
Plak ...
Revan menampar keras pipi Gabriel.
''Dasar bodoh, katanya gak bakalan gagal, nyatanya, si brengsek itu masih hidup, gak mati ...!" Revan murka, mengetahui Leonardo selamat.
"Itu di luar kendali saya, bos. Saya sudah menembak dia, tapi siapa sangka kalau tembakan saya meleset, hanya mengenai tangan'nya saja, lagi pula, kemampuan bela diri pria bernama Leonardo itu sungguh luar biasa, aku di buat kewalahan dalam menghadapinya ..." Gabriel beralasan.
"Jadi kamu sempat bertarung dengan dia?"
Gabriel menganggukan kepalanya.
"Apa dia melihat wajahmu?"
"Tidak, bos. Wajah saya masih aman, karena saya masih mengenakan masker."
"Syukurlah ...! kalau wajahmu sampai terlihat, bisa gawat. Dia itu bukan orang sembarangan, dia mantan bos mafia, kalau sampai dia mengerahkan seluruh anak buahnya dan kamu sampai tertangkap, kamu bisa di telan bulat-bulat sama dia ...!''
Deg ...
Jantung Gabriel tiba-tiba berdetak kencang, bagaimana jika orang yang bernama Leonardo itu sampai tahu bahwa yang menembak dia adalah kekasih dari putrinya? Apa yang akan terjadi nantinya, jika dia juga sampai tahu bahwa dirinya telah merenggut kesucian Axela?
Sudah dapat di pastikan bahwa dirinya akan di gantung hidup-hidup oleh mantan bos mafia tersebut, entah mengapa ada rasa takut yang tiba-tiba terselip di lubuk hati Gabriel kini.
''Apa yang akan bos lakukan sekarang?'' tanya Briel menyudahi lamunan'nya.
''Entahlah, aku akan memikirkan'nya, sepertinya kita harus tenang dulu sekarang, jangan membuat gerakan yang mencurigakan terlebih dahulu, kamu juga, jangan sampai ada yang tahu bahwa kamulah yang telah menembak si brengsek itu, mengerti ...?''
''Baik, bos. Saya mengerti ...! O iya, bos. Boleh saya meminta sesuatu?''
''Katakan saja ...!''
''Saya ingin menagih apa yang pernah saya bicarakan dengan bos waktu itu, boleh ...?''
__ADS_1
''Yang mana ...?''
Revan terdiam sejenak.
''Apa maksud'mu, permintaanmu yang waktu itu, kau ingin hidup normal sama dengan orang lain, betul ...?''
''Betul, bos.''
''Hmm ...! Untuk saat ini kau boleh melakukannya, karena memang belum ada tugas lain yang akan aku perintahkan, tapi ingat, kegagalan tugas'mu kali ini, aku akan menganggap hutang, kau harus membayar'nya nanti, saat aku kembali memberi perintah, jika tidak, kau tidak akan pernah hidup tenang, apalagi bahagia dengan kehidupan yang engkau jalankan bersama kekasihmu itu, mengerti ...?''
''Baik, bos. Aku mengerti, kalau begitu aku permisi sekarang,'' jawab Briel dengan tersenyum, lalu berbalik dan keluar dari dalam rumah Revan.
***
''Mom, aku pulang dulu ya? aku mau mandi dan istrirahat sebentar di rumah, badan aku lelah sekali,'' pinta Axela, berdiri di samping ranjang bersama sang ibu.
''Baiklah, kamu pulang saja dulu, papi dan Axel biar Mommy dan Lucky yang jaga, kamu kan baru sembuh juga, jadi kamu istirahat saja dulu di rumah, ya?''
''Tapi mom, boleh aku meminta Amora menemani aku? jujur, aku masih belum berani kalau harus sendirian di rumah.''
''Makasih, pap. Aku pulang dulu ya,'' Al menyalami, kedua orangtuanya.
''O ya, sayang. Kamu gak usah takut, papi sudah menyuruh om Ryan untuk mempekerjakan penjaga di rumah kita, jadi mulai malam ini, di setiap sudut halaman rumah kita akan selalu ada yang menjaga, dengan begitu, jika ada orang yang mencurigakan, akan langsung ketahuan,'' jelas Leo.
''Serius, pap ...?''
Leo menganggukan kepalanya.
''Kaka, mau aku antar?'' Lucky menawarkan.
''Gak usah, dek. Lagian Kaka, bawa mobil Abang El, ko ...!''
''Ya sudah, Kaka hati-hati di jalan, ya. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku, oke ...''
__ADS_1
''Iya, Dek. Kaka pulang dulu ya ...!''
Al pun keluar dari dalam kamar, berjalan gontai, dengan masih mengenakan pakaian tidur yang semalam, karena terburu-buru membuatnya tidak sempat mengganti pakaian, alhasil baju tidur berwarna ungu pun masih dia kenakan.
Saat sedang berjalan di lorong Rumah Sakit, tiba-tiba saja Al melihat seseorang yang sedang memperhatikan dirinya dari arah kejauhan.
Al pun melambatkan langkahnya, seraya menatap ke sekeliling yang terlihat sepi, tanpa seorang pun, merasa ketakutan, kemudian dia lain berlari menyusuri lorong Rumah Sakit dengan wajah pucat dan perasaan yang sedikit ketakutan.
Dia pun meraih ponsel dari dalam saku baju tidurnya hendak menelpon, namun karena terlalu panik dan gugup, ponsel yang hendak di pegang'nya pun jatuh ke atas lantai.
Dengan tubuh yang bergetar dan mata yang masih melihat ke sekeliling, Axela mencoba meraih ponsel yang kini tergeletak tepat di bawah kakinya.
Namun, tiba-tiba saja terdengar suara langkah kaki seseorang yang seperti berjalan semakin mendekat dari arah belakang, suara sepatunya yang terdengar begitu teratur membuat suasana terasa semakin mencekam, di tambah malam yang mulai larut, membuat hati Axela semakin terasa berdebar dengan keringat yang kini bercucuran membasahi pelipis wajahnya.
Tuk
Tuk
Tuk
Suara langkah kaki, berjalan semakin mendekat, bahkan kini suara tersebut terhenti, dan Axela merasa bahwa ada seseorang yang saat ini berdiri tepat di belakang tubuhnya.
Dengan jantung yang hampir meledak karena ketakutan, Al pun mencoba memberanikan diri untuk menoleh ke arah belakang.
Kemudian ...
''Aaa ...!''
Axela berteriak kencang.
_____________------------_____________
Promosi
__ADS_1