
Lucky memarkir mobilnya di pinggir jalan, membuat Ayu merasa heran sebenarnya, dia pun menatap wajah Lucky yang saat ini sudah memasang wajah serius.
''Sebenarnya ada apa, Luck?" tanya Ayu menatap lekat wajah Lucky.
"Ayu, dengerin aku. Kamu tau aku sayang sama kamu?"
Ayu mengangguk heran.
"Kamu juga tau aku gak akan pernah meninggalkan kamu?"
Ayu kembali menganggukkan kepalanya.
"Mulai saat ini perjalanan cinta kita gak akan berjalan mulus seperti yang kita harapkan, tapi, satu hal yang harus kamu tau, aku akan selalu menemani kamu, memberi kamu dukungan moral dan senantiasa mencintai kamu dengan sepenuh hati, jadi kamu jangan takut jika dalam waktu dekat ini akan ada badai yang menghantam hubungan kita," jelas Lucky membuat Ayu tidak mengerti sebenarnya.
"Maksud kamu apa? aku gak ngerti ..."
Bukannya menjawab, kini Lucky memeluk erat tubuh Ayu dan mendekapnya kuat, seraya mengecup pucuk kepalanya lembut.
"Maaf, jika ucapan aku tadi membuatmu khawatir," lirih Lucky membenamkan kepalanya di pundak Ayu.
"Tapi please, jelasin ada apa? kenapa kamu bicara kayak gitu?''
''Maaf aku gak bisa jelasin semuanya sekarang, tapi aku janji akan menjelaskannya nanti, di saat aku yakin sudah bisa membalikkan keadaan, I Love You Ayu ..." lirih Lucky semakin mempererat pelukannya hingga membuat Ayu merasa sesak.
''Engap, Luck ...'' lirih Ayu pelan.
''O iya, maaf. Aku terlalu bersemangat,'' Lucky pun melonggar pelukannya, menatap wajah Ayu yang saat ini berada tepat di depan wajahnya.
Cup ...
Satu kecupan pun mendarat di kening Lusi, tidak hanya itu saja, dia bahkan mengecup mesra pipi, hidung, dagu dan terakhir dia mel*mat bibir ranum kekasihnya itu, membenamkan-nya dan menyesap lembut begitupun sebaliknya, Ayu menikmatinya setiap sesapan sang kekasih, hingga dia pun melingkarkan kedua tangannya di leher Lucky.
''Untuk saat ini, aku mohon jangan banyak bertanya dulu, kamu fokus saja sama niat kamu untuk sembuh, dan yakin bahwa aku akan selalu ada di sisimu, sayang ...'' lirih Lucky sesaat setelah dia melepaskan tautan bibirnya, mengusap ujung bibir Ayu yang terlihat basah.
''Baiklah, aku gak akan bertanya apapun lagi, aku akan menuruti apapun yang kamu katakan, sayang.'' Jawab Ayu tersenyum.
''Kita ke rumahku sekarang, kamu bisa istirahat di sana.''
''Tapi aku malu,'' Ayu menunduk.
''Kenapa harus malu, dulu Emillia juga sering berkunjung ke rumah.''
Ayu mengangkat kepala dan sedikit kesal.
__ADS_1
''O ya ...?'' tanya Ayu datar.
Lucky mengangguk dengan tangan yang memegang stir mobil, belum menyadari bahwa kekasihnya itu sedang dalam keadaan cemburu.
Masih belum menyadari perasaan sang kekasih, Lucky pun mulai menyalakan mobil dan melaju pelan hingga akhirnya melesat di jalanan.
''Kamu kenapa?'' tanya Lucky sedikit menoleh, menatap wajah Ayu.
''Nggak ...!''
''Beneran ...?''
Ayu terdiam, untuk pertama kalinya dia merasakan seperti ada sesuatu yang membakar hatinya, membuat dadanya terasa sesak dengan rasa panas bagai membakar seisi organ di dalam tubuhnya, dan Lucky masih belum menyadari hal itu, dia masih fokus menyetir dengan tatapan lurus menatap ke depan.
Sepanjang jalan Ayu sama sekali tidak mengatakan apapun, hatinya masih merasakan sesuatu yang aneh, entah itu apa, karena dia memang baru kali merasakan hal itu, bukankah selama ini Ayu selalu baik-baik meskipun kekasihnya itu menyebut nama Emillia berulang kali? lalu kenapa kali ini berbeda, seperti ada yang menusuk hatinya dalam, Ayu pun menatap ke arah luar jendela samping, melayangkan tatapan kosong.
