
Lucky berjalan dengan sedikit mengantuk sebenarnya, dia memasukan satu lengannya ke dalam saku celana pendek yang dia kenakan, mulutnya nampak sedikit menguap dengan mata yang terlihat kendur, menahan rasa kantuk.
Akhirnya dia memasuki halaman rumah sang nenek, halaman yang tidak begitu luas namun terlihat rindang dengan beberapa tanaman hias dan satu buah pohon mangga bertengger di tengah-tengahnya.
Awalnya dia hanya menunduk menyembunyikan rasa kantuknya, namun, perlahan dia mulai membuka mata, saat mendengar sang Kaka memanggil nenek kesayangannya.
''Nenek, kami datang ...'' teriak El, dengan tersenyum senang.
''Kalian sudah datang ...'' jawab sang nenek berjalan menghampiri dengan tersenyum sumringah.
Bukannya menyambut sang nenek, kini Lucky malah berdiri mematung, merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini, di depan sana, nampak seorang gadis berdiri di depan pintu, menatap ke arah dirinya dengan tatapan mata tajam seperti merasa tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya sekarang.
''Emillia ...?'' lirih Lucky mengehentikan langkah kakinya.
Ada rasa senang, namun, ada rasa sedih juga di hati seorang Lucky sebenarnya. Senang, karena akhirnya bisa bertemu dengan wanita yang di cintai-nya, sementara hatinya pun merasa sedih, karena niatnya untuk melupakan wanita itu akhirnya akan gagal total.
Berbagai pertanyaan pun kian menyelimuti hati Lucky saat ini, mengapa Emillia bisa berada di rumah sang nenek? apakah dia tinggal di desa ini juga? tapi, dari sekian banyaknya rumah yang ada di desa itu, kenapa dia harus tinggal di rumah Nenek Sarah? Apakah ini takdir, seperti yang di bicarakan oleh sang ibu waktu itu? Batin Lucky penuh tanda tanya.
''Lucky ...? kenapa bengong? apa kamu gak kangen sama Nenek ...?'' sapa Nenek membuyarkan lamunan Lucky.
''Eu ... Apa, Nek. Nggak ko, aku kangen ... kangen banget sama Nenek, itu sebabnya aku datang kemari,'' jawab Lucky, kemudian memeluk tubuh renta sang Nenek.
''Cucu kesayangan Nenek, yang tampan yang pintar, Nenek kangen banget sama kamu ...'' lirih Nenek mengusap punggung cucu kesayangannya.
Sementara mata Lucky masih tertuju kepada Emillia, meskipun dia sedang berada di dalam dekapan sang Nenek.
''Emillia ...?'' sapa Axel, menghampiri.
''Eh, Abang Axel, gak nyangka kita bisa bertemu di sini ...'' jawab Emil gugup.
Amora pun nampak tersenyum senang menghampiri Emil.
''Emill, sedang apa di sini? apa kamu tidak mengajar lagi di sekolah Lucky ...?'' tanya Amora, mengulurkan tangannya lalu bersalaman dan saling menempelkan pipi kanan dan kiri masing-masing.
''Dia mengajar di sekolah yang ada di desa ini, kebetulan nak Emil sedang mencari tempat tinggal, karena Nenek tinggal sendiri, Nenek minta saja dia tinggal di sini,'' jawab Nenek mewakili Emil menjawab.
__ADS_1
''Oh, begitu. Kebetulan sekali, apa ini takdir ...?'' ledek El terkekeh.
''Bukankah Emil itu teman kalian juga? Nenek pernah bertemu dia saat acara pernikahan Al beberapa waktu yang lalu ...''
''Iya, Nek. Dia memang teman kami, lebih tepatnya teman dekat cucu Nenek yang paling tampan itu ...'' jawab El sedikit meledek menunjuk ke arah Lucky
''Apa kalian berdua pacaran ...?'' tanya Nenek Sarah, menatap ke arah Emillia dan sang cucu secara bergantian.
''Nggak, Nek. Kami gak pacaran ...'' jawab Emil dan Lucky secara bersamaan, membuat Amora dan juga Axel terkekeh menertawakan.
''Oh begitu, ya sudah kalian masuk, yu. Kalian pasti capek seharian di jalan, mandi, makan, setelah itu istirahat, kebetulan Nenek masak banyak makanan untuk kalian ...''
''Baik, Nek,'' jawab ketiganya serempak.
