
''Maaf, karena aku mengumpulkan kalian di sini setelah sekian lama,'' ucap Leo, berdiri di depan anak buahnya, dengan Alex yang berdiri tepat di sampingnya, serta Ryan di sisi lainnya.
Anak buah Leo yang berjumlah lebih dari 30 orang itu, nampak menatap ke arah Alex dengan tatapan heran, karena setahu mereka, pria itu adalah musuh dari bosnya dahulu, bahkan tidak sedikit dari mereka yang saling berbisik menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
''Kenapa kalian melihat aku seperti itu?'' tanya Alex, merasa tidak nyaman.
''O iya ... Kalian pasti heran melihat dia, kan?''
Semua anak buahnya mengangguk penasaran.
''Aku memang sudah berdamai dengan dia, dan dia akan menjadi bos kalian juga, hormati dia seperti kalian menghormati aku, mengerti ...?'' ucap Leo dengan suara lantang.
''Baik, bos ...'' jawab mereka semua secara serentak.
''Baiklah, sekarang aku akan menjelaskan kepada kalian tentang apa tujuan aku kembali mengaktifkan organisasi kita ini, dengarkan baik-baik apa yang akan aku katakan ini.''
''Mulai saat ini, aku akan kembali memimpin organisasi ini, kita akan menghadapi kelompok mafia besar, bukan bertarung tanpa alasan, tapi anggap saja kita akan menumpas kejahatan kelas kakap yang sudah mengganggu ketenangan negara.''
''Pimpinan kelompok itu bernama Revan, dan dia bukan orang sembarang, jadi kalian harus mempersiapkan fisik dan mental kalian, dan jangan khawatir, aku akan menanggung semua kebutuhan kalian selama berada di sini, jadi kalian tidak akan kelaparan dan masih tetap bisa menafkahi keluarga kalian juga, MENGERTI ...?'' Teriak Leo, suaranya menggema di seisi ruangan.
''MENGERTI, BOS ...?'' jawab semuanya secara serentak.
''Ryan, bagikan ini kepada mereka semua ...'' Leo menyerahkan tas berisi gepokan uang untuk di bagikan kepada seluruh anak buahnya.
''Baik, bos ...''
Ryan pun segera meraih tas tersebut, dan tanpa basa basi, Ryan segera menerima dan langsung membagikannya kepada semua yang ada di sana, masing-masing orang mendapatkan satu gepok, tidak ada satupun yang terlewatkan.
Setelah selesai, dia pun kembali berdiri di tempat semula.
''Apa rencana kita sekarang, bos?'' tanya Ryan, sesaat setelah dia berdiri di sana.
''Saat ini, kalian fokus saja dalam berlatih, tingkatkan kemampuan kalian, aku yakin kalian sudah lama tidak menggunakan kemampuan bertarung kalian, jadi, latih kembali kemampuan kalian, jangan sampai salah satu dari kalian ada yang mati, aku tidak mau kalau sampai itu terjadi.''
''Baik, bos.''
Leo pun menatap satu-persatu anak buahnya, meraka masih saja setia dan langsung datang saat dirinya meminta, kebanyakan dari mereka adalah anak buah yang sama dengan lima belas tahun yang lalu, mereka masih tetap setia dan menunjukan royalitasnya kepada Leonardo, sebagai pemimpin mereka.
🌹🌹
__ADS_1
''Apa ...? apa maksud kalian? bukankah kalian bilang, kalau mayatnya susah di buang ke laut? bagaimana sekarang tiba-tiba dia bisa selamat?'' Revan terlihat geram, menatap tiga orang anak buahnya dengan tatapan tajam.
''Eu ... Anu, bos. Kami juga tidak tahu apa yang terjadi, kami jelas-jelas telah membuang dia ke laut, apa mungkin dia di selamatkan oleh nelayan?'' jawab salah satu anak buahnya.
Plak
Buk
Revan menampar dan menendang ketiga anak buahnya, wajahnya memerah dengan rahang yang di keras'kan, matanya pun terlihat menatap tajam, merasakan kemarahan yang teramat besar.
''Bodoh ... bodoh ... bodoh ...! Kalau dia di buang ke laut, mana mungkin dia akan selamat, kalian sungguh tidak berguna ...!''
Plak
Satu tamparan kembali mendarat di pipi anak buahnya yang tadi baru saja bicara.
''Kami minta maaf, bos ...''
''Maaf ...? maaf kalian akan aku terima kalau kalian telah benar-benar menyingkirkan dia, aku tidak mau tahu, pokoknya, kalian harus segera menyingkirkan dia, kalau tidak, aku akan benar-benar membunuh kalian semua, MENGERTI ...?''
''Baik, bos. Kami mengerti ...''
