Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Restu


__ADS_3

Axel segera berlari keluar dari dalam ruangan, mengejar kembaran'nya yang terlihat berlari seraya menangis setelah mendengar ucapan sang ibu.


''Al, tunggu ...'' teriak El mempercepat langkah kakinya.


Axela pun berhenti di koridor Rumah Sakit yang terlihat sepi dengan lampu yang tidak terlalu terang, dia berjongkok dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya.


El pun berhenti tidak jauh dari tempat Al berada, berjalan perlahan seraya menatap tubuh kembarannya yang terlihat bergetar karena menangis sesenggukan.


El pun ikut berjongkok tepat di hadapan Axela, menatap dengan perasaan pilu tubuh ramping sang adik.


''Gimana ini El? kayaknya aku udah benar-benar mengecewakan Mommy, kalau Mommy sampai tau sebenarnya aku udah--- hiks hiks hiks ...!'' Al tidak kuasa meneruskan ucapannya.


''Kamu tenang dulu, Al. Asalkan kita menjaga rahasia ini dengan rapat, Mommy gak akan pernah tau,'' El berusaha menenangkan dengan mengusap punggung sang adik.


''Tapi suatu saat dia pasti tau, kamu dengar tadi, kan? ucapan Mommy sungguh penuh penekanan, meminta aku menjaga baik-baik kesucian aku, sementara, aku sudah melakukan hal terlarang itu, apa yang harus aku lakukan sekarang, El ...?''


''Axela ...! semua itu sudah terjadi, dan nasi sudah menjadi bubur, gak ada lagi yang bisa kamu lakukan, sekarang kita hanya bisa berdoa semoga saja---''


''Semoga saja apa ...?'' Al mengangkat kepalanya menatap wajah Axel.


''Semoga saja kamu tidak ha-mil ...!''


Deg ...


Jantung Al berdetak semakin kencang, tubuhnya pun mendadak terasa bergetar, mengapa dia sampai melupakan hal itu, sementara dia sudah dua kali melakukan hal terlarang tersebut, dan kedua-duanya tanpa menggunakan pengaman.


Dia pun kembali menunduk, dengan air mata yang terus berjatuhan, menatap lantai putih Rumah Sakit, yang kini telah basah dengan air matanya.


''Al ...! Maaf kalau ucapan'ku menyinggung perasaan kamu lagi,'' El menyesal mengatakan hal tersebut sebenarnya.


''Bagaimana kalau aku beneran hamil? apa yang akan terjadi dengan masa depan aku? aku benar-benar menyesal telah melakukan hal itu tanpa berpikir panjang.''


El pun memeluk tubuh Axela dan mencoba menenangkan seraya mengusap rambut panjang'nya.


''Gak, kamu gak bakalan hamil, lagipula kamu melakukan itu cuma sekali, kan?''


'Nggak, aku melakukannya dua kali, Al ...'. ( Batin El )


''Aku pernah dengar, kalau cuma melakukan satu kali, gak akan ngebuat kamu hamil, pesan aku cuma satu, Al, kamu jangan pernah melakukan hal terlarang itu lagi, ya ...?''

__ADS_1


Al menganggukan kepalanya.


''Sekarang, kita kembali ke kamar, kamu minta maaf sama Mommy dan papi, tadi kamu udah berani bicara begitu sama beliau,'' El melepaskan pelukan Axela, menatap wajah cantik Al seraya mengusap buliran air mata yang kini membasahi seluruh wajah cantik kembaran'nya.


Keduanya pun berdiri dan berjalan beriringan, dengan tangan El yang di letakan di pundak Axela.


*


''Apa aku salah bicara tadi? mengapa reaksi putri kita berlebihan sekali? padahal apa yang aku katakan adalah hal yang wajar, yang biasa di katakan oleh setiap orang tua,'' Adelia menatap wajah Leo suaminya.


''Nggak ko sayang, mungkin putri kita lagi cinta-cintanya sama pacarnya itu, dan ucapan kita terdengar seperti kita menentang hubungan mereka.''


''Tapi, aku memang kurang suka dengan pria yang bernama Gabriel itu.''


''Lho, kenapa? di sepertinya pria yang baik?'' tanya Leo mengerutkan keningnya.


''Entahlah, ada sesuatu yang mengganjal di dalam hati aku.''