Lucky berjalan begitu saja melewati Emilia, tanpa menoleh apalagi menyapa, membuat Emil kecewa sebenarnya.
''Nek, aku langsung tidur aja, ya. Aku ngantuk banget, nih ...'' pinta Lucky berbohong, karena sebetulnya dia hanya ingin menghindari mantan kekasihnya.
''Nggak mandi dulu, Dek ...?'' tanya Axel.
''Ya sudah, sekalian bawa koper kita ke kamar,'' pinta El, menunjuk koper yang tadi dia bawa sendiri.
Tanpa menjawab, Lucky pun meraih lalu menarik koper tersebut. Sementara Emillia, dia hanya berdiri mematung, menyaksikan sikap Lucky yang begitu dingin kepadanya membuat hati Emil merasa kecewa sebenarnya, namun, dia akan mencoba menerima seperti apapun sikap yang ditunjukkan oleh mantan kekasihnya tersebut, karena dirinya memang bersalah telah meninggalkan Lucky begitu saja.
''Amora, kamu tidur di kamar Emil, ya ...'' pinta Nenek, menatap Amora.
''Baik, Nek. Makasih ...'' jawab Amora, ramah.
''Mari, aku antar ke kamar,'' ucap Emil berdiri yang langsung di jawab dengan anggukan oleh Amora.
Keduanya pun berjalan menuju kamar yang bersebelahan dengan kamar yang ditempati oleh Lucky dan Axel.
Di dalam kamar.
''Ada apa dengan kalian ...?'' tanya Amora duduk di tepi ranjang besi.
__ADS_1
''Siapa ...?''
''Kamu 'lah, siapa lagi ...?''
''Oh, maksudnya aku sama Lucky ...?''
Amora mengangguk.
''Kami sudah putus, beberapa bulan yang lalu ...'' jawab Emil, duduk di samping Amora, menunduk merasa sedih.
''Putus ...?''
Emil mengangguk sedih.
''Lho, kenapa? bukannya kalian saling mencintai ...? dan sepertinya kalian tidak ada masalah apapun selama ini ...?'' tanya Amora bingung.
''Aku yang bersikukuh memutuskan dia, meski dia menolak, aku tetap pada pendirian aku untuk berpisah dengan dia, aku merasa sampai kapanpun hubungan kita gak akan pernah berhasil, ada tembok besar yang menghalangi cinta kita,'' lirih Emil.
''Apa karena masalah umur ...?''
Emil mengangguk.
''Ya ampun, Emillia. Umur itu jangan dijadikan penghalang untuk cinta kalian, kamu tahu di luaran sana banyak wanita dewasa menikah dengan anak muda, bahkan Nenek yang sudah tua renta pun rela menikahi remaja karena cinta ...'' jawab Amora membuat Emil sedikit mengangkat kepalanya.
''Tapi kami berbeda, Ra. Masa depan Lucky masih panjang, dan dia dari keluarga berada, sekarang dia baru akan masuk Sekolah Menengah Atas, setelah lulus dia akan berkuliah, butuh waktu berapa tahun aku harus menunggu dia? sementara umurku tiap hari akan semakin menua, dan jadi perawan tua nantinya,'' jawab Emil menahan rasa getir.
''Sekarang, umurku saja sudah 26 tahun, sementara dia masih 17 tahun, coba bayangkan sama kamu, aku harus menunggu sekitar 10 tahun untuk menunggu dia, apa selama 10 tahun itu hubungan kami akan baik-baik saja, kita akan putus juga pada akhirnya.''
''Daripada menunggu nanti dan kami akan merasa semakin sakit nantinya, lebih baik selesai dari sekarang, sebelum perasaan itu semakin dalam,'' Emillia menjelaskan panjang lebar, membuat Amora terdiam, karena semua yang di ucapkan Emil memanglah masuk akal.
Emil kembali menunduk, hatinya merasa begitu sakit sebenarnya, dia begitu mencintai pemuda bernama lengkap Lucky Pratama itu, tapi dia sama sekali tidak bisa melanjutkan hubungan mereka karena keadaan yang memang tidak memungkinkan.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang telinga yang mendengar semua pembicaraan mereka berdua, dia berdiri di balik pintu yang memang dalam terbuka, menunduk dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.
Ya ... Lucky sedari tadi memang berada di sana. Mendengarkan dengan seksama apa yang kedua gadis itu bicarakan.
__ADS_1
___________-------------______________