
Alex menceritakan apa yang dia tahu tentang rencana jahat Revan, menceritakannya secara mendetail, tidak ada satupun yang di sembunyikan.
Wajah Leo terlihat sangat kesal, dia bahkan semakin mengeraskan rahang tegasnya, dengan tangan yang di kepalkan.
''Bawa aku ketemu dia sekarang juga, aku mau menyelesaikan urusan aku dengan dia,'' pinta Leo berdiri.
''Jangan sekarang, lebih baik sekarang kamu fokus dulu dalam merawat putri'mu itu, bukankah dia sedang sakit, dan sedang dalam keadaan ha--'' Alex tidak meneruskan ucapannya.
''Hamil maksudnya? dari mana kamu tahu tentang hal itu?'' Leo kembali duduk, mengingat masalah yang sedang di hadapi oleh putrinya, membuat kepalanya terasa pusing.
''Aku gak sengaja ketemu putri kamu tadi, di Rumah Sakit.''
''Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang, Alex? aku bingung sekali,' Leo mengusap wajahnya secara kasar.
''Sebaiknya, kita tunggu sampai calon menantu kamu itu siuman, dengan begitu, kita bisa bertanya kepada dia tentang apa yang Revan rencanakan sebenarnya.''
''Siapa maksud kamu, calon menantu?''
''Ya siapa lagi, tentu saja si Gabriel. Apa kamu mau menikahkan putri'mu dengan pria lain?''
Leo pun menarik napas panjang lalu menghembuskan'nya secara perlahan, merasakan rasa sesak di dadanya, tatkala mengingat bahwa, pria yang menghamili putrinya adalah anak buah dari orang yang menjadi musuhnya sekarang.
Apa mungkin dia harus benar-benar menikahkan putrinya dengan pria itu? sedangkan hatinya merasa tidak rela kalau sampai sang putri sampai menikahi pria jahat seperti si Gabriel? tapi, apa ada pilihan lain selain itu?
Akh ...! Hati Leo benar-benar dilanda sebuah Dilema.
''Sudahlah, lebih baik kita ke Rumah Sakit sekarang, kamu penasaran kan dengan kondisi calon mantu kamu itu?''
''Jangan sebut dia calon mantu terus, Alex. Aku gak suka, lagian aku belum tentu benar-benar menjadikan dia menantu aku,'' jawab Leo, terlihat sedikit kesal.
''Ya sudah terserah kamu aja, Leo. Yang penting sekarang, kita harus segera ke sana, apa kamu tahu, putrimu sekarang sedang nangis-nangis sendiri di ruangan ICU ...?''
''Apa ...? putriku saat ini sedang nangis-nangis di ruang ICU? maksudmu, dia lagi meratapi kekasihnya yang sedang sekarat itu?'' Leo membulatkan bola matanya.
__ADS_1
''Iya, apa lagi namanya kalau bukan sedang meratapi nasib kekasihnya itu? dasar bodoh ...!"
"Mari kita ke sana sekarang."
Leo pun berdiri, lalu berjalan keluar dari dalam ruangan kantor'nya.
🌹🌹
Di Rumah Sakit.
Sampai saat ini, Axela masih berada di ruangan ICU, tempat dimana kekasihnya berada, tidak peduli jika tubuhnya sedang dalam keadaan sakit.
Dia masih duduk di kursi roda, di tempat yang sama, saat Amora meninggalkan dirinya di ruangan itu tadi, menggenggam erat jemari Gabriel, yang saat ini masih tidak bergeming sedikitpun.
Hingga kemudian, El pun masuk kedalam ruangan itu, setelah Amora menelpon dan memberi kabar, Axel berdiri tepat di samping saudaranya, menatap wajah Briel dengan tatapan iba, dan sama sekali tidak menyangka kalau kekasih dari saudara kembarnya itu terluka parah sekarang, bahkan koma.
''Al, kita kembali ke kamar kamu, ya. Kamu juga perlu istirahat, kamu sudah hampir seharian ada di sini, kamu baru saja pulih, kalau nanti sakit lagi gimana?'' pinta El, mengusap lembut punggung Axela.
''Nggak, El. Aku mau di sini, aku mau tunggu sampai dia bangun, aku gak mau ninggalin dia sendiri,'' jawab Al dengan wajah yang sudah terlihat semakin pucat.
