
Axel, dia pun akhirnya membuka matanya secara sempurna, menatap siswi yang saat ini berdiri tepat di depan kelas.
'Apakah dia siswi baru di kelas ini?'
Batin Axel...
setelah perkenalan, wali kelas pun meminta Amora untuk duduk di meja kosong yang berada tepat disebelah Axel.
Amora pun mengangguk dan duduk di kursi tersebut. Pandangannya tampak menatap lekat wajah Axel, dengan melayangkan senyuman manis, Amora duduk tepat di samping pria tampan tersebut.
Axel yang merupakan siswa populer di sekolahnya, tidak merasa bergetar sama sekali ditatap oleh wanita cantik seperti Amora.Toh selama ini dia sudah terbiasa di tatapan oleh seorang wanita cantik, jadi hal itu merupakan hal biasa saja bagi dirinya.
''Nama kamu siapa?'' tanya Amora duduk lalu mengulurkan tangannya.
Axel menoleh dan melayangkan tatapan datar.
''Nama gue Axel...''
''Dih, wajah'nya sombong amat si, mentang-mentang ganteng.''
Jawab Amora tidak suka dengan tatapan yang di layangkan oleh Axel, tatapan sombong dan angkuh yang memang sudah menjadi ciri khas pria tampan bernama Axel tersebut.
''Baiklah, kita mulai pelajaran pertama pagi ini.''
Ucap wali kelas memulai pelajaran pertama.
***
Ting Tong
Bel tanda pulang sekolah pun berbunyi, Axel merapikan buku pelajaran yang berserakan di atas meja, memasukan'nya ke tas berwarna hitam kepunyaan'nya.
Amora pun melakukan hal yang sama, setelah itu dia berdiri dan hendak berjalan, namun tanpa di sangka kaki panjang Axel yang memang sedang sedikit di rentangkan menyandung kaki Amora yang hendak melangkah.
''Aw...''
Bruk
Amora pun tersungkur ke atas lantai, wajahnya memerah dengan mata yang di bulatkan sempurna, mulutnya pun sedikit menganga menatap lantai putih yang saat ini berada tepat di depan wajahnya.
Sementara itu, Axel langsung berdiri dan tertawa, menatapi tubuh wanita yang kini tertelungkup dengan rok sekolah yang sedikit terbuka, membuat kaki panjang Amora terekspos sempurna.
Amora pun bangkit dan berdiri tepat di depan Axel, wajahnya masih merah menahan rasa geram, dia pun mengangkat satu kakinya lalu menginjak kaki Axel dengan begitu kerasnya.
''Argh...! sakit...! apa-apan si, Lo yang salah juga? kalau jalan lihat-lihat dong?''
__ADS_1
''Kaki, Lo yang menghalangi langkah gue tau.''
Keduanya berdiri berhadapan, sangat dekat dan saling melayangkan tatapan tajam, mata Axel menatap lekat wajah Amora dengan raut wajah yang sedikit meringis kesakitan karena kakinya di injak dengan begitu kuatnya oleh kaki Amora.
Sedangkan, wanita cantik berambut pirang yang bernama Amora, menatap wajah Axel juga dengan tatapan tajam, menahan rasa geram karena dirinya baru saja tersungkur ke atas lantai, akibat tersandung kaki panjang Axel.
''Minta maaf nggak lo? gara-gara kaki sialan Lo ini gue jadi jatuh,'' pinta Amora masih dengan tatapan tajam.
''Kenapa gue yang harus minta maaf, hah...? mata Lo aja yang katarak, jalan gak liat-liat...''
''Dasar, pria sombong...''
''Lo tuh yang sombong, baru juga sehari sekolah di sini udah berani bikin ulah sama gue, apa jangan-jangan Lo sebenarnya caper sama gue? karena gue tampan? ngaku Lo...?''
''Ha... ha... ha...! percaya diri banget si Lo...!"
Tidak lama kemudian, Axela yang memang juga bersekolah di sana masuk ke dalam kelas, berjalan menghampiri Axel dengan tatapan heran.
"Ada apa ini?" tanya Axela berdiri tepat di samping saudara kembarnya.
