan hujan, petir pun terdengar saling bersautan, mengiringi air hujan yang berjatuhan dengan begitu derasnya.


Dia pun berjalan ke arah jendela dan terkejut seketika, saat melihat Gabriel, sang kekasih berdiri di bawah sana dengan tubuh yang terlihat basah kuyup dengan air hujan, seraya terus meneriakkan namanya.


Al membuka pintu kamar, lalu berdiri di balkon.


''Gabriel, sedang apa kamu di sana?'' teriak Al dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


''AXELA, AKHIRNYA KAMU KELUAR JUGA, IZINKAN AKU BICARA DENGANMU SEBENTAR SAJA, AL. AKU MOHON ...?''


Terdengar sayup-sayup teriakan Gabriel memecah suara derasnya air hujan.


Al menangis sesenggukan, dia pun seolah menumpahkan semua kesedihan dan kekecewaan yang sedari tadi dia tahan, napasnya terasa sesak sekarang, dadanya pun serasa di himpit bongkahan batu besar, merasakan kesakitan yang teramat dalam.


''PERGI, AKU GAK MAU BERTEMU DENGANMU, APALAGI MENDENGARKAN PENJELASAN'MU, SEMUANYA SUDAH JELAS, APALAGI YANG HARUS DI JELASKAN, HAH ...? AKU BENCI KAMU, GABRIEL ...! HIKS HIKS HIKS ...!'' Teriak Al, dengan napas yang tersengal-sengal menahan kekecewaan.


''AKU MOHON AL, SEMUANYA TIDAK SEPERTI YANG KAMU PIKIRKAN,'' Teriak Briel, berlutut di bawah sana, kini. Dengan air hujan yang semakin membasahi seluruh tubuhnya.


''PERGI ...! AKU BENCI SAMA KAMU, PERGI ...''


Setelah mengatakan hal tersebut, Al pun masuk kedalam kamarnya, menutup pintu balkon, lalu terduduk lemas di balik pintu dengan tubuh yang disandarkan, dia pun menangis sesenggukan, bahkan tangisnya terdengar begitu pilu sekarang.


Mengapa semua ini harus terjadi? Di saat dirinya menerima kenyataan bahwa dia sedang dalam keadaan hamil sekarang, dan di waktu yang bersamaan dia pun mengetahuinya bahwa, Gabriel, kekasih yang sangat di cintanya itu adalah pelaku utama penembakan sang ayah, dan bahkan hatinya semakin di buat terasa sakit, saat mengingat malam itu, malam dimana dia di todong dengan senjata api yang mengarah tepat di wajahnya, oleh kekasihnya sendiri.

__ADS_1


_____________------------_____________


Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Reader. ❤️❤️❤️❤️


__ADS_2