Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Kejutan


__ADS_3

''Kenapa dia bisa datang kemari?'' Briel bergumam berdiri di balik pintu.


Trok


Trok


Trok


Pintu pun kembali di ketuk, kali ini terdengar lebih bertenaga, dengan diiringi suara yang memanggil namanya.


''Gabrie ...!''


Tok


Tok


Tok


Ceklek ...


Akhirnya Gabriel pun membuka pintu, menatap wanita yang kini berdiri di balik pintu dengan perasaan kesal dan wajah masam, bibirnya pun di kerucutkan sedemikian rupa, namun tetap terlihat cantik di mata seorang Gabriel.


''Lama banget, si?'' Al masuk kedalam rumah.


''Maaf, tadi aku lagi di belakang,'' Briel terbata-bata.


Tanpa menoleh ke arah Gabriel, gadis cantik berambut panjang itu langsung duduk di kursi ruang tamu, menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi lalu memejamkan mata.


''Kenapa? kayaknya kamu lelah banget?'' tanya Briel.


''Nggak, biasa aja, aku cuma ngantuk.''


Al masih belum menyadari bahwa kekasihnya sedang dalam keadaan terluka sebenarnya, karena terlalu kesal, Dia sampai belum sempat menatap wajah kekasihnya sama sekali.


Gabriel pun duduk di kursi yang tadi dia duduki, kursi yang terletak tepat di depan kursi yang saat ini di duduki oleh Axela.

__ADS_1


''Kalau mau minum ambil sendiri ya,'' ucap Briel. Lalu dirinya berbaring di atas kursi.


Al pun membuka mata, dia menatap wajah sang kekasih, dan terkejut seketika itu juga, dia pun bangkit lalu menghampiri kekasihnya, duduk di tepi kursi.


''Wajah kamu kenapa? kenapa banyak sekali luka?'' tanya Al. Meraba satu-persatu luka di wajah kekasihnya.


''Sadar juga akhirnya ...'' Briel sedikit tersenyum.


''Tadi aku kesal, makannya gak sempat lihat wajah kamu, maaf, karena baru sadar kalau kamu terluka. Pasti rasanya sakit banget, kan?''


''Nggak, biasa aja. Aku udah biasa terluka kayak gini, kamu gak usah khawatir ya.''


''Gimana aku gak khawatir? luka kamu banyak banget, masih basah lagi. Kamu pasti habis berkelahi, kan? atau, di pukuli sama orang? ayo bilang siapa orangnya, biar aku hajar dia.''


Bukannya menjawab, Briel malah membungkam bibir merah kekasihnya dengan bibirnya, membenamkan'nya dalam-dalam agar kekasihnya tersebut berhenti bicara.


Al pun memejamkan mata seketika itu juga, merasakan hangatnya sentuhan lembut bibir kekasih'nya itu.


''Sudah, ngomel-ngomelnya?'' sesaat setelah Briel melepaskan kecupannya.


Gabriel pun terus melakukan hal itu, saat kekasihnya hendak mengatakan sesuatu, dia pun menutup mulut kekasihnya tersebut, selama berkali-kali sampai akhirnya Al pun menyerah dengan mengangkat kedua tangan'nya ke udara.


''Aku menyerah, sayang. Baiklah, aku gak akan bertanya apapun lagi, aku janji,'' ucap Al dengan sedikit tersenyum.


''Jangan bertanya apapun dulu hari ini, oke. Tubuh aku sakit semua, aku ingin beristirahat tanpa mendengar Omelan kamu.''


''Iya-iya, baiklah, aku gak akan ngomong apa-apa lagi,'' jawab Al.


Dia pun berbaring di samping sang kekasih, meringkuk tepat di sampingnya dan melingkarkan tangannya di perut kekasihnya tersebut, dengan raga yang saling menempel satu sama lain hingga tidak ada lagi jarak di antara keduanya.


Sepasang kekasih itu pun mulai memejamkan mata, dengan raga yang saling berpelukan, namun, tanpa melakukan apapun, hanya seperti itu, sampai keduanya benar-benar tertidur lelap.


Dua jam kemudian.


