Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Ngidam Buah Mangga Tetangga


__ADS_3

Angel diam mematung, dirinya terkesiap mendengar ucapan dari mantan kekasihnya, dia yang dulunya sangat mencintai dirinya bahkan rela melakukan apapun untuknya, kini telah berubah 180 derajat.


Rasa sakit seolah menusuk hatinya, dan jiwanya serasa dicabik-cabik karena mendapat penolakan dari orang yang di cintai'nya, dia pun mengepalkan tangan, lalu memukul meja yang berada di hadapannya, dia bahkan berteriak kencang di iringi dengan air mata yang mulai menetes membasahi pipi mulusnya.


'Haaa...! Leonardo...! Lihat saja, aku akan menghancurkan keluarga kecilmu itu, kamu pikir aku benar-benar mencintai'mu, aku terpaksa mengemis cinta karena aku tidak suka dengan kekalahan, aku tidak terima jika wanita kampungan menang dariku.'


Angel murka dan berbicara sendiri, matanya terlihat merah menahan amarah, dan jarinya di kepalkan merasakan dendam.


Dia pun akhirnya keluar dari dalam ruangan Leo dengan mata sembab dan dada yang naik turun merasakan gejolak yang membara karena penolakan.


Angel pun kembali menatap Poto yang dia ambil kembali dari atas meja di dalam ruangan bosnya, menatap wajah Jimmy selingkuhannya yang kini telah tiada.


'Jimmy, andai saja kamu tidak mati tragis, mungkin sekarang aku sudah hidup bahagia denganmu.'


Dia bergumam masih dengan lelehan air mata yang terus mengalir dengan begitu derasnya.


_____-----_____


Huek


Huek


Huek


Adelia berjongkok di depan toilet, mulutnya terasa mual dengan seluruh isi perut yang serasa ingin keluar, namun tidak ada apapun yang di keluarkan, dirinya hanya merasakan rasa mual yang berlebihan sehingga mendorongnya untuk bolak balik ke kamar mandi.


Dia pun duduk selonjoran di dalam kamar mandi, dengan dada yang naik turun menahan nafasnya yang teras sesak akibat terlalu lama menahan rasa ingin muntah.


''Adelia... kamu sedang apa, kenapa lama sekali di kamar mandi?'' tanya Leo berteriak dari luar sana.


''Masuk saja, nggak di kunci ko.''


Ceklek


Leo pun membuka pintu, dan terkejut seketika, dia berlari menghampiri sang istri yang terlihat selonjoran di samping toilet dengan wajah pucat.


''Adel... kamu kenapa? ya ampun sayang,'' Leo menghampiri dan segera meraih tubuh Adelia dan menggendongnya ke dalam kamar, membaringkannya di atas tempat tidur.


''Tubuh aku lemas sekali, tadi aku muntah-muntah terus, rasanya pusing dan mual...'' jawab Adelia duduk dengan bersandar bantal di belakang punggungnya.


''Wajar saja, Del. Kamu sedang hamil muda, ibu juga begitu dulu, waktu hamil kamu,'' ibu masuk ke dalam kamar, berbicara sambil berjalan menghampiri.

__ADS_1


''Begitu...? tapi wajah kamu sampai pucat begini, apa kita perlu ke dokter?'' ujar Leo, menatap wajah pucat sang istri serta menggenggam jemarinya.


''Sini, ibu balur'kan minyak kayu putih, biar badanmu hangat,'' ibu menawarkan, membawa kayu putih lalu mengoleskannya di perut, punggung dan dada Adelia.


''Gimana, hangat kan?'' tanya ibu kemudian.


Adelia mengangguk dengan sedikit tersenyum. Namun tidak lama kemudian mulutnya kembali merasa mual, dia pun kembali berlari ke kamar mandi, menutup mulut dengan satu lengannya. Leo mengikuti dari belakang dengan wajah yang terlihat khawatir.


Huek


Huek


Huek


Adelia kembali berjongkok di atas toilet, kali ini dia benar-benar muntah, seluruh makanan yang di makannya kembali keluar, Leo menatap sang istri dengan tatapan iba, dia mengusap punggung istri tercintanya.


''Kamu ngapain disini? keluar sana, kan jorok ngeliatin aku muntah seperti ini,'' Adelia menatap wajah sang suami.


''Nggak mau, aku mau di sini nemenin kamu, lagian nggak ngerasa jorok sama sekali, kamu kan istri'ku, kalau yang aku lihat orang lain, mungkin baru aku merasa seperti itu,'' Leo terus mengusap punggung sang istri yang kembali muntah tiada henti.


