
Dor
Satu tembakan melesat, tepat mengenai ban mobil bagian depan, Ryan terkejut dan menunduk, begitupun dengan ibu, beliau sampai berteriak dengan kencang. Pria itupun langsung naik dan menyalakan motornya, melesat begitu saja, meninggalkan mobil Ryan.
Tak lama kemudian Leo sampai di kediamannya, dia berhenti tepat di belakang mobil Ryan, keluar dari dalam mobil dengan perasaan heran, dirinya pun menghampiri Ryan yang terlihat berjongkok menatap ban mobil yang kini telah berlubang.
''Apa apa? siapa Laki-laki yang naik motor tadi?'' tanya Leo.
Ibu keluar dari dalam mobil dengan wajah pucat dan tubuh yang sedikit bergetar, dirinya berdiri di belakang Leo menatap dengan tatapan penuh tanda tanya. Leo yang menyadari kehadiran sang ibu, segera berdiri dan menatap wajah ibu dengan tersenyum.
''Ibu...'' Leo mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Ibu pun menerima uluran tangan menantunya lalu memeluk tubuh Leo, dan mengusap punggungnya pelan.
''Ada apa ini? siapa Laki-laki tadi? mengapa dia menembakan senjata api? untung saja hanya mengenai ban mobil, ibu sungguh terkejut, untung saja tidak terkena serangan jantung,'' tanya ibu memasang wajah cemas.
''Hanya orang iseng saja, Bu. Tidak usah terlalu dipikirkan,'' jawab Leo mencoba menenangkan.
''Begitu...? iseng'nya orang kota menakutkan ya, hampir saja jantung ibu copot,'' ibu mengusap dada sebelah kirinya yang terasa berdebar.
''Mohon maaf atas ketidak nyamanan'nya, mari masuk, Bu. Adel sudah menunggu di dalam,'' ajak Leo, memapah tubuh sang ibu.
Ibu Sarah pun berjalan memasuki halaman besar rumah milik Leo, dia tampak terkesima dengan rumah besar dan megah, dia tidak menyangka bahwa keadaan Leonardo ternyata melebihi ekspektasi yang dia bayangkan.
Ibu pun sampai di teras rumah dengan pandangan mata yang terlihat masih berkeliling melihat ke sekitar, dengan tatapan takjub dan rasa tidak percaya, bahwa dirinya ternyata memiliki seorang menantu yang kaya raya.
Ceklek
Leo membuka pintu dan masuk ke dalamnya, dia memanggil Adelia.
''Adelia, istri ku sayang, kamu dimana?'' Leo berteriak-teriak memanggil seraya berjalan semakin dalam ke dalam rumah.
Tidak lama kemudian Adel turun dari lantai dua, berjalan menuruni tangga dengan tergesa-gesa, karena merasa bahagia dan tidak percaya bahwa ibu yang sangat di rindukan kini berada di hadapannya.
Adelia pun segera memeluk sang ibu, dia menangis sesenggukan seolah menumpahkan semua kesedihan sekaligus kerinduan.
''Apa kabar, nak? Putri kesayangan ibu,'' tanya ibu mengusap punggung Adelia.
''Aku baik-baik saja Bu, ibu apa kabar? Adel sungguh merindukan ibu,'' Adelia melepaskan pelukan dan menatap wajah sang ibu.
__ADS_1
''Ibu juga baik-baik saya,'' jawab ibu merapikan rambut sang putri.
''Mari duduk Bu, ibu pasti capek,'' pinta Leo memapah tubuh ibu menuju kursi di ruang Televisi.
''Bi inah... Tolong ambilkan minum untuk ibu mertua saya,'' Leo berteriak.
''Baik, tuan,'' bi Inah segera menghampiri lalu kembali berbalik.
Ibu melihat ke sekeliling rumah mewah yang terlihat megah dengan semua isi perabotan mewahnya, matanya tampak berbinar, dengan mulut yang tersenyum lebar.
''Rumahmu sungguh besar dan megah, sangat jauh berbeda dengan rumah ibu yang di kampung,'' ucap ibu dengan mata yang masih terlihat menatap ke sekeliling.
