Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Bercerai.


__ADS_3

Sudah hampir dua Minggu Ayu tinggal di rumah keluarga besar Leonardo. Kesehatannya semakin membaik kini dan rasa candu yang sempat kambuh pun tidak pernah datang lagi.


Rasa haus yang selama ini terasa mencekik perlahan menghilang, seiiring dengan kalimat positif yang diajarkan oleh Lucky yang selalu dia ucapkan dan dia tanamkan di dalam hatinya yang paling dalam.


Keluarga besar Leo pun selalu memperlakukan Ayu dengan baik layaknya saudara sendiri, membuat Ayu benar-benar merasa seperti berada di tengah-tengah keluarga kandungnya sendiri.


Sementara itu, Revan sang ayah semakin merasa terpuruk, kehidupannya pun terasa hampa dan bahkan tidak memiliki semangat hidup lagi. Rasa rindu dan bersalahnya kepada sang putri benar-benar membuat Revan semakin tersiksa.


Hari ini, Revan berencana untuk mengunjungi putrinya di kediaman sahabatnya itu, karena sepertinya dia sudah tidak tahan lagi untuk memendam rasa rindu yang semakin menyiksa.


Sebelum dia berkunjung ke sana, Revan sengaja menghubungi Leo terlebih dahulu agar dia tidak merasa terkejut dengan kedatangannya nanti.


Revan nampak sudah berpakaian rapi, bersama Topan assisten pribadinya dia akan segera berangkat ke sana, namun, tiba-tiba saja ada seorang wanita yang datang ke rumah, membuat Revan terpaksa menunda kepergiannya.


Ya ... sang istri sengaja datang ke rumah Revan dengan membawa selembar surat perceraian, dia sudah membulatkan tekadnya untuk benar-benar berpisah dengan laki-laki bernama Revan tersebut.


Dengan berat hati, Revan pun menandatangani surat tersebut, karena dirinya memang tidak layak untuk dimaafkan.


''Aku harap kamu hidup bahagia,'' ucap Revan menatap kepergian mantan istrinya.


Revan duduk di ruang tamu, termenung sendiri memikirkan kehidupannya yang kini merasa hancur dan berantakan.


''Bos, bisa kita pergi sekarang? Leonardo pasti sedang menunggu kedatangan bos,'' ucap Topan mengingatkan.


''Hmm ... Tunggu sebentar, tubuhku lemas sekali,'' jawab Revan memejamkan mata.


''Baiklah. Apa perlu kita membatalkan kedatangan kita ke sana?''


''Nggak usah, aku hanya ingin menenangkan diri sebentar lagi, setengah jam aja, biarkan aku merasa tenang dulu. Ternyata sakit juga diceraikan. Meski dulu aku menginginkan hal itu, tapi nyatanya rasanya sakit sekali,'' jawab Revan mengusap wajahnya kasar.


''Sabar, Bos. Mungkin ini memang Takdir bos, aku hanya bisa berharap bos bisa menemukan wanita lain dan hidup bahagia,'' ucap Topan menghibur.


''Ha ... ha ... ha ... Kamu ini, aku sudah tua, mana ada wanita yang mau lagi sama aku.''


''Bisa aja, 'kan? apa bos lupa, berapa umur Alex saat dia menikah kemarin?''


''Hmm ... benar juga. Tapi kayaknya untuk saat ini aku gak akan memikirkan hal itu dulu, aku ingin fokus pada kesehatan Ayu terlebih dahulu, aku berharap ingatannya gak akan pernah kembali agar dia tidak mengingat betapa kejamnya aku dahulu.''


''Mudah-mudahan saja, Bos.''

__ADS_1


''Ya sudah, kita berangkat ke sana sekarang, aku sudah gak sabar ingin segera bertemu sama dia,'' pinta Revan berdiri.


Keduanya pun berjalan keluar dari dalam rumah.


🍀🍀


Ayu yang merasa senang karena akan bertemu dengan laki-laki yang merupakan ayah kandungnya terlihat begitu bersemangat, dia bahkan berdandan cantik untuk menyambut kedatangan ayahnya tersebut.


Meskipun ingatan tentang sang ayah seluruhnya menghilang dari dalam otaknya, tetap saja Ayu merasa sangat bahagia dan akan mencoba untuk mengingat seperti apa ayahnya tersebut.


Ceklek ...


Lucky membuka pintu kamar dan masuk ke dalamnya.


''Hmm ... kamu cantik banget, sayang.'' Sapa Lucky berjalan mendekat.


''O ya ...? aku gak sabar ingin segera bertemu dengan ayah,'' jawab Ayu.


Wajahnya terlihat begitu cantik berbalut dress berwarna hitam, rambutnya nampak tergerai panjang dengan jepit rambut berbentuk hati di sisi kanan kepalanya.


