
Amora seketika membulatkan bola matanya, saat lampu taman menyala secara bersamaan, dan pemandangan indah tersaji di depan mata.
Taman luas itu terlihat bertabur kelopak bunga mawar membentuk hati raksasa, bukan hanya satu buah, ada beberapa pemandangan seperti ini di sekeliling tubuh mereka berdua membuat Amora seketika memutar tubuhnya menatap satu-persatu kelopak bunga tersebut.
''Ini apa El?'' tanya Amora dengan mata yang berkaca-kaca merasa terharu.
Bukannya menjawab pertanyaan kekasihnya, kini El berlutut dengan membawa kotak cincin berwarna merah, dan seketika itu juga dia membuka kotak cincin tersebut, membuat Amora menutup mulut dengan kedua tangannya.
''Will you marry me, Amora?"
(Maukah kamu menikah denganku, Amora?)
Axel menatap wajah cantik kekasihnya itu, dengan tangan yang meraih cincin yang bertabur berlian dari dalam kotak, menunggu jawaban dari Amora sebelum dia menyematkan cincin tersebut.
''Are you serious, Axel?"
(Kamu serius Axel)
''Of course, honey."
(Tentu saja, sayang)
Amora menganggukkan kepala dengan bibir yang tersenyum senang, dan seketika itu juga, El segera melingkarkan cincin mewah dan mahal itu di jari manis Amora.
''Terima kasih, sayang. Aku sungguh bahagia sekali hari ini. Di rumah, aku di beri kejutan dengan kehamilan Mommy Emil, dan sekarang kamu memberi kejutan seperti ini, hari ini sungguh hari yang sangat spesial buat aku,'' lirih Amora memeluk tubuh kekasihnya.
''Hmmm ... Aku pun berterima kasih sama kamu, sayang. Karena kamu bersedia menerima lamaran aku.''
''Tentu saja aku akan menerimanya, mana mungkin aku akan menolak, di saat aku sangat mencintai kamu, Axel.'' Amora semakin merekatkan lingkaran tangannya.
''Hmm ... Iya juga sih, gak mungkin juga kamu menolak lamaran pria tampan kayak aku, 'kan?'' jawab El penuh percaya diri.
''Heuh ... Mulai deh ...'' Amora menarik napas panjang.
''Apa ...? mulai apa?''
''Itu, tuh. Rasa percaya diri kamu yang tingginya selangit itu, aku suka sekali mendengarnya, sayang.''
''Dih, aku kira kamu akan mengatakan hal sebaliknya,'' El mulai mengurai pelukan dan menatap lekat wajah Amora.
''Mana mungkin aku mengatakan hal yang sebaliknya. Aku menyukai semua yang ada di diri kamu, sayang. Sifat Arogan kamu, rasa percaya diri kamu, dan terakhir wajah tampan kamu ini,'' lirih Amora, lalu mengecup pelan bibir merah Axel, pria yang baru saja melamar dirinya dengan kejutan manis.
Axel menerima kecupan bibir Amora, dia bahkan menahan kepala kekasihnya agar dirinya bisa membalas kecupan itu lebih dalam, alhasil, bukan hanya kecupan manis saja yang tercipta, melainkan ciuman panas yang membuat siapapun akan merasa iri melihatnya.
Amora melingkarkan tangannya di leher Axel, begitupun sebaliknya. Axel semakin memperdalam ciu*an mereka dengan memainkan permukaan bibir Amora menggunakan lidahnya, lalu memasukkan lidahnya itu ke dalam mulut Amora, dan menjelajahi rongga mulut kekasihnya itu, membuat gadis itu seketika semakin merekatkan lingkaran tangannya.
Tidak ingin kalah, Amora pun kini men*esap bibir merah Axel, menariknya kuat lalu dan memutar kepalanya dengan mata yang di pejamkan.
Setelah itu, mereka pun melepaskan tautan bibir masing-masing tidak ingin kalau sampai melewati batas.
''I Love you, Amora ..."
"I Love you to, Axel ..."
Keduanya pun saling berpelukan erat.
''Hmm ... Aku ingin, tahun depan kita menikahi,'' ucap Axel tiba-tiba, membuat Amora terkejut dan seketika melepas pelukan.
''Kamu yakin? Kita masih muda, lho ...?''
