Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Sejarah Lama Terulang Kembali


__ADS_3

Lima bulan kemudian.


Dini hari, di saat seluruh anggota keluarga Leonardo masih tertidur lelap. Axela yang kandungannya sudah menginjak usia 9 bulan, tiba-tiba saja merasakan sakit di perutnya, sakit yang teramat sangat membuatnya mengeluarkan suara erangan panjang.


Gabriel yang masih tertidur lelap sontak terbangun mendengar suara sang istri yang terdengar memekikkan telinga.


''Sayang, kamu kenapa?'' panik Briel mengangkat kepalanya menatap wajah sang istri.


''Perut aku sakit banget, sayang. Akh ... Argh ...'' jawab Al memejamkan mata.


''Apa mungkin kamu akan segera melahirkan?''


''Sepertinya begitu? pinggang aku pun sakit banget, Briel ... Cepat bangunkan Mommy dan Papi ...'' teriak Al, mencoba untuk bangkit namun, usahanya gagal.


Briel segera bangkit lalu turun dari atas ranjang dan berlari keluar dari dalam kamar dengan perasaan campur aduk, antara senang, khawatir dan juga gugup.


Tok ... Tok ... Tok ...


''Mom, Papi ... Bangun, Mom ...!''


Briel mengetuk pintu keras, membuat penghuni kamar yang seharusnya masih menikmati mimpi indah kini sontak terbangun dan segera membuka pintu.


''Ada apa, Gabriel. Pagi-pagi udah gangguin orang aja,'' tanya Leo dengan mata yang sedikit terpejam.


''Al akan segera melahirkan, Pap.''


''Apa ...?''


Leo terkejut dan segera berlari keluar dari dalam kamar, begitu pun dengan Adelia sang ibu yang saat ini berada di atas ranjang, segera berdiri dan berlari menyusul sang suami menuju kamar Axela.


Sesampainya di kamar, Leo segera naik ke atas ranjang.


''Sayang ...! Papi dengar kamu akan segera melahirkan? apa sakit sekali? kita ke Rumah Sakit sekarang ya, sayang.''


Panik Leo, menatap wajah sang putri yang kini terlihat meringis kesakitan.


''Tolong, Pap. Rasanya sakit sekali, padahal tadi malam masih belum terasa apapun, huuuh ... Argh ...'' teriak Al, mengusap perut buncitnya.


''Gabriel, cepat siapkan mobil, kita bawa Al ke Rumah Sakit sekarang,'' ucap Adelia panik.


''Baik, Mom.'' Briel segera berlari.


''Sabar, sayang. Kita ke Rumah Sakit sekarang juga. Apa kamu bisa bangun ...? atau mau Papi gendong?''


''Ish ... Kamu ini, gendong tinggal gendong aja, pake nawarin segala, cepat gendong dia, kasian Al kesakitan,'' ketus Adelia, mengusap lembut kepala putrinya.

__ADS_1


''Iya-iya, aku panik, sayang.''


''Sama, aku juga panik, tau ...''


''Tolong, Mom. Rasanya sakit sekali, huuu ... haa ... argh ...'' Al menarik napas panjang, menahan rasa sakit.


Leo, segera menggendong putrinya, padahal bobot sang putri yang sedang hamil besar mencapai 70kg, meskipun sedikit kesulitan, tapi Leo berhasil membawa tubuh Al di dalam gendongannya.


''Kamu duluan ke bawah, Mommy mau nyipain perlengkapan yang harus di bawa.'' Ucap Adelia, yang langsung di jawab dengan anggukan oleh suaminya.


Axel dan Lucky yang mendengar keributan di pagi-pagi buta pun ikut terbangun dan masuk ke dalam kamar saudara kembarnya itu dengan perasaan khawatir.


''Mom, apa Al akan segera melahirkan?'' tanya El cemas.


''Iya, El. Cepat bantu Mommy bawa perlengkapan bayi ini. Lucky, kamu siapkan mobil, kalian pergi terpisah. Mommy harus menemani Al di perjalanan.'' Tegas Adel, menyerahkan kantong berisi pelengkap bayi.


''Baik, Mom. Mommy duluan saja, aku dan Lucky biar menyusul di belakang,'' jawab El yang juga merasa panik.


🍀🍀


Di dalam Mobil, Al nampak terus berteriak histeris, rasa sakit di dalam perutnya terasa semakin menjadi-jadi, pinggang, kaki, bahkan seluruh tulangnya terasa remuk seiiring dengan cairan kental yang perlahan keluar dari daerah selan*kangan.


''Hmm ... Huuh ... Argh ... Sakit, Mom. Aku gak tahan lagi, bayinya seperti sudah mau keluar, Argh ... Hu ...'' teriak Al berurai air mata, tidak bisa lagi menahan rasa sakit.


Dia mencengkram erat baju ibunya, dan tanpa sadar meremas kuat rambut sang ayah yang duduk di sampingnya, sementara Briel, dia menyetir dengan kecepatan tinggi agar bisa cepat sampai di Rumah Sakit.