''Ba-baik, bos ...!''
Ketiga anak buahnya pun segera berlarian keluar dari dalam ruangan itu, meninggalkan bos mereka yang sekarang masih berdiri dengan wajah dan perasaan kesal.
''Dasar tidak berguna, aku harus segera menyingkirkan dia, sebelum dia membocorkan semua informasi tentang aku ke polisi,'' ucap Revan berbicara sendiri.
🌹🌹
Gabriel sudah di pindahkan ke ruangan rawat inap, ruangan VVIP yang sengaja di pesan oleh Leo, sebenarnya dia ingin menolak dan memilih untuk di rawat di kelas satu saja.
''Aku melakukan ini bukan untukmu, tapi demi putriku, aku yakin pasti dia akan bolak balik mengunjungi kamu, jadi aku gak ingin kalau dia sampai merasa terganggu kalau kamu satu ruangan dengan pasien lain.''
Itulah jawaban yang dia dapatkan dari mulut Leonardo, akhirnya diapun menerima dengan perasaan terpaksa, karena memang yang di katakan ayah dari Axela itu benar adanya.
Kekasihnya itu pasti akan sering mengunjungi dia, apalagi keadaan Axela sudah lebih baikan sekarang, dan Dokter pun sudah mengijinkan dia pulang, tentu saja, Al pasti akan dengan setia menemani dirinya sampai dia benar-benar sembuh.
Briel menatap sekeliling ruangan, ruangan luas, lengkap dengan isinya, kamarnya ini, lebih terlihat seperti kamar hotel yang nyaman dan tentu saja dengan pelayanan yang memuaskan.
__ADS_1
Ceklek
Pintu ruangan pun di buka, Al masuk kedalamnya, dia sudah tidak lagi mengenakan pakaian pasien, wajahnya pun sudah terlihat segar, tidak pucat lagi seperti terakhir kali mereka bertemu dia ruang ICU.
Gabriel pun menatap wajah cantik sang kekasih yang saat ini berjalan mendekat, terlihat begitu cantik dan anggun dengan dress sederhana pendek selutut dengan rambut yang dibiarkan tergerai begitu saja.
Al berdiri tepat di samping ranjang, tersenyum dan menatap wajah kekasihnya.
''Gimana keadaan kamu? apa masih ada yang sakit?" tanya Al, menempelkan punggung tangannya di kening Briel.
Briel menggelangkan kepalanya.
"Apa lukamu sudah mengering? lebamnya susah sedikit berkurang ..."
Briel kembali menggelengkan kepalanya dengan tersenyum.
"Luka bekas operasinya gimana? apa masih terasa sakit ...?"
Briel kembali menggelengkan kepalanya, menatap semakin lekat wajah kekasihnya itu.
"Sayang, aku sudah baik-baik saja sekarang, berkat kamu yang setiap hari menyuntikan kata semangat, dan tentu saja, itu adalah obat yang paling mujarab dibandingkan obat yang diberikan oleh Dokter,'' jawab Briel, meraih telapak tangan lalu menggenggamnya erat.
''Bisa aja kamu, kondisi kamu lagi kayak gini aja masih bisa menggombal,'' jawab Al, tersenyum.
''Sungguh, aku gak bohong, kamu adalah obat penyembuh paling mujarab, buktinya, aku udah baik-baik aja sekarang, dan semuanya berkat kamu, Al. Aku sungguh berterima kasih, karena kamu masih sudi memaafkan aku, setelah apa yang sudah aku lakukan.''
''Demi ini, aku memaafkan kamu demi bayi kita, aku tidak ingin dia lahir tanpa kehadiran seorang ayah,'' Al mengusap perutnya.
''Aku janji, sebelum perutmu semakin membesar, aku akan segera menikahi kamu, sayang.'' Briel menempelkan tangannya di perut Al lalu mengusapnya pelan.
Al mengangguk masih dengan tersenyum.
Tidak lama kemudian, Dokter pun masuk kedalam ruangan, dia mengenakan masker dan dan jaket putih layaknya seorang Dokter. Al pun sedikit melipir, memberi ruang kepada Dokter tersebut, yang sepertinya akan menyuntikan sesuatu ke dalam labu infus.
Namun ada sesuatu yang janggal, saat Al menatap ke arah bawah, Dokter tersebut, dia memakai sepatu kets berwarna putih usang, yang telah kotor dengan lumpur.
Sontak saja, hal tersebut membuat Axela melangkahkan kakinya kembali dan mendekati Dokter tersebut, dengan perasaan curiga, dia meraih pergelangan tangan sang Dokter yang hampir saja menancapkan suntikan itu kedalam labu infus.
______________-----------______________
__ADS_1
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Readers, terima kasih ❤️❤️❤️