
Lucky menunduk dengan tubuh yang bersandar di tembok kamar, matanya terlihat menatap lantai berwarna putih, hatinya terasa begitu sakit mendengar semua yang baru saja dibicarakan oleh dua orang wanita di dalam kamar.
Jadi itu alasan yang sebenarnya? alasan kenapa dia diputuskan begitu saja, bukan karena kesalahpahaman yang sempat terjadi dia antara mereka, namun, perbedaan usia menjadi masalah utama mengapa Emillia memilih untuk mengakhiri hubungan mereka, ternyata prinsip seorang Emillia mengalahkan rasa cinta yang selama ini dimiliki oleh wanita itu.
Meski semua yang Emil katakan benar adanya, tapi tetap saja, rasa sakit di hatinya terasa semakin menyayat bahkan mengoyak harapan yang sempat hadir di dalam hatinya, hingga tanpa sadar pelupuknya pun kini telah penuh dengan air mata yang telah siap untuk berjatuhan.
Sayup-sayup terdengar kedua wanita itu meneruskan perbincangan mereka kembali.
''Apa kamu mencintai dia? Maksud aku, apa kamu masih mencintai Lucky ...?'' tanya Amora.
''Cinta ...? tentu saja, tidak mudah menghilangkan perasaan ini, dan rasanya sakit sekali karena rasa ini tidak bisa lagi aku ungkapkan, hanya bisa aku pendam dan mencoba mengikisnya sedikit demi sedikit meski tak akan mudah untuk melakukannya,'' jawab Emill mengusap pipi mulusnya yang perlahan basah dengan air mata.
Amora memeluk tubuh sahabatnya tersebut, mengusap punggungnya pelan mencoba untuk menenangkan, dia mengerti betul bahwa rasa sakit yang dirasakan oleh Emil saat ini tidak mudah untuk diobati.
''Kamu yang sabar, ya. Aku doakan semoga kamu bisa mendapatkan laki-laki baik yang akan menggantikan posisi Lucky di hati kamu,'' lirih Amora, turut merasakan kesedihan yang di rasakan oleh Emillia.
Emillia mengangguk penuh kesedihan.
Mendengar semua itu, membuat air mata yang sedari memenuhi pelupuk mata seorang Lucky akhirnya berjatuhan, membasahi wajah tampannya, hingga suara isak pun sedikit terdengar.
Tidak ingin terlalu lama berada di sana, akhirnya Lucky memutuskan untuk beranjak dan keluar dari dalam rumah, mencari udara segar sekaligus menenangkan pikirannya yang saat ini sedang berkecamuk.
''Kamu dengar, sepertinya ada suara di luar?'' tanya Amora melepaskan pelukan dan berjalan ke arah pintu.
''Siapa? apa ada yang mendengar pembicaraan kita ...?'' tanya Emill berdiri lalu berjalan menuju pintu.
''Lucky ...?'' lirih Emil saat melihat tubuh Lucky yang saat ini sedang berjalan ke arah luar.
''Apa dia mendengar semua yang kita bicarakan?'' tanya Amora mengerutkan kening.
''Aku juga gak tau, aku lupa menutup pintu, jadi bisa saja dia mendengar semuanya.''
''Apa tidak sebaiknya kamu menyusul dia? kamu beri dia pengertian agar hubungan kalian berakhir dengan baik, meskipun aku berharap hubungan kalian masih bisa dipertahankan.''
Emill terdiam sejenak, matanya menatap ke arah Lucky yang perlahan berjalan kian menjauh meninggalkan pekarangan rumah, sampai akhirnya, Emil memutuskan untuk mengejar Lucky, dia berlari seraya memanggil nama Lucky, yang kini telah menjauh.
''LUCKY ...'' teriak Emill.
Emillia berlari keluar, dengan mata yang menatap sekeliling, mencari sosok laki-laki yang kini seolah lenyap entah kemana, dia pun terus melangkah tanpa dia sadari bahwa dia lupa memakai sandal, dengan bertelanjang kaki, dia terus menyusuri gang sempit hingga akhirnya sampai di jalan raya.
__ADS_1
''Dia kemana si?'' gerutu Emill, mengusap telapak kakinya yang terlibat sudah penuh dengan batu kerikil.
''Kamu nyari aku ...?'' tiba-tiba terdengar suara Lucky dari arah samping, membuat Emil menoleh seketika.
Lucky berjongkok di tepi jalan dengan satu batang rokok yang terselip di sela-sela jarinya, menyesapnya lalu membuangnya sembarang.
''Kamu merokok ...?'' tanya Emil terkejut.
''Kenapa? aku cuma coba-coba aja, siapa tahu perasaan aku bisa sedikit tenang,'' jawab Lucky menatap lurus ke depan.
