
Ayu dan Lucky akhirnya menginap di Rumah sakit, di temani tiga penjaga yang di kirim oleh Leonardo dan saat ini mereka berada di luar ruangan berdiri di depan pintu layaknya satpam.
Lucky nampak tertidur di sopa di dalam kamar, begitupun dengan Ayu yang juga tertidur namun, di sopa yang berbeda, karena ada penjaga yang mengawasi, mereka pun terpaksa sedikit menjaga jarak karena merasa takut dan berfikir bahwa penjaga itu ditugaskan untuk mengawasi mereka berdua.
Tengah malam, Ayu tiba-tiba mendengar suara sang ayah memanggil namanya, membuat Ayu sontak terbangun dan menyudahi tidur panjangnya.
''Ayu ... Sayang ...''
Terdengar sayup-sayup suara Revan memanggil nama putrinya lembut dan lemah.
''Ayah ...?''
Ayu perlahan membuka mata, mengedipkan pelupuknya pelan seraya mengangkat kepala dengan mata yang menatap sekeliling mencari sumber suara.
''Kemari'lah sayang. Ayah ingin melihat wajahmu sebelum ayah pergi.''
Ayu terhenyak seketika, rasa kantuk dimatanya tiba-tiba hilang dan diapun membuka mata sempurna. Ayu pun segera berdiri dan berjalan menghampiri ayahnya yang kini berbaring di atas ranjang.
''Ayah ...? Apa ayah sudah sembuh?'' lirih Ayu dengan senyum yang mengembang di kedua sisi bibirnya merasa senang karena wajah sang ayah terlihat begitu segar, bahkan bibirnya kini tersenyum lebar terlihat begitu bahagia.
''Ayu, sayang ... Putri ayah, kamu cantik sekali, Nak.''
''Ayah, aku senang banget ayah sudah sembuh dan bisa menyebut nama aku lagi, aku senang sekali, ayah ... hiks hiks hiks ...'' ucap Ayu tidak kuasa menahan rasa haru di hatinya.
''Bantu ayah duduk, Nak. Punggung ayah pegal sekali setiap hari berbaring.''
''Baik, yah. Aku akan membantu ayah duduk.''
Ayu meraih punggung ayahnya menariknya pelan dan lembut juga hati-hati sampai ayahnya itu benar-benar duduk dengan bersandar bantal di belakang punggungnya.
__ADS_1
Kini Revan meraih pergelangan tangan Ayu, menggenggam jemarinya erat seraya mengusap punggung tangannya lembut dan penuh kasih sayang.
''Sayang ... wajah kamu cantik sekali, ayah senang sekali sekarang kamu sudah benar-benar sembuh, kamu gak merasa kehausan lagi, gak pernah kumat lagi, ayah sungguh bahagia, dan ada satu lagi yang membuat ayah tenang yaitu, kamu sudah benar-benar memaafkan semua kesalahan yang telah ayah perbuat di masa lalu.''
''Tapi tetap saja, ayah ingin meminta maaf lagi untuk yang terakhir kalinya. Ayah sungguh menyesal, sayang. Jiwa ayah terasa tersiksa jika ayah mengingat semua itu. Hiks hiks hiks ...'' Revan tiba-tiba menangis sesenggukan membuat Ayu kembali terhenyak.
''Ayah, kenapa ayah bilang kayak gitu? aku sudah memaafkan ayah sejak lama, aku sungguh ikhlas dan telah melupakan semua yang ayah lakukan dahulu, jadi jangan di ungkit lagi, aku mohon. Melihat ayah menangis seperti ini membuat hatiku terasa sakit, yah. Hiks hiks hiks ...'' jawab Ayu, mengecup punggung tangan ayahnya lembut.
Entah apa yang terjadi dengan ayahnya itu, ucapan sang ayah sungguh membuat hati Ayu merasa sedih, bukankah seharusnya dia bahagia karena ayahnya itu akhirnya sembuh dan kembali normal?
Ayu menangis memeluk tangan kurus nan keriput Revan, menciumi punggung tangannya berkali-kali seolah dia tidak akan pernah bisa melakukannya lagi dan tentu saja diiringi suara tangis yang terdengar pilu bagi siapapun yang mendengarnya.
''Jangan menangis seperti ini, Nak. Ayah ingin melihat kamu bahagia. Leo mengatakan pada ayah bahwa dia akan menikahkan kamu dengan putranya setelah kalian lulus sekolah nanti, dan ayah senang sekali mendengarnya. Keluarga pacar kamu semuanya baik, dan ayah yakin mereka akan menyayangi kamu dengan sepenuh hati.''
