
''Aku merindukan'mu, Axela ...''
Lirih Briel berbisik di telinga Axela.
''Aku juga merindukan'mu, Gabriel ...''
Keduanya pun saling mendekatkan wajah sampai akhirnya kedua bibir mereka saling bersentuhan, saling menautkan bibir dan menyesapnya perlahan, memutar kepala dengan mata yang terpejam.
Kedua tangan Gabriel di letakan di kedua sisi pipi putih Axela, sementara tangan gadis itu melingkar di pinggang lebar kekasihnya.
Entah apa yang merasuki jiwa keduanya, sehingga mereka sulit mengendalikan gejolak yang kini menguasai jiwa masing-masing, entah karena meluapkan rasa rindu yang sudah lama di tahan, ataukah, karena mereka mendambakan kenik**tan yang waktu itu pernah mereka rasakan?
Entahlah ...
Hanya Tuhan yang tahu, yang jelas sepasang kekasih itu, kini saling meluapkan gejolak yang kini semakin membara di dalam jiwa keduanya.
Setelah puas melakukan itu semua, Briel segera menggendong tubuh sang kekasih ke atas ranjang, membaringkannya dengan bibir yang saling bertautan.
Perlahan tangan Briel mulai menanggalkan satu persatu helaian benang, yang melingkar di raga kekasihnya, menariknya secara tergesa-gesa hingga raga itu kini polos tanpa sehelai penghalang pun.
Suara de*** itu pun perlahan keluar dari mulut keduanya, saling bersautan seiringan dengan keni**** yang mereka dapatkan, peluh dan keringat pun membasahi raga keduanya, dengan nafas yang saling berburu, menuju puncak ken****.
Sampai akhirnya puncak itu pun berhasil mereka dapatkan secara bersamaan, beriringan dengan bisa ular, yang menyembur masuk ke dalam inti wanita bernama Axela.
Yang ada sekarang, keduanya merasakan kebahagiaan yang mendalam, rasa rindu dan rasa gundah yang selama ini mereka pendam seolah hilang seketika itu juga.
Axela, memeluk tubuh sang kekasih, dia bahkan sudah tidak merasa malu sama sekali saat raga polosnya terekspose sempurna, putih mulus seolah tanpa cela.
Sepasang kekasih itu kini saling berpelukan dengan raga masih dalam keadaan polos, meringkuk di dalam selimut merasakan lelah setelah melakukan pendakian panjang menuju *******.
''Besok aku akan memperkenalkan'mu kepada kedua orang tuaku di Rumah Sakit.'' Lirih Al, menyandarkan kepalanya di dada bidang Gabriel.
''Secepat itu?''
''Kenapa? kamu keberatan?''
''Tidak, eu ...! Maksudku, nggak nggak lusa, atau lusanya lagi gitu?''
''Nggak, harus besok, aku takut kamu menghilang lagi kayak kemarin.''
''Hilang, emangnya aku hantu,'' celetuk Briel tersenyum.
__ADS_1
Reflex, Al memukul tangan Gabriel yang terbalut perban, karena terlalu pokus dalam bercinta, Axela sampai tidak menyadari bahwa terdapat luka di tangan Gabriel yang kini terbalut perban.
''Aw... Sakit, Al ...!"
"Kamu terluka ...?" tanya Al mengangkat kepalanya.
"Eu ... Anu ... Kemarin aku jatuh dari motor," jawab Briel berbohong.
"Serius ...?"
Gabriel menganggukan kepalanya.
"Mana sini aku lihat?"
"Gak usah, gak terlalu sakit, ko ...!"
Briel meraih baju berwarna merah miliknya, yang tergeletak begitu saja di atas ranjang, lalu memakainya.
"Serius gak sakit ...?"
"Nggak, cuma luka kecil aja ko."
Al pun mengangguk lalu meraih baju tidur miliknya dan memakainya. Keduanya pun kembali berbaring, setalah mengenakan pakaian lengkap.
"Duh, maaf ya, aku sampai lupa memberi kamu makanan, padahal kamu kan tamu, tunggu ya aku ambilkan makanan, mudah-mudahan ada sesuatu yang bisa di makan di dapur," Al bangkit dan turun dari atas ranjang.
"Tunggu, boleh aku ikut?"
"Tentu saja, anggap saja rumah sendiri," Al tersenyum lalu berjalan keluar dari dalam kamar.
**
Di dapur.
Axela membuka kulkas dua pintu, matanya menatap seisi kulkas yang memang penuh dengan bahan makanan, dia pun bingung, karena dia sama sekali tidak bisa memasak, jika membangunkan bi Surti sepertinya juga tidak mungkin.
"Kenapa ...?" Briel menghampiri.
"Gak ada makanan matang, semuanya mentah," Al mengerucutkan bibirnya.
"Kamu bisa masak?"
__ADS_1
Al menggelengkan kepalanya.
"Ya ampun, masa anak gadis gak bisa masak? sini biar aku yang masak,'' Briel sedikit menggeser posisi Al, lalu menundukkan kepalanya menatap seisi kulkas, dan meraih bahan makan.
''Kamu bisa masak?''
''Tentu saja, anak rantau seperti aku, pasti bisa masak, meskipun cuma makanan biasa, tapi rasanya di jamin enak.''
Al tersenyum senang.
''Kamu duduk di sini, lihat dan tunggu chef Gabriel, akan memasakkan makanan spesial untuk putri Axela ...!''
Al pun duduk di kursi meja makan, menatap kekasihnya yang terlihat begitu cekatan menyiapkan bahan makanan. Senyumnya pun terus mengembang, tatkala membayangkan betapa bahagianya nanti apabila mereka sudah menjadi sepasang suami istri.
''Kamu mau masak apa?'' tanya Al penasaran.
''Karena ini sudah malam, dan memakai bahan seadanya, aku akan memasak masakan yang simpel dan cepat, yaitu nasi goreng spesial ...!''
''Wah, aku sudah tidak sabar nih, mau aku bantuin?''
''Gak usah, kamu cukup diam di situ dan terus tersenyum biar masakan yang aku buat enak, oke ...?"
"Nanti aku kayak orang gila dong, tersenyum terus?"
Briel tertawa geli, tangannya yang sedang menyiapkan bahan makanan pun mampir terlebih dahulu di pipi mulus kekasihnya, mencubitnya pelan membuat Axela sedikit meringis kesakitan.
"Aw ...! sakit tau, tangah kamu bau bawang ...!" Celetuk Al, menutup hidung dengan kedua tangannya.
Setelah menunggu selama kurang lebih 30 menit, nasi gorengan spesial pun siap untuk di sajikan, nasi goreng lengkap dengan sayuran dan juga suir'an ayam, harumnya yang menggoda membuat Axela tidak sabar untuk segera memakan nasi goreng buatan kekasihnya tersebut.
Makanan pun sudah siap di atas meja, tertata dengan begitu rapi di atas piring berwarna putih, Briel meletakan piring tersebut tepat di depan Axela, mereka pun duduk saling berdampingan dan siap menyantap makanan.
''Cobain deh, pasti rasanya enak?''
''Oke, aku cobain ya?''
Baru saja Al hendak memasukan satu sendok makanan ke dalam mulutnya.
Tiba-tiba saja ...
''Siapa dia...? berani-beraninya kamu malam-malam begini berduaan dengan seorang Laki-laki di dalam rumah?''
__ADS_1
_________-----------_________