Al terdiam sejenak, matanya tak luput dalam memandangi wajah kekasihnya dengan tangan yang mengusap perutnya kini.
''Briel, bangun sayang. Bayi kita sedang menunggu kamu, dia di dalam sini menanti kamu bangun, aku akan memaafkan semua kesalahan yang telah kamu lakukan, aku janji ...!'' lirih Al, merasakan kegetiran.
Axel pun hanya terdiam, menatap wajah sang adik yang terlihat begitu mengenaskan, kehamilan yang baru saja diterimanya sudah cukup membuat sang adik tertekan, dan sekarang, dia harus menerima kenyataan bahwa, ayah dari bayi yang di kandungannya sedang dalam keadaan koma.
Ceklek
Kemudian terdengar suara pintu ruangan di buka, Leo dan Alex masuk kedalamnya, Leo pun berjalan mendekati putrinya.
''Axela, cepat kembali ke kamar kamu sekarang juga,'' pinta Leo datar.
''Pap ...? Aku mau di sini? aku mohon?'' Al mengiba dengan mata yang sudah terlihat berkaca-kaca.
__ADS_1
''Tidak, sayang. Papi mohon kembali sekarang juga, kalau kamu tidak ingin papi murka, cepat, turuti perintah Papi ...''
''Tapi Pap ...?''
''Ayo, Al. Sepertinya Papi tidak main-main dengan ucapannya, aku antar kamu kembali kamar, ya?''
Al pun akhirnya mengangguk, lalu dirinya kembali menatap wajah Gabriel, dengan tatapan sendu dan mata sayu. Setelah itu, Al pun mendorong kursi roda, membawanya keluar dari ruangan ICU.
Sepeninggal sang putri, kini tinggalah Leo bersama Alex berada di ruangan itu, Leo nampak menatap wajah Briel dengan seksama, dan memang seperti yang tadi di ceritakan oleh sahabatnya itu, bahwa, wajah Briel penuh dengan luka.
''Apa benar ini perbuatan si Revan?'' tanya Leo masih menatap wajah Gabriel.
''Aku yakin sekali, aku melihatnya sendiri saat tubuh dia di bawa keluar dari markas besar mereka, sepertinya mereka hendak membuang dia, dan menyangka bahwa dia sudah meninggal.''
''Tapi kenapa? kenapa dia mencoba membunuh dia?''
''Mungkin karena dia tahu bahwa si Gabriel ini pacaran dengan putrimu, sedangkan kamu adalah musuh besarnya sekarang, dia takut kalau rencana dia sampai terbongkar, itu sebabnya dia menyingkirkan calon mantu kamu ini.''
''Kamu, aku sudah bilang, jangan panggil dia calon mantu, telinga kamu ini apa sudah tidak berfungsi lagi? hah ...? mau aku antar ke THT mumpung kita lagi ada di Rumah Sakit,'' Leo membulatkan bola matanya, menatap wajah Alex dengan tatapan tajam.
''Ha ... ha ... ha ...! Aku lupa, apa seharusnya aku pergi ke sana saja, ya? telinga aku ini memang sudah sedikit bermasalah,'' jawab Alex, memasukan jari telunjuk'nya kedalam telinga.
''Dasar jorok,'' Leo bergidik melihat kelakuan sahabat'nya tersebut.
''Jadi apa rencana kamu sekarang?'' tanya Alex menghentikan gerakan tangannya.
''Aku akan mengikuti saran'mu. Aku akan fokus dulu dalam memulihkan kondisi putriku, sambil menunggu dia siuman, aku juga akan meminta Dokter memberikan pengobatan yang terbaik untuk dia, agar dia bisa cepat bangun, dan siapa tahu dia bisa memberikan informasi penting tentang apa yang di rencanakan oleh si Revan itu.''
''Kalau pengobatan yang terbaik, tentu saja akan membutuhkan biaya yang sangat besar, Leo.''
''Hish ... Kamu ini? Aku yang akan membiayai semua pengobatan dia, apa kamu lupa kalau aku punya banyak uang? lagi pula aku tidak akan memintamu membiayai calon mantu aku ini.''
''Ciih, dasar Leonardo, tadi marah-marah aku yang bilang kalau dia itu calon mantu kamu. Nah, sekarang kamu sendiri yang menyebut dia calon menantu, dasar pria tua aneh ...'' Alex menggelangkan kepalanya.
__ADS_1
_____________---------_______________
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Readers ♥️♥️♥️