__ADS_1
''Justru itu, karena kita masih muda, dan gejolak dalam jiwa kita sedang naik-naiknya, kalau terlalu lama berpacaran, aku takut melewati batas, Ra,'' jawab El, membenamkan wajahnya di tengkuk Amora, mengecupnya mesra.
''Iya juga sih. Tapi kita masih kuliah lho?''
''Kita kuliah bareng, sampai lulus bareng. Setelah selesai kuliah, aku akan bekerja di kantor Papi,'' jawab El semakin intens dalam menyusuri tengkuk jenjang Amora.
''Sayang ...!''
Amora melepaskan pelukan, lalu meletakkan telapak tangannya di kedua sisi wajah tampan Axel, menatap wajah tampan El dengan tatapan mata yang saling beradu pandang.
''Katanya kamu gak ingin melewati batas? kalau kamu kayak gini, dinding pertahanan kita bisa roboh, lho ...!'' Amora mengingatkan.
''O iya, maaf. Aku kelewatan tadi, aku janji akan lebih menahannya lagi nanti, oke ...?''
Amora menganggukkan kepalanya.
Keduanya pun duduk di antara kelopak bunga tersebut dengan perasaan bahagia.
''Minggu depan aku akan melamar mu secara resmi kepada Om Alex, dan mengutarakan keinginan aku menikah muda. Aku harap dia bakalan ngasih izin,'' ucap El, meraih telapak tangan Amora dan menggenggamnya erat.
''Hmm ... mudah-mudahan aja Daddy ngasih izin. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih sama kamu, sayang. Aku benar-benar bahagia.'' Ucap Amora tersenyum senang.
Amora menatap kedua jari manisnya yang kini telah terdapat cincin berlian yang melingkar sempurna begitu manisnya, begitupun dengan jari manis di tangan kanannya yang juga terdapat cincin pemberian Axel terdahulu.
''Cincinnya indah banget, pasti harganya mahal?'' tanya Amora menatap berlian putih yang memancarkan cahaya terang.
''Hmm ... lumayan ...''
''Lumayan ...? cincin sebagus ini bukan sekedar lumayan, pasti harganya selangit, 'kan? darimana kamu punya uang sebanyak ini? apa kamu sengaja minta uang sama Om Leo buat beli cincin ini?''
Axel menggelangkan kepalanya lalu tertawa renyah.
''Ha ... ha ... ha ...! kamu ini. Nggak, aku gak minta uang ke Papi buat beli cincin ini. Aku sengaja nabung dari uang jajan yang diberikan oleh Papi. Kamu tau, aku dapat jatah uang jajan bulanan dari Papi, dan jumlahnya tidak sedikit tiap bulannya,'' jawab El tertawa.
''Hmm ... Boleh gak aku tau jumlahnya berapa? jadi kepo 'kan? habisnya aku penasaran banget,'' jawab Amora memasang wajah serius.
''Kasih tau nggak ya?''
''Axel ...!'' rengek Amora mengerucutkan bibirnya sedemikan rupa membuat El tidak tahan lagi untuk tidak mengecup bibir merah itu pelan.
Cup ...
Kecupan Axel sukses menimbulkan suara, memecah keheningan malam.
''Ikh, kamu ini. Di tanya baik-baik juga, main cium-cium aja.''
''Habisnya bibir kamu ini begitu menggoda, jangan sampai aku benar-benar melewati batas ya, kalau sampai aku terus-terusan melihat kamu manyun kayak gitu,'' jawab El tersenyum.
''Ya udah, jawab dulu pertanyaan aku,'' rengek Amora dengan suara manja.
''Berapa ya? menurut kamu berapa?''
''Axel ...?'' Amora semakin merengek kesal.
''Oke-oke ... Hmm ... Papi selalu ngasih jatah uang jajan yang lumayan besar, bukan hanya sama aku, kedua saudaraku pun mendapatkan jatah yang sama, Lucky, bahkan Axela yang sudah menikah pun mendapatkan uang jatah yang sama.''
''Iya, tapi yang aku tanyakan itu jumlahnya, sayang.''
''10 juta ...''
__ADS_1
''What ...? Ten million every month? You're serious?"
(Apa? sepuluh juta satu bulan? kamu serius?)