''Meskipun seperti itu, mari kita berpura-pura menyukai dia, jangan sampai Axela menjalani hubungannya secara sembunyi-sembunyi, karena itu nggak baik, kita gak akan bisa mengontrol apa saja yang dia lakukan kalau sampai mereka berpacaran di belakang kita, ya ...?''


Adelia mengangguk seraya mengusap dadanya sendiri.


Pintu ruangan pun di buka, El masuk ke dalamnya dengan di ikuti oleh Axela di belakangnya. Keduanya berjalan mendekati sang ibu.


''Mom, aku minta maaf, tadi aku udah gak sopan sama Mommy?'' Al memeluk tubuh sang ibu, lalu terisak di pelukan.


''Iya, sayang. Mommy maafin kamu, maafin Mommy juga karena sudah terlalu keras bicara sama kamu.''


''Aku mencintai dia, Mom. Sangat ...! Jadi aku mohon, Mommy dan Papi merestui hubungan kami,'' Al melepaskan pelukan, menatap wajah sang ibu dengan tatapan penuh harap, dan mata yang terlihat berkaca-kaca.


''Iya, sayang. Mommy akan merestui hubungan kalian, nanti kapan-kapan, ajak pacar'mu itu untuk makan malam bersama di rumah kita, ya.'' Jawab sang ibu, mengusap wajah cantik Putri kesayangannya, berucap dengan nada lembut dan penuh kasih sayang.


''Makasih, mom ...!''


***


Trok


Trok

__ADS_1


Trok


Suara ketukan terdengar begitu nyaring, Alex berdiri di depan pintu, terus mengetuk sampai pemilik rumah membuka pintu dan menunjukan wajah'nya.


Ceklek


Pintu pun di buka, Revan si empunya rumah menunjukan wajahnya dari balik pintu.


''Bang Alex ...? tumben sekali jauh-jauh datang kemari? ada apa?''


''Persilahkan aku masuk dulu, baru setelah itu kita bicara ...''


''O iya, aku sampai lupa, silahkan masuk, bang ...!''


Alex pun masuk kedalam rumah, Revan menatap tubuh Alex yang langsung duduk di kursi ruang tamu sebelum dia mempersilahkan pria tersebut untuk duduk, sepertinya, Revan sudah dapat menebak maksud dari kedatangan pria paruh baya tersebut.


''Hmm ...! ada perlu apa Abang datang kemari?''


''Apa kamu dalang di balik penembakan Leonardo?'' Alex menatap dengan tatapan tajam, dan bicara langsung ke intinya.


''Apa maksudmu, bang?''


''Sudahlah, jangan pura-pura tidak tahu, atau pura-pura bodoh, aku tahu benar ini pasti perbuatan kamu, kan ...?''


Revan terdiam sejenak, mata mereka pun saling bertemu dan saling melayangkan tatapan tajam.


''Aku datang kemari untuk memperingatkan'mu, Revan. Kali ini aku akan mengubur masalah ini, dan gak akan memberitahukan perbuatan'mu ini kepada Leo, kamu tahu sendiri apa yang akan terjadi kalau sampai Leonardo tahu tentang hal ini? hah ...?''


Revan masih terdiam.


''Aku melakukan hal ini bukan karena aku mendukung dan membenarkan dengan apa yang kamu lakukan, tapi ... karena kau adalah temanku dan sudah aku anggap seperti adikku sendiri, itu sebabnya aku tidak ingin kamu sampai terluka atau berakhir seperti Jimmy, tapi, kalau sampai kamu mengulangi hal ini lagi, aku gak akan segan memberitahukan hal ini kepada Leonardo, mengerti kamu ...?'' Alex berdiri lalu hendak pergi.


''Tunggu, bang ...!''


Alex menghentikan langkahnya.


''Aku sama sekali gak takut dengan ancaman kamu, dan aku tidak akan menyerah sampai dendam Jimmy terbalaskan, kalau perlu aku akan bertarung satu lawan satu dengan si brengsek itu, sebagai kakak kandung Jimmy, seharusnya kamu mendukung dengan apa yang aku lakukan, bukan malah bersahabat dengan pria yang sudah membunuh adik'mu itu.''


___________------------____________

__ADS_1


__ADS_2