Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Tersihir


__ADS_3

Amora tersenyum senang, akhirnya ibu dari kekasihnya itu menunjukkan perubahan sikapnya, saat ini, wanita yang biasa dia panggil dengan sebutan Tante itu bersikap lebih hangat, tidak seperti sebelumnya yang selalu menunjukkan sikap cuek dan bahkan terkesan jutek kepadanya.


Berbeda dengan Amora, kini Emill terlihat menunduk, menyembunyikan kelopak matanya yang terlihat mulai berair, dia sudah berusaha tegar dan menyembunyikan rasa sakit dan kesedihan, tapi ternyata, dia tidak kuasa lagi menyembunyikan semua itu.


''Aku permisi ke kamar mandi dulu, Tante, Amora ...'' pamit Emil, berdiri lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Di dalam sana, dia tampak berjongkok dengan bersandar tembok kamar mandi yang terasa begitu dingin menyentuh atasan t-shirt yang dia kenakan, hingga dinginnya itu terasa menyentuh bagian dalam kulitnya.


Rasa dingin yang dia rasakan di bagian punggungnya itu bukanlah apa-apa baginya, dibandingkan dengan rasa dingin dan sakit yang di rasakan di dalam hati seorang Emillia.


Hatinya akan kembali membeku karena dia telah benar-benar kehilangan laki-laki yang selama ini memperlakukan dirinya dengan penuh kehangatan. Sakit, karena mengetahui dan menyaksikan sendiri laki-laki itu kini telah memiliki tambatan hati lain.


Akhirnya, air mata yang sedari tadi memenuhi kelopak matanya, kini berjatuhan juga, bergulir dengan begitu saja membasahi wajah anggunnya yang telah berusaha untuk tegar dan bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa.


'Kenapa rasanya sakit sekali? Bukankah aku sendiri yang menginginkan perpisahan ini? seharusnya aku tidak boleh menangis seperti ini,' ( Batin Emil )


Dia pun mengusap air mata yang masih saja mengalir dengan begitu derasnya, mencoba menahan dan menyudahi tangisnya, namun, usahanya gagal, nyatanya saat ini air mata itu terus saja bergulir bahkan semakin deras, hingga dia pun menutup mulut dengan kedua tangannya, agar suara tangisnya tidak terdengar sampai keluar.


'Aku pasti bisa, aku gak boleh seperti ini, aku kuat, aku pasti bisa melupakan dia dan menganggap dia adikku ...' ( Batin Emill )


Setelah puas menumpahkan semua kesedihannya, dia pun bangkit lalu berdiri dan membasuh mukanya dengan air yang mengalir, agar matanya tidak terlihat sembab.


Tok ... Tok ... Tok ...


''Emil, kamu sedang apa? kamu baik-baik saja, 'kan?'' terdengar suara Tante Adelia memanggil namanya.


''Iya, Tante. Aku gak apa-apa, ko. Perutku mendadak sakit, sebentar lagi juga aku keluar, Tan.'' Jawab Emill sedikit menaikan suaranya.


''Ya sudah kalau begitu, Tante takut kamu kenapa-napa di kamar mandi.''


''Iya, Tan. aku baik-baik saja ko.''


Emillia kembali membasuh wajahnya, berharap bahwa matanya benar-benar tidak terlihat habis menangis.


Ceklek ...


Akhirnya Emil membuka pintu kamar mandi lalu keluar, dia duduk kembali di tempat yang sama, meraih pisau dan meneruskan kegiatannya memotong sayuran, bahkan dia sendiri tidak sadar bahwa Tante Adelia dan juga Amora kini sedang menatap wajahnya dengan tatapan iba.


''Kenapa kalian menatap aku seperti itu?'' tanya Emil akhirnya menyadari bahwa dia sedang di tatap dengan begitu lekatnya.

__ADS_1


''Yakin kamu baik-baik saja?'' tanya Tante Adelia.


''Tentu saja, Tan. Aku baik-baik aja, ko. Tante gak usah khawatir, kalau yang namanya sakit, ya pasti. Hati mana yang tidak merasa sakit saat melihat laki-laki yang baru saja berpisah dengannya menggandeng wanita lain? tapi ya sudahlah, lama-lama rasa sakit ini juga akan hilang dengan sendirinya,'' jawab Emil mencoba tersenyum.


''Kalau kamu mau istirahat? istirahat saja, pekerjaan ini biar Tante sama Amora yang selesaikan,'' pinta Tante Adelia lembut.


''Gak apa-apa ko, Tante. lagian sebentar lagi juga selesai.''


''Aku doakan kamu segera mendapatkan laki-laki baik dan akan mencintai kamu sepenuh hati,'' ucap Amora, mengusap lembut punggung Emillia.


''Amin, Ra. Makasih ...''


Keheningan pun tercipta, mereka kini fokus dengan sayuran yang sedang mereka potong, hanya suara pisau yang menghentak sayuran saja yang terdengar saling bersautan.


''Ehem ... seneng deh ngeliat Mommy akur sama calon mantunya,'' terdengar suara Axel, dia berdiri di pintu dapur.