Setelah selesai mengeluarkan seluruh isi perutnya, Adelia pun keluar dari dalam kamar mandi dengan di gendong oleh suaminya, dia melingkarkan lengan di leher sang suami dengan kepala yang di sandarkan di dada bidan suaminya tersebut.


''Sayang, kita ke Dokter aja yu, aku nggak tega ngeliat kamu kayak gini,'' Leo merapikan rambut Adelia yang terlihat sedikit berantakan.


''Nggak usah, nanti juga sembuh sendiri,'' Adelia menolak.


''Ya sudah kalau kamu tidak mau, Dokternya saja yang kesini, kalau begitu,''' jawab Leo meraih ponsel dan menelpon Ryan untuk memanggil Dokter kandungan.


Ibu menatap wajah menantunya dengan tersenyum, merasa bersyukur karena memiliki menantu yang sangat perhatian, dia pun duduk di sebelah Adelia di pinggir ranjang.


''Kamu sungguh beruntung, nak. memiliki suami yang sangat baik dan perhatian seperti dia,'' ucap ibu masih dengan menatap wajah menantunya.


''Iya, Bu. Adel juga bersyukur sekali,'' jawab Adelia dengan pandangan mengarah ke arah suaminya yang sedang menelpon Ryan.


''Tunggu ya, Ryan sedang memanggil Dokternya kesini, sebentar lagi juga datang,'' Leo selesai menelpon dan berjalan menghampiri.


''Suamiku, sayang. Rasanya aku ngidam sesuatu deh,'' ucap Adelia secara tiba-tiba dengan memasang wajah manja.


''Ngidam apa? katakan saja, aku pasti akan mengabulkannya,'' jawab Leo dengan mengangkat kepalanya.


''Beneran...? apapun...?'' Adelia memastikan.

__ADS_1


''Iya, apapun...'' jawab Leo dengan nada suara yang penuh dengan penekanan.


''Sini deh, kamu lihat nggak, pohon mangga yang itu?'' ucap Adelia menunjuk satu jarinya ke arah jendela, dan terlihat pohon mangga tetangganya, tinggi menjulang dengan buahnya yang terlihat ranum bergelayutan memenuhi setiap sudut pohon.


''Iya aku lihat...! kamu mau buah mangga?''


Adelia mengangguk.


''Ok, aku beli ke swalayan, tunggu sebentar ya,'' Leo hendak pergi keluar dari dalam kamar.


''Tidak, bukan seperti itu,'' Adel mengehentikan.


''Terus...?''


''Aku ingin buah mangga yang itu, tapi harus kamu sendiri yang naik ke sana,'' jawab Adelia menatap pohon mangga dari dalam jendela.


''Apa...? kamu serius?'' Leo membulatkan bola matanya, berjalan ke arah jendela dan menatap pohon mangga milik tetangga.


''Tapi itu, bukan pohon mangga kita?''


''Ya, kamu ijin dulu dong sama pemiliknya, bilang aja istri kamu ngidam, pasti di kasih ko,'' rengek Adelia.


''Beli aja deh, please... aku malu kalau harus meminta-minta hanya untuk buah mangga, aku beli satu truk juga sanggup ko, tapi jangan suruh aku minta-minta sama tetangga, itu sesuatu yang belum pernah aku lakukan, Adelia... istriku... ya... ya...?'' Leo merengek seperti anak kecil yang tidak mau di suruh oleh orangtuanya.


''Ini bukan permintaan aku, tapi keinginan calon bayi kita, tadi katanya apapun akan di lakuin? bohong ternyata, dimintai tolong sama istrinya begitu saja tidak mau, dasar Leonardo, pembohong,'' Adelia memalingkan wajahnya, memasang raut wajah masam dengan bibir yang di kerucutkan.


''Hmmm...'' Leo menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan, menatap pohon mangga tersenyum dengan tatap kesal.


''Wahai pohon mangga, mengapa kamu harus ada di situ sih,'' ucapnya pelan dengan alis yang saling ditautkan.


''Apa...?'' Adelia membulatkan bola matanya.


''Tidak ko, sayang. Iya... Iya... aku akan ke sana,'' jawabnya yang juga terdengar sedikit pelan, berjalan menjauh dari arah jendela menuju pintu keluar.


Demi istriku tersayang, manjat pohon pun akan aku lakukan...


___________--------_____________



******

__ADS_1


__ADS_2