
Gabriel mulai membuka mata, dia mengedipkan kelopak matanya secara perlahan, menggerakkan pelupuknya yang terasa begitu berat sebenarnya. Sampai akhirnya, dia pun dapat membuka kedua matanya secara sempurna.
Dia pun mengusap kedua mata dengan telapak tangannya, setelah itu, menatap ke sekeliling ruangan luas, dan terkejut seketika saat melihat Axel, tertidur di kursi yang terletak tidak jauh dari tempatnya berbaring.
Apa yang terjadi? Kenapa dirinya bisa berada di sana? Bukankah semalam dia sedang bersujud untuk mendapatkan maaf dari Al? Akh ...! tiba-tiba saja kepalanya terasa pusing, dia pun memijit pelipisnya seraya sedikit memejamkan mata.
''Lo udah bangun?'' tanya El sudah dalam keadaan duduk di atas kursi.
''Kenapa gue bisa ada di sini?''
''Gue sama bokap gue yang bawa Lo ke sini, lagian, apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian berdua? mengapa Lo sampai nekat hujan-hujanan kayak gitu? malam-malam lagi, kalau Lo sampai mati tadi gimana?'' tanya El, sedikit menaikan suaranya.
''Gue gak peduli meskipun gue harus mati, yang terpenting, gue bisa dapetin maaf dari dia, percuma gue hidup, tapi di benci sama orang yang paling gue cintai.''
''Gila, Lo. Kalau Lo sampai mati, gimana nasib anak Lo nantinya?'' ucap El keceplosan.
Dia pun langsung menutup mulut dengan kedua tangannya, dan menatap ke sekeliling kamar, berharap tidak ada yang mendengar ucapannya.
''Maksud Lo apa?'' tanya Gabriel, dengan mengerutkan keningnya.
''Sorry, gue keceplosan ...?''
''Jawab, El ...! Apa maksud dari ucapan Lo tadi? Anak ...?"
El segera berlari menghampiri dan menutup mulut Gabriel, dengan mata yang masih menatap ke sekitar.
"Gak usah keras-keras, nanti ada yang denger ...'' ucap El dengan nada suara yang penuh dengan penekanan.
Merasa geram, Gabriel pun menyingkirkan telapak tangan Axel, dan membulatkan bola matanya, menatap wajah Axel dengan tatapan tajam.
''Jawab pertanyaan gue, El? Apa Al hamil ...?'' tanya Briel dengan suara yang di pertegas.
Axel tidak punya pilihan lain, selain menganggukkan kepalanya dengan wajah datar.
''Apa ...? Serius ...?''
__ADS_1
El kembali menganggukkan kepalanya.
''Ha ... ha ... ha ...! Itu berarti gue akan segera menjadi seorang ayah?''
''Apa Lo senang?''
''Tentu saja gue senang ...''
''Gimana dengan masa depan Al nantinya? dia masih sekolah, dan otomatis dia akan segera berhenti sekolah, gak mungkin dia terus bersekolah dalam keadaan perut besar kayak gini?'' El melayangkan tatapan tajam, membuat Gabriel menghentikan suara tawanya.
''Gue janji, gue bakal bertanggung jawab, dan segera menikahi dia, El. Meskipun gue terlihat seperti pengangguran, tapi, gue juga punya banyak uang.''
''Lalu, kenapa dia seperti membenci Lo? dia bahkan gak peduli saat tubuh Lo kehujanan di tengah malam?''
Briel terdiam lalu menunduk, tidak mungkin rasanya dia menceritakan hal yang sebenarnya.
''Sorry, kalau itu, gue gak bisa cerita.''
''Oke ...! gua gak akan maksa buat Lo cerita, gue juga gak ingin terlalu ikut campur dengan urusan percintaan Lo yang penuh dengan drama ini."
"Tapi, El. Bolehkah gue ketemu dengan Al? please ...! izinkan gue buat ketemu dia." Briel sedikit mengiba.
"Lo serius?"
"Iya, dan sekarang dia lagi tidur di kamarnya, di temani nyokap gue."
"Gue minta maaf, gue sungguh menyesal, tapi gue ingin ketemu dia sekarang, please ...!" Briel sedikit mengiba.
