Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
KOMA


__ADS_3

''Cepat berangkat, Abang ...'' pinta Lucky di dalam mobil, dengan Ayu di dalam pangkuannya.


''Gimana dengan kakak ipar-mu, Dek ...?'' jawab Axel duduk di depan kemudi.


''Tapi gimana sama Ayu, detak jantungnya semakin melemah, bang. Aku takut dia gak akan selamat,'' Lucky mendekap erat tubuh Ayu yang masih dalam keadaan terpejam.


Axel hanya terdiam, dia sungguh dilanda dilema, apa yang akan terjadi dengan saudara kembarnya jika dia meninggalkan Gabriel di sana? sedangkan Ayu juga harus segera di bawa ke Rumah Sakit.


''Sial ... Apa yang harus aku lakukan,'' teriak Axel kesal.


Dia pun terus menatap ke belakang, mengeluarkan kepalanya dari jendela kaca mobil yang memang sengaja di buka, dan tidak lama kemudian, Gabriel pun keluar dari dalam pagar bersama dengan dua rekan lainnya.


''Itu dia?'' teriak El tersenyum senang.


Dia pun memundurkan mobilnya, agar ketiga orang yang sedang berlari di belakang bisa segera berpapasan dengan mobil.


Ceklek ...


Pintu mobil pun di buka seketika sesaat setelah Axel berada di depan mereka, dan dengan segera mereka pun masuk ke dalam mobil dengan napas yang terengah-engah.


Axel pun segera melesat menjalankan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, agar bisa sampai ke Rumah Sakit dengan cepat dan Ayu bisa diselamatkan.


Sementara itu, di waktu yang hanya berselang beberapa menit saja, mobil yang dikendarai oleh Revan sampai dikediamannya, untung saja mobil Axel dan yang lainnya sudah tidak terlihat di sana.


Revan segera keluar dari dalam mobil, wajahnya terlihat kesal dengan rahang yang dikeraskan, pistol pun sudah siap di tangannya, namun, tatapannya matanya berubah memerah seketika saat melihat beberapa orang anak buahnya sudah tergeletak di halaman di balik pintu gerbang.


''Kurang ajar, apa mereka berhasil kabur?'' teriak Revan, mene*dang salah satu anak buah yang sudah tidak sadarkan diri.


''Topan, coba kamu periksa di dalam, siapa tau mereka masih bersembunyi di sana ...'' pinta Revan menatap sekeliling.


Topan pun hanya menjawab dengan anggukan diiringi tubuh yang sedikit membungkuk.


''Awas kamu Leonardo, lancang sekali kamu berani membawa putriku, aku pasti akan membalas penghinaan ini, brengsek ...'' teriak Revan mengepalkan kedua tangannya.


πŸ€πŸ€


Ayu segera di bawa ke Unit Gawat Darurat sesaat setelah mereka sampai ke Rumah Sakit, Lucky dan Axel menunggu cemas di luar ruangan. Sementara Gabriel dan kedua rekannya yang dalam keadaan terluka hanya menunggu di dalam mobil.


''Dek, Abang ke depan sebenar ya, Abang belum sempat melihat keadaan Gabriel ...'' ucap Axel.


Lucky hanya mengangguk datar.


Axel pun segera berjalan menuju Parkiran dimana mobilnya berada, dan segera membuka pintu mobil yang masih terdapat suami dari saudara kembarnya di dalam sana.

__ADS_1


''Gabriel ...? apa kamu baik-baik saja?'' tanya Axel, menatap wajah Briel yang penuh dengan luka.


''Aku gak apa-apa, El.'' Briel sedikit terbata-bata.


''Gak apa-apa gimana? wajahmu penuh dengan luka, ayo ... kamu harus di obati juga, kalau tidak, istrimu akan marah besar padaku,'' pinta El.


''Gak usah, aku sudah biasa seperti ini.''


''Biasa apanya ...? lukamu parah banget, Briel ...''


Tidak lama kemudian, satu mobil berwarna hitam pun berjalan mendekat, awalnya Axel sedikit panik, karena takut kalau mobil itu adalah mobil Revan, namun akhirnya dia pun bisa bernapas lega, karena yang datang adalah Leonardo sang ayah dan juga Alex.


Leo segera keluar dari dalam mobil, sesaat setelah mobilnya di parkir, dia pun berlari menghampiri putranya, memeluknya seketika, karena merasa lega melihat putranya itu tidak terluka sedikitpun.


''Papi senang kamu baik-baik aja, El ...'' Ucap Leo, memeluk putranya.


