Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Surprise


__ADS_3

Leo segera berlari menuju kamar untuk mencari sang istri, setelah dirinya melihat darah yang berceceran di dalam rumah'nya, perasaan'nya pun panik seketika dengan jantung yang berdetak begitu kencang.


Sementara Ryan segera memanggil para penjaga yang biasa berjaga di rumah majikan'nya, di berlari keluar, namun tidak ada siapapun di sana, semua orang seperti menghilang.


Hanya tinggal kegelapan malam dengan sinar rembulan yang sedikit tertutup awan, di temani pula oleh bintang yang menemani sang rembulan yang seolah terlihat sedang menari-nari di kegelapan dengan sinar kecilnya yang terlihat kelap-kelip menghiasi langit malam.


Ryan mengangkat kepalanya melihat pemandangan langit malam, otaknya seolah sedang berfikir, apa yang terjadi sekarang? Kemana semua orang? mengapa rumah ini seolah kosong?


Sejenak dia larut dalam fikiran kosongnya, namun dia pun segera menyadarkan diri dan kembali mencari semua orang yang biasa berjaga di rumah bos'nya tersebut.


Dan Leo, kini dia sudah sampai di depan kamar yang biasa dia tempati bersama sang istri, nampak sedang berdiri di depan pintu, dengan perasaan yang berkecamuk dan jantung yang berdebar, dia pun mencoba mengetuk pintu.


Trok


Trok


Trok


Leo mengetuk pintu dan membuka pintu secara pelan dan perlahan, entah apa yang sebenarnya dia pikirkan sehingga membuat tubuhnya serasa gemetar.

__ADS_1


''Adel...! apakah kamu di dalam?'' Leo masuk kedalam kamar yang masih dalam keadaan gelap gulita.


Dia melangkah dengan langkah yang gontai serta mata yang melihat ke sekitar, tubuh nya pun terlihat dalam posisi waspada, mengingat dia masih mempunyai seorang musuh yang masih menyimpan dendam yang mendalam kepada dirinya, mungkin saja Alex sekarang sedang menteror dirinya.


Alex pun mencari saklar untuk menyalakan lampu, dia pun berjalan mundur karena melupakan bahwa sakelar kamar'nya berada tepat di dekat pintu.


Tangannya meraba tembok mencari tombol saklar dengan mata yang masih melihat ke sekitar kamar dengan sikap yang masih terlihat waspada.


Ceklek...


Leo pun menelan saklar sesaat setelah tombol itu dia temukan.


''Surprise...!''


Saat lampu mulai menyala, terdengar suara riuh di dalam kamar, dengan tangan Adelia yang memegang kue tart berukuran besar berwarna hitam.


''Happy Birthday suamiku...'' Adel berjalan menghampiri dengan lilin yang terlihat sudah menyala di atas kue tart yang di pegang'nya.


Leo menangis seketika, entah menangis karena lega, atau menangis karena terharu.

__ADS_1


Lega karena istrinya dalam keadaan baik-baik saja, dan terharu karena istrinya masih mengingat tanggal ulang tahun dirinya, dan menyempatkan diri untuk membuat kejutan untuk dirinya.


''Cepat tiup lilinnya?'' pinta Adelia yang sudah merasa pegal dengan kue yang sudah sedari tadi diletakan di telapak tangannya.


Whuuss...


Leo meniup lilin dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.


''Apa kamu tahu aku sangat khawatir kepada'mu, aku kita kamu kenapa-napa,?'' tanya Leo menatap lalu memeluk tubuh sang istri.


''Maaf kalau aku sudah membuatmu khawatir, aku hanya ingin memberikan kejutan untuk dirimu,'' Adel tersenyum lalu menyimpan kue tart tersebut di atas meja lalu memeluk suaminya.


''Terima kasih, sayang. Tapi jangan seperti ini lagi, jantungku seperti akan copot apabila mengingat yang baru saja aku alami tadi, aku sempat berfikir yang tidak-tidak tentang dirimu, aku sungguh takut kamu terluka,'' jawab Leo.


Adelia melepaskan pelukannya, dia menatap wajah sang suami dengan tatapan penuh cinta.


''Selamat ulang tahun suami'ku tersayang, semoga kau panjang umur dan menjadi suami dan ayah terbaik untuk anak kita kelak. Aku mencintaimu, dahulu... sekarang... dan nanti... akan tetap mencintaimu, Leonardo...!''


Satu kecupan pun mendarat di bibir suaminya sebagai tanda betapa tulusnya cinta dan kasih sayang yang dia punya untuk Leonardo, suami tercintanya.

__ADS_1


____________----------_____________


__ADS_2