Axela mulai membuka mata, dia pun mengedipkan kedua kelopak matanya seraya mengusap dengan kedua tangan lalu menguap, setelah matanya terbuka sempurna dia pun mencari sosok sang kekasih yang ternyata sudah tidak berada di sampingnya.

__ADS_1


''Sayang, kamu dimana?'' Teriak Al. Dia pun menatap ke sekitar.


Entah mengapa suasana rumah terasa gelap, padahal hari belum beranjak malam, semua gorden di tutup dengan begitu rapat, sehingga, cahaya matahari tidak dapat masuk ke dalam ruangan.


Al pun bangkit dan berdiri, matanya masih menatap ke sekeliling rumah, merasa heran dan sedikit ketakutan sebenarnya. Perlahan dia mulai berjalan, pelan, dengan tubuh yang sedikit gemetar.


Sampai tiba-tiba, Briel keluar dari arah kamar, membawa keu tart berbentuk hati dengan lilin angka 2 yang menyala di atasnya, sontak hal itu membuat Al terkejut seketika, dia menutup mulut dengan kedua tangannya, dengan mata yang terlihat berkaca-kaca merasa terharu.


''Apa ini?'' lirih Al, sedikit tersenyum.


''Hari ini adalah Anniversary kita yang ke 2 bulan, Al ...'' jawab Briel. Dia pun berjalan mendekat.


Al pun semakin terkesima, ada rasa bahagia yang kini terselip di dalam hatinya, dia sendiri sudah melupakan tanggal pertama kali mereka bertemu, tapi, kekasihnya itu masih mengingat'nya, bahkan, memberikan kejutan spesial untuk dirinya, sungguh hati seorang Axela bagai berada di awan, terasa di sanjung dan di puja oleh kekasih yang sangat dicintainya itu.


''Tiup dulu lilinnya, nanti keburu habis meleleh, lho.''


"Baiklah ..."


Axela pun segera meniup lilin, dengan senyuman yang senantiasa mengembang dari kedua sisi bibir mungilnya, lilin pun padam hanya dengan satu kali tiupan. Setelah itu, Briel menyimpan kue tart tersebut di atas meja.


Kemudian, tanpa di duga dan tanpa di sangka, Briel pun berlutut tepat di depan Al, dengan kotak cincin yang terbuka di telapak tangannya, membuat kejutan yang di berikan oleh pemuda itu semakin sempurna dan sukses membuat seorang Al terkesima.


''Axela, terima kasih telah hadir di hidup aku, selama dua bulan ini hari-hariku terasa begitu bahagia, selama dua bulan ini setiap hari yang aku jalani terasa berharga, dan semenjak kau hadir di dalam kehidupanku, ada banyak harapan yang kini ingin aku capai bersamamu, kehadiranmu membawa warna baru di dalam hidupku, dan kehadiranmu membuatku ingin berubah dan menjalani hidupku dengan lebih baik dengan sejuta harapan. Maukah kamu menemani hari-hariku selamanya? sampai kita tua nanti dan maut memisahkan kita,'' ucap Briel dengan mata berkaca-kaca.


Axela pun menitikkan air mata, apa yang baru saja di katakan oleh kekasihnya itu sungguh membuat hatinya sangat bahagia sekaligus tersentuh, setiap rangkaian kata yang di ucapkan oleh pemuda yang bernama Gabriel itu membuat hati Al serasa melayang ke udara.


Entah gombal atau memang benar-benar tulus, Al tidak peduli, yang pasti, rasa cintanya kepada kekasihnya itu, serasa semakin mendalam di hatinya.


Tanpa menunggu lama, Al pun mengangguk seraya tersenyum.


"Iya, aku mau. Mari kita menghabiskan waktu bersama selamanya, sampai kita tua dan maut memisahkan kita, meski kita tidak menikah sekarang, tapi aku harap kamu sabar menungguku, sampai aku lulus dan dewasa nanti."


Briel pun menyematkan cincin yang di belinya di jari manis seorang Axela, kemudian keduanya saling berciuman, sebagai akhir dari rangkaian kebagian yang baru saja mereka dapatkan.


________-------------__________

__ADS_1


__ADS_2