''Kamu kenapa diam aja?'' tanya Lucky akhirnya merasakan keanehan.
Ayu masih terdiam, dia pura-pura memejamkan mata kini.
''Sayang ...'' panggil Lucky manja.
Lucky pun menoleh menatap wajah Ayu sekejap, lalu mengulurkan tangannya lebar mengusap kepalanya lembut.
Ayu masih terdiam, membuat Lucky kembali mengingat-ingat ucapan terakhir yang keluar dari mulutnya, dan tersenyum seketika.
''Apa kamu cemburu?'' tanya Lucky membuat Ayu sontak membuka mata bulatnya.
''Kata siapa? Nggak ko,'' jawab Ayu mengerucutkan bibirnya.
''Bohong ...! kamu gak akan pernah bisa bohongin aku, Yu ...''
Ayu kembali terdiam seribu bahasa, dengan bibir yang masih dikerucutkan sedemikian rupa, membuat Lucky tersenyum tipis, baru kali dia melihat kekasihnya itu terlihat begitu lucu dan imut dimatanya.
''Kamu cantik kalau cemberut kayak gitu, lucu, imut, gemes deh ...'' ledek Lucky membuat Ayu tersenyum juga akhirnya.
''Apaan si, gak lucu tau.''
''Gak lucu ko ketawa gitu.''
''Nggak, aku gak ketawa ko, cuma perasaan kamu aja kali,'' jawab Ayu menyembunyikan senyuman di balik tangannya.
''Udah bilang aja kamu cemburu, aku seneng ko kalau kamu benar-benar cemburu, itu tandanya-''
__ADS_1
''Cinta ...'' Sela Ayu membuat Lucky menghentikan ucapannya lalu tertawa renyah.
''Muka kamu lucu kalau lagi cemberut kayak gitu, sumpah, gemes, rasanya pengen melahap muka kamu yang cute itu, ha ... ha ... ha ...!''
''Enak aja, emangnya aku makanan main lahap-lahap aja,'' Ayu akhirnya tersenyum juga mendengar ejekan Lucky.
Akhirnya mereka pun sampai di rumah besar kediaman Leonardo, Pak satpam yang berjaga di dalam pos pun sontak langsung membukakan pagar setelah melihat mobil majikannya berhenti di depan pagar.
Ayu pun menatap sekeliling, halaman luas dan bahkan lebih luas dari halaman di rumahnya dengan berbagai tanaman hias dan rumput hijau membentang.
'Aku baru tau kalau orang tua Lucky sekaya ini,' ( Batin Ayu )
Lucky pun memarkir mobilnya di bagasi luas yang juga sudah terdapat beberapa mobil milik, Leo, Axel, Axela dan juga Adelia sang ibu. Mata Ayu pun menatap takjub satu-persatu mobil yang berjejer begitu rapinya.
Lucky membuka pintu mobil, diikuti oleh Ayu kemudian.
''Hmm ... aku malu ...'' ucap Ayu berdiri tepat di samping pintu mobil.
''Gak usah malu, kan ada aku,'' Lucky menarik tangan Ayu dan menggenggam erat jemari-nya, membawanya masuk kedalam rumah.
Ceklek ...
Pintu utama pun di buka, masih dengan menggenggam jemari Ayu, Lucky masuk ke dalam rumah dan mempersilahkan kekasihnya itu duduk di kursi megah di ruang tamu.
''Duduk dulu, Yu. Aku mau ganti baju dulu,'' pinta Lucky berjalan masuk lebih dalam menuju kamarnya di lantai dua.
Ayu pun mengangguk seraya tersenyum.
Tidak lama kemudian, Adelia sang ibu turun dari lantai dua. Menatap wajah putra bungsunya, dengan tatapan tajam.
''Dari mana aja kamu semalaman, Dek? kenapa kamu gak pulang?'' tanya Adelia.
''Maaf, Mom. Semalam aku ada keperluan mendesak, itu sebabnya aku gak pulang?'' jawab Lucky memeluk sang ibu.
''Keperluan mendesak apa? sampai kamu gak pulang segala?''
Tatapan mata Adelia kini tertuju pada Ayu yang saat ini duduk di ruang tamu, dia pun mengerutkan keningnya.
''Apa semalam kamu bermalam dengan Ayu ...?'' tanya sang Ibu membulatkan bola matanya.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Mampir juga di karya teman Othor ya, reader ... Ceritanya di jamin seru
__ADS_1