Amora membulatkan bola matanya seketika merasa terkejut.
''Itu aku, ya. Kalau Lucky beda lagi, karena dia masih sekolah, dia dapat jatah uang jajan setengahnya dari jumlah yang aku dapat,'' jawab El santai.
Amora menelan ludah kasar.
''Waaah ... Om Leo hebat. Pantas saja kamu bisa beli cincin semahal ini, dengan hanya menabung lima bulan aja, kamu sudah bisa membeli satu buah motor lho ...''
''Satu tahun aku nabung buat beli cincin ini.''
''Satu tahun?'' Amora kembali membulatkan bola mata indahnya.
''Iya, kenapa? terkejut 'kan?''
''Berarti harga cincin ini benar-benar fantastis?''
''Betul ... Aku ingin memberikan yang terbaik dan yang termahal untuk wanita yang aku cintai ini.''
Cup ...
Satu ciu*an kembali mendarat di bibir mungil Amora.
''Hmm ... Makasih, sayang. Aku akan segera bicara sama Daddy tentang niatan kamu untuk segera melamar aku secara resmi, dan aku juga akan bilang sama beliau kalau kita ingin menikah muda,'' jawab Amora menatap wajah tampan Axel dengan tatapan penuh kasih sayang.
Mendengar hal itu, Axel kembali melahap bibir merah kekasihnya yang terlihat begitu menggoda, dan ciu*an panas pun kembali terjadi sebagai penutup serangakaian acara kejutan yang di berikan oleh Axel, putra sulung dari Leonardo.
🍀🍀
Satu Minggu kemudian.
Axela akhirnya sudah di perbolehkan pulang dari Rumah sakit, begitupun dengan baby triple L. Hari ini Leo sengaja tidak ngantor karena harus menjemput putri serta ketiga cucunya dari Rumah Sakit.
Adelia nampak menggendong Baby Lala, sedangkan Leo Baby Lulu, dan Baby Lily di gendong Axel. Ketiga cucu Leonardo itu pun masuk ke dalam rumah besar Leo untuk pertama kalinya.
''Selamat datang di Rumah Eyang ganteng triple L ...'' ucap Leo dengan suara yang menggelegar.
Axela yang dipapah oleh suaminya karena bagian intinya masih merasa sedikit nyeri, tersenyum bahagia melihat betapa bersemangatnya sang ayah dalam menyambut kehadiran ketiga putrinya itu.
''Pap ... Jangan teriak nanti baby L kaget lho,'' pinta Al. Dan benar saja, bayi yang di gendong Leo menangis seketika membuat Leo panik lalu menimang bayi tersebut.
''Cup ... Cup ... Cup ... Sayang, maafkan Eyang ganteng ya, kamu pasti kaget 'kan?'' lirih Leo, menggoyangkan tubuhnya agar cucunya itu berhenti menangis.
''Sini, Pap. Biar aku gendong, mungkin baby Lala ingin si gendong sama ibunya ...'' pinta Al, duduk di kursi ruang tamu.
''Hmm ... Baiklah. Sayang ... sama Mommy kamu dulu, ya.''
Leo meletakan bayi tersebut di atas pangkuan Al, dan benar saja, Baby Lala seketika berhenti menangis, mata kecilnya seketika terbuka seolah menatap wajah Axela sang ibu.
''Sayang ... Ini Mommy,'' bisik El, menatap wajah cantik putrinya.
Tanpa di sangka kedua bayi yang saat ini di gendong oleh Axel dan juga Adelia pun tiba-tiba menangis, suara cempreng khas bayi seketika memenuhi ruangan, karena kedua bayi itu menangis secara bersamaan.
''Al, kayaknya mereka iri deh, pengen di gendongan juga sama ibunya,'' ucap Adelia, menimang dan berusaha menggoyangkan tubuhnya agar cucunya itu berhenti menangis.
''Hmm ... Ya sudah, sini letakkan bayi itu di tangan kiri aku, Mom. Dan Baby Lulu biar di gendong sama Ayahnya.'' Jawab Al dan langsung mendapat anggukan dari Adelia dan juga Axel saudara kembarnya.
__ADS_1
Tangis ketiga baby kembar itu pun seketika terhenti saat berada di dalam gendongan ibunya dan juga Gabriel sang ayah.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