''Kamu masih kecil, belum pantas merokok, kesehatan kamu bisa terganggu,'' ucap Emillia dengan raut wajah khawatir.
''Bukan urusan kamu ...''
''Lucky ...! jangan seperti ini, aku mohon. Melihatmu kayak gini membuat aku semakin merasa bersalah, kamu pikir hanya kamu yang terluka? aku pun sama, sakit yang saat ini kamu rasakan aku pun merasakannya,'' Emill dengan suara berat, karena dia menahan air matanya agar tidak berjatuhan di depan mantan kekasihnya.
Lucky terdiam, dia menunduk getir.
''Luck ...!''
Lucky masih terdiam ...
''Jawab aku ...'' teriak Emil kesal.
''Berhenti, kamu mau bawa aku kemana?''
''Jangan bicara di sini, aku tahu tempat yang tenang untuk kita bicara,'' jawab Lucky semakin mempercepat gerakan kakinya.
Akhirnya, Emil pun hanya pasrah, ikut berlari bersama Lucky, meski tidak tahu dia akan di bawa ke mana, dan kakinya terasa perih sekarang.
Mereka pun sampai di pematang sawah yang hijau membentang dengan gubuk kecil terbuat dari bambu berada di tengah-tengahnya.
Lucky hendak melanjutkan langkahnya, berjalan di antara jalan jalan setapak, namun dia mengurungkan niatnya, saat melihat Emillia yang terlihat meringis kesakitan.
''Kamu kenapa?'' tanya Lucky mengerutkan kening.
''Kaki aku ...'' jawab Emil menunduk menatap kedua kakinya yang terasa semakin perih.
''Kamu gak pake sandal?'' Lucky terkejut.
__ADS_1
Emill mengangguk pelan.
''Kenapa gak bilang dari tadi ...?''
''Gimana mau bilang, kamu langsung narik tangan aku gitu aja. Argh ... sakit ...!''
''Coba sini aku lihat ...''
Lucky berjongkok dan menatap dengan seksama sepasang kaki lentik yang kini telah terdapat luka lecet di setiap sudut jarinya.
''Berdarah ...! sakit nggak ...'' tanya Lucky meraba bagian jari-jari kaki Emil yang terluka.
Emill hanya mengangguk dengan mengigit bibir bawahnya.
Tanpa basa-basi lagi, kini Lucky berjongkok tepat di hadapan Emill, membuat Emillia mengerutkan keningnya, dengan sedikit tersenyum.
''Kamu mau apa ...?''
''Naik ke punggung aku sekarang, aku akan bawa kamu ke sana ...?'' jawab Lucky menunjuk gubuk yang terletak tepat di tengah-tengah sawah.
''Nggak usah ... Aku masih bisa jalan, ko ...''
''Udah naik aja, aku minta sekali ini aja kamu jangan nolak apa yang aku minta, mari kita bicarakan apa yang ingin kita sampaikan,'' jawab Lucky mendongakkan kepalanya.
Akhirnya, mau tidak mau, Emil pun mengikuti keinginan mantan kekasihnya tersebut, perlahan dia mulai naik di punggung lebar seorang Lucky, melingkarkan tangannya di leher mantan kekasihnya itu dengan sedikit tersenyum.
''Sudah siap?'' tanya Lucky sebelum dia mulai berdiri.
Emill mengangguk pelan.
Lucky pun berdiri, hatinya merasa senang, rasa kecewa yang tadi dia rasakan seolah sirna, tubuh Emillia yang saat ini berada di punggungnya seolah sedikit membasuh luka yang kini memenuhi hatinya.
Dia pun mulai melangkahkan kaki, menyusuri jalan setapak yang berada di tengah-tengah sawah, semilir angin yang berhembus kencang menyapu wajah keduanya, menyejukkan hati dan bahkan menenangkan perasaan kecewa yang saat ini keduanya rasakan.
Sampai akhirnya, mereka pun sampai di gubuk bambu tersebut, Lucky menurunkan Emillia perlahan hingga dia duduk di kursi kayu, di susul oleh dirinya kemudian, duduk di samping Emillia.
''Wah, udaranya segar sekali, sudah lama aku merindukan udara seperti ini,'' ucap Lucky berbicara seolah mereka sedang tidak terjadi apa-apa.
Emillia menatap wajah Lucky dengan seksama, memperhatikan setiap jengkal wajah tampan itu, wajah yang sangat dia rindukan sebenarnya, rindu senyum itu, rindu wajah tampan itu dan rindu sentuhan hangat bibir merah yang memberikannya kenyamanan.
__ADS_1
Hingga tanpa sadar, Emillia mendekatkan wajahnya, dan mengecup bibir merah mantan kekasihnya itu, membuat Lucky terkejut dan memejamkan matanya seketika.
_____________------------______________