''Axel, apaan si? sini bantuin Mommy,'' pinta Adelia menghentikan gerakan tangannya.


''Oke, Mom. Apa yang harus aku kerjakan?'' El melangkahkan kakinya dan duduk di samping Amora.


🌹🌹


''Sepertinya, selesai pengajian nanti malam aku langsung pamit pulang,'' ucap Alex.


''Lho, kenapa? Ko mendadak? Kenapa gak nunggu besok aja? bahaya lho berkendaraan malam-malam.''


''Justru besok aku harus ke kantor, pekerjaan aku bisa terbengkalai kalau terlalu lama ditinggalkan.''


''Untung aku ada Ryan, orang yang bisa aku andalkan untuk menghandle semua pekerjaan aku di kantor.''


''Nah, kamu ada Ryan. Sementara aku ...? semenjak Revan berbeda prinsip dengan aku, sekarang aku sudah gak punya orang yang bisa aku andalkan lagi.''


''Hmmm ... begitu ...!'' jawab Leo menganggukkan kepalanya.


''O iya, Leo. Aku mau nanya, apa putra bungsu-mu benar-benar pacaran dengan gadis yang bernama Ayu itu? bukannya dia berpacaran dengan wanita yang bernama Emillia, ya?'' tanya Alex.


''Entahlah, aku gak mau terlalu ikut campur dengan urusan asmara putra-putriku, mereka berhak menentukan pilihan mereka sendiri, apalagi putra bungsu aku itu belum terlalu dewasa, dia sedang dalam masa puber, jadi sudah sewajarnya kalau dia gonta-ganti pacar, apalagi putra aku itu tampan, mirip bapaknya ...'' jawab Leo penuh percaya diri.


''Akh, kamu ini masih saja, dasar sombong.''

__ADS_1


''Ha ... ha ... ha ... emang kenyatannya seperti itu, 'kan?''


''Iya ... iya ... terserah kamu aja deh,'' jawab Alex malas berdebat.


''Tapi sebenarnya, aku lebih suka jika putra bungsuku itu pacaran sama wanita yang bernama Emillia, tapi sayang umur mereka berbeda jauh. Selain anggun, Emillia juga baik dan sopan, memang wajar sih, karena pekerjaan dia memang seorang guru pengajar,'' jelas Leo.


''O ya ...? jadi dia guru? wah ... pantas saja wajahnya anggun sekali, terlihat keibuan dan juga sopan, dia gak cocok sama putramu, cocoknya sama aku, ha ... ha ... ha ...!''


''Ish ... Kamu, sudah tua juga, masih saja suka daun muda,'' Leo tersenyum dengan sedikit meledek.


''Hey, jangan sembarangan, biarpun sudah tua, aku masih bujangan, belum pernah menikah sama sekali,'' jelas Alex.


''O iya, aku sampai lupa, kamu 'kan bujangan tua, ha ... ha ... ha ...''


''Kurang ajar kamu.''


Keduanya pun tertawa bersama, dan Alex sama sekali tidak tersinggung dengan apa yang di katakan oleh sahabatnya itu, karena memang keduanya sudah biasa saling ejek, namun sebenarnya mereka saling menyayangi satu sama lain layaknya sepasang sahabat sejati.


Yang sedang dibicarakan pun terlihat berjalan menghampiri mereka, membawa satu piring gorengan yang terlihat masih hangat, lengkap dengan dua gelas teh manis sebagai minumannya.


''Permisi, Om. Tante menyuruh saya mengantarkan camilan ini, baru saja matang, dan masih hangat lagi,'' ucap Emillia, tersenyum ramah, meletakan nampan yang di bawanya di teras rumah tepat di hadapan Leo dan juga Alex.


''Wah, yang di tunggu akhirnya datang juga, makasih ya, Emil ...'' jawab Leo, tersenyum senang.


''Silahkan di makan Al-'' Leo tidak meneruskan ucapannya.


Leo nampak menggelangkan kepalanya, saat melihat Alex yang terlihat sedang menatap wajah Emillia dengan tatapan penuh rasa kagum, wajah anggun Emill seolah telah menyihir pria bernama lengkap Alex Will tersebut, hingga mata Alex di buat tidak berkedip sama sekali saat menatap wajah cantik nan anggun seorang Emillia.


''Hey ...'' teriak Leo, membuat Alex tersenyum, dan menyudahi tatapan matanya.


''Heuh ... apa ...?'' jawab Alex gugup. Lalu dia kembali menatap Emillia yang kini mulai berjalan masuk kembali ke dalam rumah.


''Kamu ini, kayak gak pernah liat cewek cantik aja,'' ledek Leo terkekeh.


''Akh ... entahlah, aku seperti tersihir oleh keanggunan wanita itu. Tapi, Leo. Putramu benar-benar sudah putus dari dia 'kan?''


''Memangnya kenapa? apa jangan-jangan kamu tertarik sama Emil, ya ...''


''Ha ... ha ... ha ...'' jawab Alex menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali.

__ADS_1


______________---------_______________


__ADS_2