''Ibu boleh tinggal di sini ko, lagipula kasihan Adelia, kalau aku berangkat ke kantor, dia sendiri di rumah,'' jawab Leo.
''Tidak bisa, rumah ibu yang di sana bagaimana? sayang kan kalau di tinggal, tidak baik kalau rumah di biarkan kosong begitu saja,'' jawab ibu menolak.
''Ibu, Adel ingin ibu menemani aku disini, di rumah besar ini aku merasa sangat kesepian,'' lirih Adelia menunduk sedih.
''Nanti juga jika kalian sudah memiliki anak, rumah ini akan ramai dengan gelak tawa seorang anak, dan tangis bayi, memangnya belum ada tanda-tanda ya?''
''Tanda-tanda apa?'' tanya Adelia tidak mengerti.
Adel termenung sejenak, dari semenjak menikah, dirinya memang baru sekali datang bulan, dan sampai saat ini belum datang bulan lagi, dia sedikit tersenyum namun belum berani mengatakan apapun sebelum memastikannya.
''Apa kamu sudah datang bulan?'' ibu bertanya lagi.
Adelia menggelengkan kepalanya.
''Sungguh...?'' Leo tersenyum senang.
Adelia mengangguk kembali.
''Kalau begitu kamu hamil dong?'' tanya Leo.
''Belum...''
''Ko belum sih, tadi katanya sudah lama belum datang bulan?''
''Kan harus di cek dulu, sayang,'' jawab Adel tersenyum melihat raut wajah suaminya.
__ADS_1
''Gimana cara ngeceknya? apa kita langsung datang ke dokter kandungan saja?''
''Tidak, kita beli alat tes kehamilan, nanti, jika hasilnya positif, batu kita mengunjungi dokter kandungan,'' Adelia menjelaskan.
''Ya sudah, aku akan menyuruh Ryan membelikan alat itu,'' tanpa basa-basi, Leo berjalan keluar dari dalam rumah.
''Suamimu itu sungguh baik ya, tidak salah ibu memilih menantu,'' lirih ibu.
''Iya, Bu. Meski ingatannya telah sepenuhnya kembali, namun sikapnya kepadaku tidak pernah berubah, malah dia semakin baik dan memanjakan aku dengan banyak hal,'' jawab Adelia tersenyum.
''O, ya...? ibu sangat senang mendengar'nya, ibu sungguh bahagia melihat kamu bahagia, bagi ibu, kamu adalah sumber kebahagiaan ibu, jadi tetaplah bahagia agar ibu juga bahagia,'' liris ibu dengan suara lembut seperti biasanya.
Adelia menganggukan kepalanya seraya tersenyum.
Tidak lama kemudian Leo kembali dengan membawa alat tes kehamilan, dia bahkan memborong beberapa merk sekaligus.
''Aku sudah beli alat tes kehamilan,'' Leo menghampiri dan duduk di samping sang istri dengan membawa satu kantong alat tes kehamilan.
''Banyak banget, dua buah saja juga cukup kali,'' ucap Adelia mengeluarkan semuanya dari dalam kantong kresek.
''Aku tidak tahu yang mana yang bagus, jadi aku beli aja semuanya,'' jawab Leo memasang wajah datar.
''Kamu ini, mentang-mentang banyak uang,'' Adelia mengerucutkan bibirnya.
''Sudah... sudah... cepat di tes, aku sudah tidak sabar,'' Leo membuka satu buah alat tersebut dan memberikannya kepada Adelia.
''Sekarang juga?'' tanya Adel membulatkan bola matanya.
Ibu tersenyum melihat tingkah menantunya yang terlihat sangat bersemangat dalam menanti momongan.
Adelia pun bangkit dan berdiri menuju kamar mandi dengan membawa satu buah buah alat tes tersebut, sementara Leo dan Ibu menunggu dengan penuh harap, dan hati yang berdebar-debar.
Tidak lama kemudian Adelia pun keluar dari dalam kamar mandi, wajahnya terlihat muram, dengan bibir yang sedikit di kerucutkan. Leo segera berlari menghampiri.
''Bagaimana hasilnya?'' tanya Leo.
_________--------_________
Halo semuanya, kali ini Author mau merekomendasikan novel yang bagus dan cocok untuk di baca di kala senggang.
__ADS_1