"Hmmm ..." El menarik napas panjang.
"Kalau gue boleh jujur, gue merasa kesal sama Lo, andai saja Lo buka cowok yang di cintai saudara gue, mungkin gue udah hajar Lo habis-habisan, apa Lo gak tau, masa depan Al hancur, cita-cita dia juga pupus gara-gara dia hamil sekarang, hati gue hancur ngeliat dia kayak gini. Belum lagi, gimana nanti reaksi orang tua gue, kalau mereka sampai tahu putri yang mereka jaga ternyata hamil di usia yang masih remaja?'' El menunduk merasakan rasa sakit sekaligus kecewa di dalam hatinya.
''Apa kedua orang tua Lo belum tahu tentang hal ini?''
El menggelangkan kepalanya.
__ADS_1
''Biar nanti gue yang bilang sama mereka, sekaligus, gue akan bilang sama Om dan juga Tante kalau gue akan bertanggung jawab, dan segera menikahi putri mereka sebelum perut Al semakin membesar.''
''Gue benar-benar kecewa sama kalian berdua, kecewa ...!'' ucap El dengan mata yang terlihat berkaca-kaca sekarang.
"Gue mint maaf, El. Sungguh ...! Gue benar-benar minta maaf,'' ucap Briel dengan mata yang terlihat berkaca-kaca juga.
Hati Gabriel benar-benar diliputi rasa penyesalan sekarang, memang semua yang di katakan oleh Axel adalah benar, karena ulah dirinya sekarang Axela harus menanggung beban berat, kehilangan masa depan sekaligus merelakan cita-cita yang menjadi impiannya kandas begitu saja, akibat ulah dirinya, sungguh hati Gabriel bagai di landa sebuah Dilema.
Briel pun mencoba untuk bangkit dan duduk, namun, sekujur tubuhnya terasa remuk, karena terlalu lama berada di bawah guyuran air hujan selama tiga jam, membuat tubuh Gabriel pun di serang demam.
''Lo, istirahat aja dulu, tunggu sampai tubuh Lo benar-benar baikan, baru setelah itu Lo temui Al, dan selesaikan permasalahan di antara kalian berdua.''
Briel mengangguk lalu kembali berbaring.
🌹🌹
Adelia sang ibu nampak menemani putrinya, dia duduk di samping sang putri, menatap dengan perasaan iba dan hati yang terluka, dari awal dia memang tidak setuju putrinya tersebut berpacaran dengan laki-laki yang bernama Gabriel, dan kecemasan pun terbukti, saat ini putrinya tersebut sedang berbaring dengan tubuh demam akibat drama percintaan yang sedang dia jalani.
Tidak lama kemudian, Dokter pun masuk kedalam kamar, di ikuti oleh Leo sang suami berjalan di belakangnya.
Dokter pun segera memeriksa keadaan Al yang saat ini sedang dalam tertidur, dengan tubuh demam dan keringat yang terus membasahi pelipis wajahnya.
Sang Dokter terlihat mengerutkan keningnya, saat dia memeriksa detak jantung pasien, seperti ada yang berbeda dengan irama detak jantung di dalam sana, dia pun membuka perut Al, lalu menekannya pelan, secara berkali-kali, masih dengan kening yang kerut'kan.
''Gimana keadaan putri saya, Dok?" tanya Adelia, dengan tatapan sayu.
Dokter pun tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut, dia terus menekan perut pasien, secara berkali-kali, untuk lebih memastikan jika dugaannya adalah benar.
"Dokter, kenapa diam saja? gimana keadaan putri saya?" tanya Leo memasang ekspresi yang sama dengan sang istri.
"Hmm ...! Keadaan pasien sedikit drop, dan seperti'nya dia harus di rawat di Rumah Sakit, saya takut bayi yang sedang di kandungnya kenapa-kenapa ...!''
''Apa, Dok ...? Bayi ...? Maksud Dokter, putri saya hamil ...?'' tanya Adelia membulatkan bola matanya, terkejut bukan kepalang.
_____________--------____________
__ADS_1
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Readers ♥️♥️♥️♥️