Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Axel, Axela dan Lucky


__ADS_3


Visual Axel ❤️❤️❤️


Lima belas tahun kemudian.


Axela berlari dari dalam kamarnya, berteriak memanggil saudara kembarnya dengan wajah yang terlihat kesal, bibirnya pun sedikit di kerucutkan dengan mata yang di bulatkan sempurna merasa kesal kepada kakak'nya tersebut.


Rambut panjangnya sedikit berantakan, masih dengan memakai piyama pendek berwarna ungu membalut tubuh langsingnya. Al biasa gadis itu di sapa sehari-hari.


Ceklek


Axela membuka pintu kamar Axel, dan masuk kedalam'nya.


''Bangun, Axel...!''


Al menyibakkan selimut tebal yang menutupi seluruh tubuh saudara'nya.


Tak bergeming Axel tetap dalam posisi tidurnya, meringkuk dengan memeluk satu buah bantal guling. Al pun semakin kesal, dia meraih secara paksa guling lalu melemparkannya ke atas lantai.


''Axel bangun, ikh... nyebelin banget si kamu, lihat nih, pacar'mu nelpon'in aku terus, risih tahu. Axel...'' Al berteriak kencang.


Axel pun membuka mata secara perlahan, namun dia masih enggan menanggapi Omelan dari adiknya tersebut, alhasil dia pun menarik kembali selimut yang tadi sempat di sibak'kan oleh kembaran'nya.


Axela pun semakin kesal, dia naik ke atas ranjang dan berjingkrak-jingkrak di atas sana hingga ranjang pun bergoyang, membuat Alex yang masih mengantuk membuka mata sempurna.


''Bangun nggak kamu, dasar Playboy berhati dingin...'' ujar Axela masih dengan berjingkrak, bahkan semakin kencang dan ranjang pun semakin bergoyang.


''Apaan si, ganggu orang lagi tidur aja si.''


''Cepat bangun, jika tidak, aku akan robohkan tempat tidurmu ini.''


''Iya... iya... aku bangun.''


Axel pun bangkit dan duduk, dia pun merentangkan kedua tangannya lalu menguap, meski dalam posisi duduk namun matanya masih sedikit terpejam, menahan rasa kantuk.


Al pun menghentikan gerakannya, lalu duduk dengan membanting diri tepat di hadapan saudara'nya.


''Heh, play boy... pacarmu nelpon'in aku terus, ada apa si? risi tau, ganggu orang aja, lain kali jangan ngasih nomor telepon aku ke sembarang orang, ya...''


''Abaikan saja, lagian aku sudah putus sama dia.''


''Apa? putus?''

__ADS_1


Axela pun membanting tubuhnya terlentang di atas tempat tidur.


''Pantas saja dari semalam dia nelpon'in terus, putus ternyata, ko bisa, kalian kan baru pacaran satu bulan?''


''Bosan...''


Axel membaringkan tubuhnya tepat di samping Axela, lalu keduanya sama-sama menatap langit-langit kamar, menatap dengan tatapan kosong.


''Mau sampai kapan kamu mau seperti ini, El...! apa gak bosan gonta-ganti pacar terus?''


''Justru itu, aku bakalan cepat bosan jika tidak buru-buru ganti pacar dalam satu bulan, lagian aku kan tampan, mempesona, kaya pula, jadi mudah bagi aku untuk menarik hati wanita.''


''Diih... rasa percaya diri'mu itu, mirip dengan papi...''


''Kenapa pagi-pagi begini sudah pada ribut sih? pake bawa-bawa papi lagi.''


Leo berjalan masuk kedalam kamar.


''Papi...?''


''Al nih, pagi-pagi udah gangguin aku tidur, gak sopan banget sih,'' El menggerutu kesal.


''Lagian Pi, masa Axel gonta-ganti pacar terus, baru juga satu bulan pacaran udah putus aja, kan kasian cewek'nya,'' jawab Axela mengerucutkan bibirnya.


''He... he... he...! iya, Pi...!''


Leonardo menggelengkan kepalanya, lalu mengacak rambut Axel dengan tersenyum.


''Ko papi malah senyum-senyum gitu si? ga asik akh...'' Axela kesal, diapun bangkit lalu duduk di atas tempat tidur.


