
Ryan, dia mengusap punggung Leo, yang duduk lemas di atas lantai dengan air mata yang terus mengalir dengan begitu derasnya, baru kali ini dirinya melihat Leo, yang merupakan seorang bos Mafia, menangis tersedu-sedu, seolah merasakan kesedihan dan kesakitan yang teramat dalam.
Angel yang berdiri tepat di samping sang suami'pun, menatap tubuh Leo dengan tatapan penuh rasa iba, dirinya yang pernah menjalin hubungan dengan pria tersebut pun baru kali ini melihat Leonardo, pria yang selama ini terkenal kuat dan kejam, sekarang seolah berbanding terbalik dengan Leo yang dulu dia kenal.
Begitu rapuh, dan sangat terluka, dengan air mata yang terus berjatuhan membasahi rahang tegasnya.
''Bos... bangun... Bos harus kuat, ingat Istrimu membutuhkan dukungan dan suport dari bos, bos harus kuat, ini pasti hanya siasat Alex saja agar bisa menjatuhkan mental'mu dengan begitu dia merasa puas karena telah membuat hatimu merasakan rasa sakit,'' Ryan mencoba menenangkan dan memberi dukungan.
''Bagaimana aku bisa kuat, di saat aku mendengar bahwa, istri yang sangat aku cintai, ditiduri oleh orang yang paling aku benci, bahkan dia mengaku bahwa bayiku adalah bayinya, apa bisa aku sekuat itu? tubuhku memang kuat, tapi hatiku tidak bisa menerima kenyataan yang sangat menyakitkan ini, Ryan. Bayangkan bagaimana perasaan aku?'' ujar Leo, dengan menangis tanpa suara.
''Aku mengerti, bos. Sangat mengerti, tapi yang harus kita lakukan sekarang adalah membuktikan bahwa bayi itu adalah anak'mu, bukan anak Alex, kita harus mengikuti keinginan Alex prihal tes DNA yang dia rencanakan,'' jawab Ryan.
__ADS_1
Leo terdiam, memikirkan apa yang baru saja di katakan oleh orang kepercayaan'nya tersebut, sepertinya, yang di katakan oleh Ryan ada benarnya juga, satu-satunya cara agar dirinya yakin bahwa anak itu adalah darah dagingnya adalah dengan melakukan tes DNA.
Leo bangkit lalu berdiri, dia pun mengusap pipinya yang basah dengan air mata, matanya tampak menatap ke depan, melayangkan tatapan tajam, dengan bola mata yang memerah, manahan rasa amarah.
''Baiklah, aku akan menuruti keinginan si brengsek itu, dan setelah itu, aku akan menghabisi nyawanya, tanpa ampun dan tanpa belas kasihan, aku sudah tidak tahan untuk melakukan itu, tidak peduli jika aku harus masuk penjara nantinya,'' jawab Leo dengan nada suara yang penuh dengan penekanan.
Ryan dan Angel saling melayangkan tatapan, lalu keduanya mengangguk pelan, dengan sedikit senyuman yang menghiasi bibirnya.
Leo kembali ke ruangan ICU, berjalan mendekati ranjang dimana Istrinya masih berbaring seolah tertidur nyenyak.
Dia pun berdiri, menatap wajah sang istri dengan tatapan iba dan penuh rasa penyesalan, menyesal karena istri'nya tersebut harus menanggung beban sendiri, menanggung rasa sakit sendiri, dan dirinya sebagai seorang suami sama sekali tidak peka dengan masalah yang selama ini di hadapi oleh istrinya tersebut.
__ADS_1
''Adelia Fasha...! kamu sungguh bodoh...! untuk pertama kalinya aku sedikit membenci dirimu, kamu yang selalu terlihat sempurna di mataku, selalu ceria dengan suara manja'mu, dan selalu ingin menang sendiri tanpa mau mendengar pendapat'ku, kemana semua itu? hah...''
Leo berbicara seolah istrinya tersebut dapat mendengar ucapannya, dan masih dengan mata yang berkaca-kaca.
"Bangun, Del...! jelaskan semuanya kepada'ku, agar aku bisa memaafkan'mu, bangun... istriku...! aku sungguh mencintaimu, seperti apapun sikapmu, sekotor apapun tubuh'mu, sungguh... Adelia... bangun... hiks hiks hiks...''
Leo menangis pilu, kegarangan, kepercayaan diri yang tingginya selangit dan kekuatan yang selama ini melekat di dalam diri seorang Leonardo, seolah runtuh seketika, dia menangis sesenggukan, seperti seorang anak kecil.
''Aku akan memaafkan'mu, sungguh... asal kamu bangun, sayang...! apa kamu tidak merindukan si kembar, dan bayi tampan yang baru saja kau lahir'kan, heuh...?" Leo mengecup punggung lengan sang istri.
"Adelia Fasha...! kamu tahu pasti bahwa rasa cintaku padamu sedalam lautan, seluas angkasa, dan setinggi langit, aku tidak peduli jika kamu pernah berhubungan dengan si brengsek itu, karena cintaku tidak se'dangkal jari kelingking, sungguh...! sayang... istriku... bangunlah... aku cinta kamu... hiks hiks hiks..."
__ADS_1
____________----------____________