
Entah apa yang merasuki hati seorang Adelia, dia tiba-tiba saja memalingkan wajah, saat Amora hendak mengapa dirinya, seperti'nya, rasa benci Adelia kepada pria bernama Alex itu membuat hatinya teracuni.
Amora pun merasa terkejut sekaligus heran, karena Tante Adelia yang selama ini selalu ramah dan juga baik terhadap dirinya tiba-tiba saja berubah.
Amora pun memundurkan langkahnya, dengan wajah yang sedikit memerah, namun, dia tidak ingin berburuk sangka, siapa tahu Tante Adelia seperti ini, karena hatinya sedang dalam keadaan gundah, karena baru saja mengalami kejadian buruk.
Dia pun mencoba menenangkan dan menghibur diri sendiri dengan sedikit tersenyum meski senyum yang memang di paksakan.
Ternyata Axela pun menyadari perubahan sikap dari ibundanya, merasa kasian kepada Amora, akhirnya, dia pun mengajak Amora untuk mengunjungi kembaran'nya yang saat ini sudah di bawa ke ruangan rawat inap.
''Ra, ikut gue, yu ...!'' ajak Axela.
Amora mengangguk tanpa bertanya terlebih dahulu. Dia pun hanya mengikuti Axela dari arah belakang, dengan langkah yang sedikit gontai.
''Buruam, Amora. Lelet banget si ...?" Al menghentikan langkahnya agar bisa berjalan beriringan dengan sahabatnya tersebut.
Gadis itu pun mempercepat gerakan langkahnya, hingga akhirnya keduanya pun berjalan beriringan, wajah Amora terlihat sedikit muram, karena jujur saja, penolakan Tante Adelia, sedikit melukai hati'nya.
"Maafin Nyokap gue, tadi dia bersikap seperti itu sama Lo, Ra."
"Gak apa-apa, mungkin perasaan Tante memang sedang tidak enak, mangkanya dia bersikap seperti itu," jawab Amora mencoba menyembunyikan rasa kecewanya.
"Makasih, Lo sudah mau ngertiin keadaan Nyokap gue, kami semua terpukul karena keadaan papi."
"Semoga om Leo cepat pulih, ya. Gue juga ikut sedih, dan semoga pelakunya cepat tertangkap."
"Makasih, Ra ...!"
"O ya, dari tadi gue gak liat si El ...? dia dimana ...?''
__ADS_1
''Ini kita mau ke sana?'' jawab Al mempercepat langkahnya.
Amora mengerutkan kening, ke sana? maksudnya kemana? apa El juga terluka? perasaan'nya mendadak dilanda rasa cemas.
Axela pun menghentikan menghentikan langkahnya, saat keduanya tiba di sebuah ruangan rawat inap VVIP, perasaan Amora pun semakin tidak karuan saat sahabat'nya itu membuka pintu ruangan dan Amora melihat sang kekasih berbaring di atas ranjang di dalamnya.
Dia pun segera masuk ke dalamnya dan menghampiri sang kekasih dengan sedikit berlari, berdiri tepat di samping ranjang, dengan mata yang sudah terlihat berkaca-kaca, menatap wajah Axel yang sedang dalam keadaan terpejam.
''Axel ...? kamu kenapa? apa kamu juga terluka?'' tanya Amora menunduk mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah sang kekasih.
''Kamu di sini, sayang?'' El pun membuka mata.
''Apanya yang sakit, heuh? Di bagian mana kamu kamu terluka? sakit tidak? ya ampun, sayang ...?'' Amora pun mulai menitikkan air mata, meraba setiap bagian tubuh kekasihnya, mencari Luka yang mungkin saja terdapat di tubuh kekasihnya tersebut.
''Tidak, sayang. Aku sama sekali tidak terluka, tubuhku hanya merasa lemas, karena tadi aku sudah mendonorkan darah aku buat papi, darah yang aku donor'kan lumayan banyak, makannya aku perlu mendapatkan perawatan dan beristirahat total,'' El sedikit tersenyum.