Amora, menatap wajah Axela dan juga Axel secara bergantian, menatap dengan tatapan heran, karena keduanya terlihat begitu mirip meski berbeda jenis kelamin.
"Kalian kembar?"
Tanya Amora merasa penasaran.
"Pacar...? Tidak..."
Axel dan Amora menjawab secara bersamaan.
Al pun merasa heran lalu menatap keduanya secara bergantian dengan kening yang sedikit di kerut'kan.
"Udah... udah... jangan bilang tidak, nanti jatuh cinta beneran Lo..."
"Apaan sih, udah ayo kita pulang sekarang, kamu gak bawa mobil kan?" Axel merangkul pundak adiknya dan berjalan meninggalkan Amora.
Sementara Amora hanya berdiri mematung menatap wajah dua saudara kembar yang berjalan keluar dari dalam kelas 11 IPA tersebut.
'Tampan tapi songong...'
Batin Amora.
***
Sementara itu, di hari dan jam yang sama, Lucky pun sudah keluar dari sekolah'nya, dia mengendarai mobil mewah berwarna hitam, mobil tersebut berjalan secara perlahan meninggalkan halaman sekolah.
__ADS_1
Matanya tampak menatap lurus ke depan, dengan kaca mata hitam yang membuat penampilan'nya terlihat semakin sempurna.Setelah keluar dari gerbang sekolah, mobil pun segera melaju kencang di jalanan.
Di temani musik yang menjadi kegemaran nya, Lucky remaja tampan dengan kecerdasan di atas rata-rata serta berpenampilan layaknya pria dewasa itu, melajukan mobil yang di kendarai'nya dengan kecepatan tinggi, tidak peduli meski usianya masih di bawah umur untuk mengendarai mobil sendiri.
Matanya tampak menatap lurus ke depan, dengan bibir yang sedikit komat Kamit mengikuti lirik lagu yang saat ini sedang di putarnya.
Namun, tiba-tiba saja matanya tertuju pada seorang wanita yang berdiri di pinggir jalan, dia menatap dengan seksama lalu menghentikan mobilnya dan berjalan mundur hingga mobilnya tersebut berada tepat di depan wanita itu.
''Ibu Emil...? sedang apa di sini?'' tanya Lucky, membuka kaca mobil.
Emillia pun terkejut, mendapati anak didiknya mengendarai mobil sendiri.
''Lucky...? kamu bawa mobil sendiri?''
''Iya...! ibu mau kemana? mari saya antar.''
''Hmm... tidak usah, biar nanti ibu naik taksi saja?''
''Di daerah sini jarang ada taksi, Bu. meskipun ada, datangnya lama.''
Emillia terdiam, seperti sedang berfikir keras, sampai akhirnya dia pun menganggukan kepala meski sedikit ragu.
Merasa senang, Lucky pun segera membukakan pintu mobil untuk wali kelasnya tersebut, sesuatu yang belum pernah dia lakukan sebenarnya, dan tanpa sadar dia pun melakukannya, memberikan tumpangan kepada seorang wanita, membuka'kan pintu'nya pula.
''Lucky, apa orang tuamu mengijinkan kamu mengendarai mobil sendiri?''
Emilia bertanya sesaat setelah anak didiknya tersebut duduk di kursi kemudi.
''Kenapa? apa ibu juga berpikir bahwa aku masih anak kecil?''
Lucky mulai menyalakan mobil.
''Tentu saja? emang kamu masih di bawah umur, kan?''
''Akh... ibu sama aja kaya kaka aku, menganggap aku anak kecil.''
''Memang kenyatannya seperti itu, kan? umur kamu masih 15 tahun. Tunggu, jadi kamu punya Kaka juga?''
''Iya, tepatnya kakak'ku kembar, Laki-laki dan perempuan.''
''O ya, pasti seru sekali memiliki dua Kaka sekaligus, gak seperti ibu, yang hanya sebatang kara.''
''O ya? memang keluarga ibu kemana?''
''Kedua orang tua ibu sudah meninggal, dan ibu hanya tinggal sendiri sejak saat itu.''
__ADS_1
___________--------__________