
''Apa kamu hamil ...?'' El membuatkan bola matanya.
Bukannya menjawab, Al kini menangis sesenggukan, menutup wajah dengan kedua tangannya, hatinya benar-benar merasa kacau sekarang.
''Axela, jawab. Apa kamu hamil?'' El penuh dengan penekanan.
''Aku gak tau, aku bingung, makannya aku beli alat ini sekarang, hiks hiks hiks ...!''
''Apa kamu sudah datang bulan?''
Al menggelengkan kepalanya.
''Hmm ...!'' El menarik napas panjang. Dia menunduk dan meletakan kepalanya di atas kemudi mobil, terdiam sejenak seperti sedang berfikir, setelah itu baru dia kembali berbicara, mengangkat kepala lalu menoleh, menatap kembarannya yang masih menangis sesenggukan.
''Baiklah, kita cari toilet umum, kamu gunakan alat ini untuk memastikan, apakah kamu hamil atau tidak,'' ujar El, mulai menyalakan mobil.
Al pun mengangguk lalu menghentikan suara tangisnya.
Mobil pun mulai berjalan, meninggalkan parkiran lalu mulai melaju kencang di jalanan, sampai akhirnya mereka tiba di toilet umum, yang berada di tempat pengisian bahan bakar.
El pun menghentikan mobilnya dan memarkir'nya di pinggir jalan. Keduanya pun terdiam sejenak, mencoba menenangkan perasaan masing-masing. Kemudian, Axel menoleh dan menatap wajah saudaranya, menatap dengan tatapan iba, merasa kasihan.
''Kita turun sekarang,'' El dengan lemah lembut.
Al hanya terdiam, wajahnya masih terlihat pucat pasi.
''Al ...!''
''Aku takut, El. Kalau aku beneran hamil gimana?''
''Makannya kita cek dulu, masalah hamil atau tidak, kita pikirkan nanti, ya?''
''Aku takut, El ... hiks hiks hiks ...'' Al kembali menangis.
Axel mendekatkan tubuhnya, meraih lalu memeluk tubuh saudara'nya, mengusap punggungnya mencoba untuk menenangkan.
''Jangan khawatir, aku saudaramu, akan selalu menemani kamu, apapun yang terjadi, aku gak akan membiarkanmu menderita sendiri. Kita turun sekarang, ya ...?'' El melepaskan pelukan saudaranya.
Dia pun turun terlebih dahulu, setelah itu dia berlari ke arah samping dan membukakan pintu mobil untuk Axela.
El bahkan mengulurkan tangannya, agar kembarannya itu memegang tangannya saat hendak turun dari dalam mobil. Mereka berjalan beriringan, menuju toilet, sampai akhirnya, Al pun masuk kedalam sana, dengan membawa alat yang telah dia beli tadi.
Sementara El, dia menunggu di luar toilet dengan perasaan cemas tentunya, apa yang akan terjadi dengan saudaranya, jika dia benar-benar hamil? bagaimana dengan masa depannya nanti? dan yang paling membuatnya cemas adalah, reaksi kedua orang tuanya apabila mereka sampai tahu hal ini.
__ADS_1
Axel pun menggelengkan kepalanya, mengusap wajahnya dengan sedikit kasar, dan mencoba menyingkirkan fikiran-fikiran buruk yang saat ini menggerogoti otaknya.
'Tenang Axel, belum tentu juga Al hamil,' ( Batin El menghibur diri sendiri )
Sementara di dalam toilet, Al mulai meletakan alat tes kehamilan ke dalam urin yang sudah dia tampung di sebuah wadah kecil, membiarkannya selama beberapa detik, lalu mulai mengangkat'nya pelan. Dia pun memejamkan mata, saat alat itu mulai berubah warna.
''Al, kenapa lama sekali? kamu baik-baik saja kan?'' El mengetuk pintu kamar mandi.
Al mengabaikan panggilan Axel, dan tidak menjawabnya.
Al pun mulai membuka mata, sedikit demi sedikit, dengan perasaan takut dan tubuh yang mulai gemetar, dia mencoba menatap alat tersebut, dengan mata yang sedikit di sipit'kan.
Deg ...
Jantung Al pun berdetak dengan begitu kencang, dia pun terduduk lemas seketika, saat melihat hasil dari tes kehamilan yang saat ini dia pegang.
''Dua garis merah, hiks hiks hiks ...!''