''Benarkah ...? Syukurlah ...! aku pikir kamu tertembak seperti om Leo, hiks hiks hiks ...!'' jawab Amora memeluk tubuh kekasihnya yang dalam keadaan berbaring seraya menangis sesenggukan.
''Tentu saja? mana mungkin aku tidak khawatir melihat kamu seperti ini ...?'' Amora melepaskan pelukannya.
El mengusap buliran air mata yang membasahi pipi sang kekasih seraya tersenyum, menatap wajah cantik Amora dengan tatapan mata sayu.
''Aku baik-baik saja, sayang. Makasih karena sudah mengkhawatirkan aku. O iya, dari mana kamu tahu aku ada di sini?''
''Daddy yang mengajakku kemari, ternyata om Leo adalah sahabat lamanya Daddy.''
''O ya ...? wah ... sungguh di luar dugaan, ternyata orang tua kita bersahabat.''
Kemudian Axel mengalihkan pandangannya kepada Axela kembarannya.
__ADS_1
''Gimana keadaan papi, Al? apa dia sudah siuman?''
''Kata Dokter keadaan papi sudah stabil, tinggal menunggu siuman saja.''
''Syukurlah ...! tadi aku sempat lihat papi di dalam, dan aku sungguh kasian sama dia, aku takut dia tidak bangun lagi,'' El kembali membayangkan saat dirinya berada di ruang operasi bersama sang ayah, dan mengingat hal tersebut membuat hati El merasa sakit.
''Dia baik-baik saja, El. Berkat kamu ...! kamu pahlawan yang menyelamatkan nyawa papi, makasih, ya ...!'' Al menatap wajah kembarannya.
''Sudah kewajiban aku sebagai anak sulung, Al. Dan aku senang bisa menolong papi, aku sama sekali tidak merasa keberatan jika seluruh darahku harus di kuras habis untuk menyelamatkan nyawa papi,'' El mulai berkaca-kaca, ketegarannya pun mulai goyah sekarang.
Al menganggukan kepala, dengan mata yang juga mulai berkaca-kaca, merasa terharu dengan ucapan dari saudara kembarnya, sekaligus merasa sedih mengingat kondisi sang ayah.
Ketiga'nya pun tiba-tiba saja terdiam, larut dalam lamunan masing-masing.
Axel, dia kembali membayangkan sang ayah, terbaring lemah dengan berbagai alat medis yang di pasang di tubuhnya, membuat perasaan'nya tercabik-cabik sebenarnya.
Axela, dia pun merasakan hal yang sama, memikirkan apa yang baru saja terjadi dengan keluarganya, mengingat sang ayah dalam keadaan terluka membuat hatinya hancur, padahal, kemarin mereka baru saja makan malam bersama dan tertawa bersama, merasakan kebahagiaan yang tidak terkira, namun sekarang dia dan keluarganya harus merasakan kesedihan yang teramat dalam.
Sementara Amora, gadis itu memikirkan Tante Adelia yang tiba-tiba saja bersikap aneh kepadanya, dan hal itu membuat hati Amora terusik sebenarnya, apa yang terjadi dengan Tante Adelia? ingin mengabaikan, tapi hatinya tidak bisa, hal itu terus mengusik pikirannya.
Lamunan mereka pun seketika buyar, saat pintu ruangan di buka, perawat dan Dokter masuk ke dalam ruangan dengan mendorong sebuah ranjang, yang sudah terdapat Leonardo di atasnya, dalam keadaan terpejam, di ikuti oleh Adelia, Alex, Ryan beserta sang istri, tak lupa juga Lucky yang mengikuti di urutan paling belakang.
Pandangan Al dan El tertuju kepada sang ayah yang kini masih dalam keadaan terpejam, dengan jarum infus dan alat bantu pernafasan yang terpasang di wajahnya.
''Papi ...?'' lirih El semakin berkaca-kaca, tatkala melihat wajah sang ayah yang selalu terlihat ceria, kini terbaring lemah tidak berdaya.
___________-----------__________
Promosi
__ADS_1