''Al...! wajar dong masih remaja ini, namanya juga cinta monyet...'' jawab Leo sekenanya.


''Iya... iya... terserah papi aja, papi sama Axel sama aja, sama-sama playboy...''


''Hey... tidak, jangan sembarangan ya cantik, meskipun papi sewaktu masih muda, tampan, penuh karisma, kaya raya dan tentu saja banyak wanita yang mengantri ingin jadi pacar papi, tapi...! di hati papi tetap hanya ada satu wanita, dari dulu, sekarang dan nanti, tetap mommy mu yang bersemayam di sini, di hati papi, ngerti?''


''Akh, gombal...''


Adelia tiba-tiba saja masuk kedalam kamar dan mendengar ucapan suaminya. Dia pun tersenyum lalu duduk di samping Axela, putri kesayangan'nya.


''Sayang...! ko gitu sih?'' Leo menatap wajah Adelia dan berucap dengan nada suara yang terdengar manja.


''Papi...! geli tau, sudah tua juga, masih manja-manja gitu sama mommy...'' Axela tertawa.

__ADS_1


''What...? Sayang, jangan pernah menyebut papi tua, ya. Papi itu masih tampan, meski tidak muda lagi, tapi ketampanan papi tidak memudar sedikit'pun, oke...?''


''Iya... iya... terserah papi aja, papi sama Axel sama saja, sama-sama memiliki rasa percaya diri yang tinggi.''


''Yang paling penting, sama-sama tampan, ya kan?'' ucap Leo dan Axel secara bersamaan.


Adelia dan Axela pun saling melirik dengan tersenyum geli.


''Kalian lagi apa si? ko aku gak di ajakin?'' Lucky, bungsu memasukan separuh kepalanya ke dalam kamar, tangannya tampak mengusap kedua matanya yang serasa masih mengantuk berat, mulut'nya pun di buka lebar, menguap.


''Sayang, kamu udah bangun?''


Adelia menghampiri putra bungsunya, lalu meletakan lengan di pundak Lucky, dan membawanya masuk kedalam kamar.


''Berisik sekali, perdebatan kalian sampai terdengar ke kamar aku, tau.''


Lucky menggerutu kesal, seraya membaringkan tubuhnya di atas ranjang di samping sang ayah.


''Udah, anak kecil gak usah tahu, ini urusan orang dewasa,'' Axel mengangkat kepalanya menatap wajah adik bungsunya tersebut.


''Umurku sudah 15 tahun, kak. Bukan anak kecil lagi, kan mom, Pih...?''


Lucky menatap wajah kedua orang tuanya secara bergantian.


''Iya, sayang. Kamu bukan anak kecil lagi ko, tapi tetap, di mata mommy, kamu masih seperti bayi yang harus di jaga,'' jawab Adelia tersenyum.


''Akh, mommy...!"


Lucky mengerucutkan bibirnya.


Axel, Axela, dan Lucky, ketiga putra putri Leo dan Adel tumbuh dengan baik, Axel memiliki wajah yang tampan sempurna, mirip dengan wajah Leonardo sewaktu muda, sedangkan Axela, dia pun memiliki wajah yang cantik, putih, hidung mancung, mata yang bulat sempurna dengan rambut panjang berwarna hitam berkilau, tinggi semampai, wajah'nya pun hampir mirip dengan kembaran'nya, Axel.


Sementara Lucky, wajahnya juga tampan, namun, memiliki sifat yang lebih pendiam, tidak seperti Kaka sulung'nya, yang menuruni sifat ayahnya, sombong, percaya diri dan periang. Umurnya yang masih remaja membuatnya terlihat lebih cool dengan pembawaan yang tenang.


Meski memiliki sifat yang berbeda, namun, ketiga'nya saling menyayangi satu sama lain layaknya saudara kandung, meski kadang perdebatan dan pertengkaran kecil mewarnai hari-hari mereka.


Seperti yang terjadi pagi ini, saling berdebat, bercanda dan bersenda gurau.


Sungguh, Leonardo menjalani kehidupan yang bahagia dan juga sempurna, tanpa tahu bahwa masalah besar sedang menanti dirinya di depan.


Sanggupkah keluarga bahagia itu menghadapi badai yang telah siap menghantam mereka di depan?


___________--------__________

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya Reader ❤️❤️❤️


__ADS_2