Al berucap pelan, lalu menangis, dengan memeluk lututnya, duduk di teras kamar mandi.
Tok
Tok
Tok
Ceklek ...
Pintu kamar mandi pun terbuka, Al keluar dari dalam kamar mandi dengan langkah gontai dan suara isak yang terdengar pelan, menatap wajah saudara kembarnya lalu memeluknya dan meluapkan semua kesedihan yang saat ini dia rasakan di pelukan sang kakak.
''Bagimana hasilnya?'' El mengusap punggung Al.
Al tidak menjawab, dan terus menangis tak henti seraya memeluk dengan begitu erat tubuh saudara kembarnya itu, dia bahkan tidak mempedulikan setiap orang yang menatap ke arah mereka berdua, melayangkan tatapan heran, karena seharusnya kedua siswa siswi itu berada di sekolah sekarang.
''Kita kembali ke mobil, ya. Gak enak diliatin orang,'' bisik El.
Al pun mengangguk lalu melepaskan pelukan sang kakak, dan dia pun mengusap wajahnya yang basah dengan air mata. Setelah itu keduanya pun berjalan menuju mobil yang tadi di parkir di pinggir jalan.
Di dalam mobil.
Axela menyandarkan kepalanya di sandaran mobil, menatap ke luar jendela yang berada di depan, pandangan matanya terlihat kosong, tangisnya memang sudah tidak terdengar lagi, namun, kesedihan itu masih menyelimuti hati kecilnya.
Sedih, takut, cemas, dan khawatir, semuanya bercampur aduk menjadi satu di dalam perasaan seorang Al, hingga dia pun tidak dapat lagi mengungkapkan kesedihan yang sedang dia rasakan dengan kata-kata.
__ADS_1
''Al, bagaimana hasilnya?'' El kembali bertanya karena belum mendapat jawaban.
Al tidak menjawab, dia hanya menyerahkan alat tes itu dengan tanpa menoleh dan tanpa mengatakan sepatah katapun.
El pun menerimanya dengan perasaan yang berdebar sebenarnya, membuka matanya lebar-lebar.
''Dua garis merah? ini artinya, kamu--'' El tidak kuasa meneruskan ucapannya.
Al mengangguk dengan wajah datar dan tanpa ekspresi apapun. Merasa geram, El pun memukulkan benda itu ke stir mobil, hingga benda tersebut hancur berkeping-keping, setelah itu, dia menunduk, menyandarkan kepalanya di atas kemudi mobil, menatap ke arah bawah, raut wajah kecewa terlihat jelas dari wajah tampan seorang Axel.
''Kita datangi rumah pacar'mu, kita suruh dia bertanggung jawab, kalau perlu kamu menikah sekarang juga,'' El mengangkat kepalanya lalu menatap ke luar jendela.
''Nggak, jangan sekarang, aku ingin tenang, dulu. Bawa aku pulang, tubuhku lelah sekali, aku ingin beristirahat,'' lirih Al pelan, seolah kehabisan tenaga.
''Tapi, Al --?''
''Axel, please ...! Kita bicarakan lagi nanti ya, dan jangan beritahu Mommy dan Papi dulu, aku mohon ...! Aku ingin tenang dulu ...!'' Al mengiba.
''Baiklah, jika memang itu yang kamu inginkan, tapi ingat, jangan sampai kamu nekat dan melakukan hal yang tidak-tidak, oke ...?''
Al mengangguk pelan
Kemudian, mobil pun mulai berjalan.
***
Sesampainya di rumah.
Tut
Tut
Tut
El membunyikan klakson mobil, memberi isyarat kepada Bapak satpam yang berada di pos untuk membukakan pagar, dan tanpa menunggu lama, pintu pagar pun di buka dan El segera melajukan mobilnya memasuki halaman.
Seharusnya dia berjalan lurus menuju bagasi, namun, karena melihat sang ayah berada di dalam pos satpam, dia pun menghentikan mobilnya, tepat di depan pos tersebut.
El pun keluar lalu menghampiri sang ayah.
''Pap, lagi apa si sini? bukannya papi masih sakit?'' tanya El berdiri di samping sang ayah.
''Ini, Papi lagi liat CCTV di rumah kita, siapa tahu wajah dari orang yang masuk ke rumah kita waktu itu, bisa kelihatan, Papi baru sempat mengecek CCTV.''
__ADS_1
__________----------___________