''Aku emang baik-baik aja, Pap. Tapi Gabriel sepertinya terluka parah, dan dia menolak untuk di obati,'' jawab El di dalam pelukan sang ayah.


''Apa ...? mana dia sekarang ...?'' tanya Leo, mengurai pelukan.


''Tuh, di dalam ...'' El menunjuk ke dalam mobil.


Leo segera menundukkan kepalanya ke dalam mobil.


''Apa kamu terluka ...'' tanya Leo menatap wajah menantunya.


''TURUN ...'' teriak Leo kesal.


''Gak usah, Pap. Nanti di obati di rumah aja ...''


''Kata Papi turun, ya TURUN ...''


Briel pun mencoba bangkit, setelah menerima tatapan tajam dari mertuanya itu.


''El, bantu dia turun, dan papah dia masuk ke dalam. Kalian berdua juga,'' pinta Leo, kepada dua orang anak buahnya yang sepertinya juga terluka.


''Ba-baik, bos.''


Mereka pun segera keluar dari dalam mobil, Leo memundurkan langkahnya agar El bisa dengan leluasa membantu Gabriel keluar dari dalam mobil.


''Udah jangan marah-marah gitu, kasian 'kan menantu-mu lagi terluka parah ...'' ucap Alex, berdiri di samping Leo.


''Habisnya dia keras kepala, udah tau terluka parah, masih menolak di obati, bisa di marahi aku sama istri dan juga putriku karena membiarkan menantuku itu dalam keadaan terluka seperti itu,'' jawab Leo menatap tubuh Briel yang kini mulai tertatih-tatih di bantu oleh Axel masuk ke dalam Rumah Sakit.

__ADS_1


''Iya-iya kakek Leonardo, tapi tahan sedikit emosimu, gak usah marah-marah kayak gitu.''


''Kakek Leo ...?''


''Iya, kakek. Emang sebentar lagi kamu akan segera menjadi kakek 'kan?''


''O iya aku lupa, sebutan kakek masih terasa asing buat aku, padahal wajahku masih belum keriput kayak kamu,'' jawab Leo sedikit tersenyum.


''Ish ... Kamu ini ...''


''Gimana, apa kamu juga akan segera menjadi seorang ayah?'' tanya Leo seraya berjalan memasuki Rumah Sakit.


''Belum, sepertinya bibit yang aku taman belum berbuah ...'' jawab Axel datar.


''His ... Kamu ini, makannya sini berguru sama aku, lihat ... tiga anakku cantik-cantik dan tampan.''


''Akh ... Bisa aja kamu? tapi emang resepnya apa, agar istriku bisa cepat hamil ...?''


''Hmm ... Nanti aku kasih tau, sekarang kita masuk aja dulu, kita lihat gimana keadaan Ayu ...'' jawab Leo, membuat Alex kesal sebenarnya.


''Ish ... Dasar Leonardo, kenapa tadi nawarin resepnya segala kalau gak mau ngasih tau, bikin kesel aja si kakek ini ...'' Ucap Alex kesal.


''Ha ... ha ... ha ...'' Leo hanya tertawa renyah.


( Duh mereka ini, masih sempat-sempatnya bercanda di situasi genting kayak gini😁)


πŸ€πŸ€


Akhirnya, Dokter yang menangani Ayu keluar dari ruangan Unit Gawat Darurat, dan Lucky segera menghampiri seketika berdiri dan bertanya keadaan kekasihnya tersebut.


''Gimana keadaan Ayu, Dokter?'' tanya Lucky cemas.


''Kami berhasil memompa perutnya, meski keadaan pasien selamat, namun, karena dia terlambat di bawa ke sini, sekarang dia dalam keadaan koma ...'' jawab Dokter.


''Apa? Koma ...?'' Lucky merasa lemas seketika.


Koma, itu artinya, kekasihnya itu berada di ambang kematian, dan ini terjadi karena dirinya terlambat membawa Ayu ke Rumah Sakit.


"Apa yang akan terjadi selanjutnya, Dok? Apa dia akan bangun lagi?" Lucky bertanya dengan suara yang bergetar sebenarnya.


''Kita berdoa saja, mudah-mudahan pasien bisa bangun dengan cepat, dan biasanya untuk kasus seperti ini, kita membutuhkan kesabaran untuk menunggu pasien benar-benar bangun dari komanya.''


Bruk ...

__ADS_1


Lucky hampir saja ambruk seketika, tubuhnya terasa lemas, air matanya pun kini memenuhi kelopak matanya, untung saja, tangan sang kini menopang tubuh Lucky, Leo datang di waktu yang tepat, mendekap erat bahu putra bungsunya.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


__ADS_2