''Hmm ... baiklah, sayang ...''


Sebenarnya ada rasa khawatir yang kini terselip di dalam hati Lucky, dia takut jika tiba-tiba ingatan Ayu kembali saat bertemu ayahnya nanti.


''Sayang, ko kamu diam aja sih?'' tanya Ayu membuyarkan lamunan Lucky.


''Hmm ... nggak ko, aku gak apa-apa,'' jawab Lucky mengusap kasar wajahnya.


Raut wajah khawatir terlihat begitu jelas dari wajah tampan Lucky. Sangat berbeda dengan Ayu yang terlihat begitu bahagia, wajah Lucky kini menyembunyikan kegundahan.


''Kita keluar sekarang?'' tanya Ayu tidak sabar.


''Oke ...!'' Lucky mengulurkan tangannya, dan langsung di sambut hangat oleh Ayu dengan tersenyum, lalu mereka berdua pun keluar dari dari dalam kamar.


🍀🍀


Di ruang tamu, Revan nampak sudah duduk menunggu kedatangan sang putri, dirinya duduk dengan tidak sabar dan merasa berdebar sebenarnya, sampai akhirnya Ayu terlihat berjalan ke ruang tamu bersama Lucky.


Revan segera berdiri dan tersenyum menyambut putri yang sangat dia rindukan itu.

__ADS_1


''Ayu, sayang. Ayah kangen sekali sama kamu,'' Revan berjalan mendekat lalu memeluk putrinya seketika.


''I-ya ... A-ayah ...'' jawab Ayu sedikit terbata-bata.


''Hmm ... kalau begitu kami kebelakang dulu, kalian berdua tidak perlu sungkan, silahkan mengobrol dengan puas di sini,'' ucap Leo, berdiri dan hendak pergi.


''Baik, Leo. Terima kasih,'' jawab Revan mengurai pelukan.


Leo yang hendak melangkah kebelakang tiba-tiba menghentikan langkahnya lalu menatap putra bungsunya yang masih berdiri di samping Ayu.


''Dek, kenapa masih di sini? beri mereka waktu untuk berbicara,'' ucap Leo setengah berbisik.


''Tapi, Pap?'' Lucky merasa ragu untuk meninggalkan Ayu.


''Dek ...?'' Leo menatap wajah Lucky dengan tatapan tajam.


Mau tidak mau akhirnya Lucky meninggalkan Ayu bersama sang Ayah. Hatinya masih diliputi rasa khawatirnya, hingga wajahnya pun nampak begitu masam membuat Leo bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi.


''Kamu kenapa, Dek. Wajahmu ko muram kayak gitu?'' tanya Leo duduk di halaman belakang bersama sang putra.


''Aku takut, Pap.''


''Lho, takut kenapa, sayang.''


''Aku takut kalau ingatan Ayu akan kembali setelah bertemu dengan ayahnya.''


''Lha, emangnya kenapa? justru bagus 'kan?'' tanya Leo mengerutkan kening.


''Aku takut kalau Ayu akan merasakan rasa sakit di hatinya lagi, sekarang dia sudah mulai membaik, selain kesehatannya, jiwa Ayu pun terlihat tenang, bahkan 'sakau' nya tidak pernah kambuh lagi, dan aku takut kalau kebahagiaan dia akan hilang lagi saat ingatan dia kembali nanti,'' jawab Lucky dengan suara lemah.


''Lucky, sayang. Walau bagaimanapun Revan itu adalah ayah Ayu. Dan mau tidak mau Ayu harus menerima itu, sejahat apapun Revan dulu dia tetap ayahnya dan dia juga sudah berubah sekarang. Kini saatnya Revan menebus kesalahannya di masa lalu, dan meminta maaf dengan tulus kepada putrinya.''


''Sementara Ayu, meskipun dia sekarang hilang ingatan, suatu saat nanti ingatannya itu pasti akan kembali, dan mau tidak mau dia harus berusaha memaafkan ayahnya itu, darah lebih kental dari pada air, Dek. Se'benci apapun Ayu terhadap ayahnya itu, dia pasti akan memaafkan Revan, karena Ayu putrinya, dan Revan sudah menyesali perbuatannya di masa lalu,'' jawab Leo panjang lebar.


''Apakah begitu?'' tanya Lucky menoleh menatap wajah sang ayah.


''Tentu saja, jadi kamu gak usah khawatir, Oke ...?''


Lucky menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Ternyata apa yang di khawatirkan oleh Lucky benar-benar terjadi, dari dalam sana terdengar suara nyaring seperti suara pecahan gelas yang dilempar ke tembok, membuat Leo dan Lucky panik dan segera berlari masuk ke dalam rumah.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2