''Mom ...! sakit sekali. Ternyata seperti ini rasanya melahirkan, tulang-tulang di dalam tubuh aku terasa remuk ...'' lirih Al, menatap wajah sang ibu dengan tatapan sayu.


''Iya, sayang. Sakitnya hanya sebentar ko, setelah bayimu keluar, sakit itu akan segera hilang,'' jawab Adelia mengusap kepala putrinya.


''Aku minta maaf, kalau selama ini aku pernah berbuat salah sama kalian berdua, doakan agar persalinan aku lancar, Mom, Pap ...'' Al mendongakkan kepalanya, menatap wajah ayah serta ibunya secara bergantian, dengan tatapan mata sayu.


''Iya, sayang. Mommy sama Papi memaafkan semua kesalahan kamu. Kamu yang kuat, sebentar lagi kita sampai, dan jangan mengejan dulu, tunggu sampai kita tiba di Rumah Sakit, ya ...?'' pinta Adelia, tidak ingin sejarah lama terulang kembali.


Dirinya dulu melahirkan di dalam mobil, dan saat ini dia tidak ingin putrinya mengalami kejadian yang sama.


''Nah, kita sampai. Sayang ...'' ucap Briel masuk ke area halaman Rumah Sakit.


''Argh ... Hu ... Ha ... Hu ... Hu ...'' Suara Al seperti mengejan.


''Tahan, sayang. Kita sudah sampai ...!''


''A-ku u-dah ga ku-at la-gi Mom-'' dengan suara yang terbata-bata, Al seperti mengejan kuat.


Briel segera memarkir mobilnya di depan Rumah sakit, dengan perasaan panik, dia pun segera berlari ke dalam Rumah Sakit untuk memanggil Dokter, begitupun dengan Leo yang juga panik karena sepertinya sejarah lama akan benar-benar terulang lagi.

__ADS_1


Setelah Briel berteriak panik, akhirnya Dokter dan dua perawat pun segera menghampiri dan segera masuk ke dalam mobil.


''Wah, sepertinya gak akan ada waktu untuk di bawa ke dalam. Terpaksa kita harus melakukan persalinan di dalam sini,'' ucap sang Dokter, menatap bagian inti Axela.


Kepala bayi di dalam sana, sudah benar-benar di ujung pintu, rambut hitamnya nampak sudah terlihat jelas siap untuk dilahirkan hanya dengan sekali tarikan napas.


Pintu mobil pun di tutup, di dalam sana, Dokter sudah bersiap menerima kepala bayi yang sepertinya akan segera melompat keluar, Axela ditemani oleh sang ibu dan satu perawat yang memberi aba-aba agar Axela bisa menjalani proses persalinan darurat itu dengan selamat.


Sementara itu, di luar mobil. Gabriel nampak berdiri gugup, ingin rasanya dia berada di dalam sana menemani dan memberi kekuatan kepada istrinya, namun, apalah daya keadaan tidak memungkinkan untuk dia dapat melakukan hal itu.


Begitupun dengan Leo, wajahnya terlihat pucat pasi, menyaksikan hal ini membuat dia kembali mengingat masa lalu. 18 tahun yang lalu, saat dia melahirkan bayi kembarnya yang juga harus melahirkan secara darurat di dalam mobil.


Kini putrinya itu mengalami hal yang sama. Leo menatap wajah menantunya yang terlihat begitu tegang, dia mengusap lembut punggung Gabriel, menenangkan.


Tidak membutuhkan waktu lama, dari dalam sana terdengar suara tangis bayi memecah ketegangan, Briel tersenyum seketika dengan diiringi lelehan air mata yang tiba-tiba saja bergulir membasahi rahangnya.


Eak ... Eak ... Eak ... ( Suara tangis bayi )


''Bayiku ...'' lirih Briel, merasa haru.


''Cucuku ...'' lirih Leo yang juga merasakan perasaan yang sama.


Tidak lama kemudian, perawat pun keluar dari dalam mobil, dengan menggendong bayi mungil berbalut selimut tebal, dan hendak berlari ke dalam Rumah Sakit.


''Tunggu, suster. Bayinya laki-laki apa perempuan'' tanya Briel, menghentikan langkah perawat tersebut.


''Bayinya perempuan, Mas. Saya permisi dulu, bayi ini harus segera di bersihkan.'' Jawab perawat tersebut, lalu kembali berlari ke dalam Rumah Sakit.


''Perempuan. Pap bayiku perempuan, ha ... ha ... ha ... aku senang sekali, Pap ...''


''Iya, selamat ya. Papi juga senang sekali, karena akhirnya Papi jadi kakek juga.'' Jawab Leo dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.


''Tapi, Pap. Kenapa Al masih belum keluar dari dalam mobil? apa dia baik-baik saja?'' tanya Briel, mengintip dari kaca mobil.


Mata Briel nampak tertuju pada istrinya yang berada di dalam sana, masih dengan posisi sama.


Sedetik kemudian ...


Eak ... Eak ... Eak ...


Tangis bayi kembali terdengar, membuat Briel menoleh ke arah sang ayah.


''Pap ... Apa Al melahirkan bayi kembar?''


Tanya Briel dengan mata yang berbinar merasa senang.

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2