''Jadi ayah minta, kamu jangan menangis seperti ini, kamu harus bahagia dan menjalani hidup dengan baik sebagai seorang istri nantinya. Lahir'kan banyak anak agar kamu tidak merasa kesepian di hari tua nanti seperti yang ayah rasakan saat ini.''
''Satu lagi pesan ayah. Jika kamu sudah menikah nanti, pindah'lah ke rumah suamimu, jika di rumah kita kamu merasa kesepian, ayah doakan semoga kamu jadi istri yang baik, dan juga jadi wanita Sholehah. Ayah bahagia jika melihat kamu bahagia, dan ayah tenang jika melihat kamu senang, sayang.''
''Ayah ... Hiks hiks hiks ...! kenapa ayah bicara kayak gitu? kenapa ayah bicara seolah-olah ayah akan pergi jauh, seolah ayah akan pergi selamanya? Tidak ... Aku tidak ingin ditinggalkan oleh ayah. Aku gak mau, ayah harus panjang umur dan menyaksikan sendiri aku menikah, dan menggendong cucu ayah nanti, hiks hiks hiks ..." Ayu semakin tidak kuasa menahan rasa sedihnya.
"Hey ... Ko malah semakin keras sih nangisnya, kalau kayak gini, ayah akan semakin merasa sedih, kamu mau melihat ayah sedih?"
Ayu menggelangkan kepalanya, dan mulai menghentikan suara tangisnya meski suara isakan itu masih sedikit terdengar.
"Iya, aku janji gak akan nangis lagi. Hiks ... Tapi ayah juga janji jangan ngomong kayak gitu lagi, janji ..."
Revan menganggukkan kepalanya seraya tersenyum, menahan tangis.
"Sini, sayang. Ayah ingin memelukmu."
__ADS_1
Ayu langsung memeluk tubuh ayahnya, mendekapnya erat dengan hati yang menahan rasa sedih dan air mata yang di tahan sedemikian rupa agar tidak kembali berjatuhan, dia tidak ingin membuat ayahnya merasa sedih dan terluka.
Perlahan Revan pun mulai mengurai pelukan, menatap wajah sang putri lekat seraya mengusap lembut kedua sisi pipinya.
"Ayu, sayang. Putri kecil ayah, ayah sayang sekali sama kamu. Sungguh ... Kamu adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepada ayah, dan kamu adalah sumber kebahagiaan ayah.''
Ayu mengangguk dengan senyum yang dipaksakan karena sebenarnya, tangisnya sudah tidak dapat lagi di tahan.
''Ayah lelah sekali, sayang. Ayah ingin tidur.''
''Mari aku bantu ayah berbaring, ayah istirahatlah, Om Leo dan Om Alex pasti merasa senang melihat ayah sembuh seperti ini. Ayah tau? mereka khawatir sekali melihat ayah seperti ini,'' ucap Ayu dengan tangan yang membantu tubuhnya berbaring.
''O iya, ayah sampai lupa. Sampaikan juga rasa terima kasih ayah sama si Leo dan juga Alex, bilang sama mereka kalau ayah bahagia sekali sekarang,'' ucap Revan sebelum dia mulai memejamkan mata.
''Sampaikan sendiri besok saat ayah terbangun, kenapa harus meminta aku mengatakannya?''
Ayu tidak mendapatkan jawaban apapun, sepertinya sang ayah sudah benar-benar tertidur lelap sekarang. Ayu pun menutup tubuh Ayahnya itu dengan selimut, lalu kembali tidur di kursi.
🍀🍀
Ayu perlahan membuka mata pelan, entah mengapa matanya basah dengan air mata, dadanya pun terasa sesak kini. Mimpinya malam ini terasa begitu indah dan nyata, dia berharap bahwa itu bukanlah sebuah mimpi.
Untuk memastikan hal itu, Ayu pun bangkit dan berjalan ke arah ranjang, hendak memeriksa keadaan sang ayah.
Perlahan Ayu menatap wajah Revan yang kini memejamkan mata dengan sempurna, menatapnya lekat dan seperti ada yang aneh dari tubuh ayahnya itu, dadanya terlihat tidak lagi naik turun layaknya orang yang sedang tertidur.
''Ayah ...?'' lirih Ayu, dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Revan tidak bergeming, matanya masih tetap terpejam sempurna tidak bergerak sedikitpun.
__ADS_1
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