
''Baik, Om saya mengerti. Saya janji saya tidak akan meninggalkan Al, saya sangat mencintai dia, sungguh, tulus dari lubuk hati saya yang paling dalam, tapi, ijinkan saya untuk melihat dia sebentar saja, saya ingin tahu bagaimana keadaan dia, Om,'' jawab Gabriel mengiba.
''Tidak, aku tidak akan membiarkanmu menemui dia, jika bukan dia sendiri yang memintanya, sekarang kamu pergi, sebelum amarahku semakin meledak,'' jawab Leo, dengan wajah yang terlihat masih menahan rasa geram.
''Tapi, Om ...?''
''Sudahlah, Briel. Lebih baik Lo pergi dulu, obati dulu luka-luka Lo itu, kalau sampai Al melihat Lo seperti ini, dia pasti akan merasa sedih, Lo dengar kan apa yang tadi di katakan sama Dokter?'' ucap El, berjalan menghampiri.
''Tapi, El. Gue---?'' Briel tidak meneruskan ucapannya.
''Sudahlah, Lo pergi sekarang juga, gue takut bokap gue semakin emosi jika dia terus melihat wajah Lo. Gue janji, gue bakal ngabarin Lo, kalau Al siuman dan nyariin Lo.'' Axel.
''Baiklah, aku pergi sekarang, Om. Tapi aku berpesan satu hal sama Om. Om gak usah khawatir, aku tidak akan kabur kemanapun, dan aku akan segera menikahi putri Om secepatnya,'' ucap Gabriel dengan penuh percaya diri.
Setelah mengucapkan hal tersebut Briel pun berbalik dan berjalan meninggalkan tempat itu. Karena ada yang masih ingin di bicarakan dengan Gabriel, Axel pun menyusul dia keluar.
__ADS_1
''Pap, aku keluar dulu sebentar, ya ...!'' ucap El berbalik dan berjalan.
''Kamu mau kemana, El?'' teriak sang ibu.
''Sebentar aja, Mom. Nanti aku balik lagi, oke ...?''
Axel pun berlari mengejar Gabriel, dia menepuk pundak pemuda itu lalu berjalan beriringan.
''Briel, gue mau ngomong sesuatu sama Lo, kita bicara dulu di sana?'' ucap Axel, menunjuk kursi yang ada di luar Rumah Sakit.
Briel menganggukkan kepalanya.
''Gue mau minta maaf sama Lo, soal bokap gue tadi, Lo pasti ngerti, kan, gimana perasaan beliau sekarang?'' ucap Axel memulai pembicaraan.
''Iya, gue ngerti, emang gue yang salah, dan gue juga pangan mendapatkan perlakukan seperti itu dari Om Leo, gue emang cowok brengsek yang udah ngehancuri masa depan Axela.''
__ADS_1
''Tapi Lo beneran gak bakalan ninggalin dia, kan?''
''Tentu saja, mana mungkin aku meninggalkan wanita yang paling aku cintai, sebenarnya, gue merasa bahagia sekali karena akan segera memiliki putra, dan gue sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan dia, untuk mengungkapkan kebahagiaan gue sama dia, sekaligus gue ingin bilang bahwa, dia tidak perlu khawatir, karena gue akan bertanggungjawab jawab, dan akan segera menikahi dia, tapi, gue gak bisa bilang semua yang ingin gue katakan ini, karena, jangankan mengatakan hal itu, bertemu dengan dia saja gue gak bisa, kan?'' ucap Briel menahan rasa kecewanya.
''Gue akan sampaikan apa yang ingin Lo katakan sama dia, segera setelah dia bangun nanti.''
''Makasih, El.''
''Ya udah gue masuk dulu, Lo pulang dan istirahat, tubuh Lo belum pulih benar, jangan sampai Lo ikut-ikutan sakit juga nantinya.''
Briel menganggukkan kepalanya, seraya tersenyum.
Axel perlahan masuk kembali kedalam Rumah Sakit.
Sementara Briel, dia hanya bisa menatap tubuh Axel yang perlahan memasuki Rumah Sakit. Sebenarnya, dia sama sekali tidak berniat untuk pulang, dia ingin terus berada di sini sampai Al siuman, berat rasanya bagi seorang Gabriel untuk meninggalkannya Axela yang saat ini sedang dalam keadaan sakit, dan juga tertekan.
__ADS_1
___________--------------___________
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Readers ♥️♥️♥️