Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Di Nikahkan


__ADS_3

''Tapi, Bu. Mengapa harus minggu depan? bukankah itu terlalu cepat?'' protes Adel yang merasa keberatan dengan keputusan ibu.


''Kalau begitu besok saja kamu menikahnya,'' jawab ibu dengan penuh penekanan.


''Ibu...!'' jawab Adel dengan suara yang terdengar lemas, karena tidak tahu lagi harus berkata apa, semua memang salahnya, mengapa dia sampai ketiduran di kamar Axel.


''Bagaiaman menurutmu Axel?'' tanya ibu mengalihkan pandangannya kepada Axel.


''Semuanya terserah ibu saja, jika itu demi menjaga nama baik Adel dan ibu aku akan menuruti semua keputusan ibu,'' jawab Adel dengan wajah yang sedikit senang, karena akan segera di nikahkan.


''Memang itu mau mu kan? ingin segera menikah dengan aku?'' tanya Adel dengan wajah judes.


Axel tersenyum menatap wajah Adelia.


''Baiklah, keputusan sudah di buah dan nggak bisa di ganggu gugat. Minggu depan kalian berdua menikah,'' ibu kembali menegaskan.


''Tapi, Bu. Mohon maaf yang sebesar besarnya, aku tidak bisa memberikan apapun untuk membantu biaya pernikahan aku dengan dia,'' Axel menunduk merasa menyesal.


''Tidak apa-apa, ibu mengerti posisi kamu, pernikahannya pun hanya akan diselenggarakan secara sederhana tidak besar-besaran, yang penting kalian sah menjadi sepasang suami istri, dan berhenti menjadi gunjingan para warga yang tinggal di daerah sini.''


''Iya Bu, saya berjanji akan menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab.'' Axel menatap wajah ibu, terlihat bersungguh sungguh.


Adel hanya terdiam, dia masih belum merasa yakin dengan laki-laki yang akan dinikahinya, apalagi dia masih belum mengetahui dengan pasti identitas Axel yang sebenarnya. Bagaimana jika semuanya terungkap saat Axel sudah menjadi suaminya? apa yang akan dia lakukan? Akh rasanya kepala Adelia sungguh di buat pusing dengan semua ini.


Dia pun memijat kepalanya yang tidak terasa sakit sama sekali. Mencoba berfikir lebih keras, apakah dia akan benar-benar menjadikan Axel sebagai suaminya.


''Apa lagi yang sedang kamu fikirkan?'' tanya Axel yang merasa heran melihat raut wajah Adel yang terlihat tidak begitu senang dengan rencana pernikahan mereka berdua.


''Nggak, aku tidak apa-apa ko,'' jawab Adel berdiri lalu masuk ke kamarnya.


Axel dan Ibu menatap Adelia secara bersamaan. Ibu mengerti betul jika keputusan yang di buatnya sangat mengejutkan putrinya tersebut, selain pernikahan yang terlalu mendadak ibu juga tahu betul jika putrinya tersebut masih belum bisa membuka hatinya untuk Axel.


Namun apalah daya, Ibu sama sekali tak bermaksud memaksakan kehendaknya kepada sang putri. Keadaan lah yang mengharuskan dirinya mengambil keputusan itu, demi menjaga nama baik dan reputasinya sebagai seorang ibu.

__ADS_1


___


Adelia termenung sendiri di kamarnya, dia sedang memikirkan kembali tentang keputusan yang di buat oleh ibunya, meski dirinya sudah mulai membuka di untuk Axel, namun ia sama sekali belum siap, apabila identitas calon suaminya tersebut terkuak dan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.


Dia pun membaringkan tubuh lelahnya di atas tempat tidur, ia pun merasa sangat mengantuk karena semalaman telah menjaga Axel.


Trok trok trok


''Boleh ibu masuk?'' ibu mengetuk pintu dan bertanya.


''Iya Bu masuk saja,'' jawab Adel dengan sedikit enggan, karena sebenarnya ia sedang ingin sendiri.


Ibu pun membuka pintu lalu masuk ke dalam kamar, dirinya melihat sang putri sedang berbaring dengan separuh tubuhnya yang tutup dengan selimut tebal.


''Apa kamu marah sama ibu?''tanya ibu duduk di samping tempat tidur.


Adel menggelengkan kepalanya berbohong.


''Maaf karena Ibu harus membuat keputusan seperti ini, semua itu demi kebaikanmu sendiri, Ibu tidak mau Putri kesayangan ibu dicap sebagai gadis mesum,'' ucap ibu meraih lengan Adel dan menggenggam jemarinya.


''Apa ibu yakin akan benar-benar menikah kan aku dengan Axel?'' tanya Adel dengan wajah datar.


''Kenapa? dia pria yang baik ko?''


''Tapi dia dalam keadaan hilang ingatan Bu, kita tidak mengetahui identitas dia yang sebenarnya. Bagaimana bila suatu saat nanti identitasnya terbongkar, dan ternyata dia bukan laki-laki baik yang seperti kita lihat selama ini?'' ucapan Adel penuh dengan penekanan.


Ibu hanya terdiam.


''Bu...?'' Adel kembali memanggil ibunya setelah dia tidak mendapat jawaban.


Sang ibu rupanya sedang larut dalam lamunan. Apakah keputusan yang ia buat itu salah? menikahkan Putri kesayangannya dengan pria yang belum jelas identitasnya.


''Kamu tidak usah khawatir, Ibu yakin Axel pria yang baik, jika suatu saat nanti apa yang kamu khawatir kan ternyata benar, kamu tinggal menceraikan dia saja, gampang kan?'' ucap ibu berbohong menyembunyikan kekhawatirannya.

__ADS_1


''Ibu...? Apa kata bercerai itu semudah lidah mengucapkannya? aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup, tidak mau yang namanya bercerai,'' wajah Adel terlihat muram.


''Iya, sayang, ibu mengerti maksud kamu, tidak usah di fikirkan ya, kita berdoa saja semoga Axel adalah pria yang, dan menjadi suami yang baik untukmu,'' ucap ibu menenangkan dengan suara dan nada lembut.


Adel pun bangun, lalu memeluk tubuh sang ibu, dia menyandarkan kepalanya di bahu ibu, dengan tangan yang di lingkarkan di pinggang ibunya tersebut.


''Aku kangen banget sama ibu, untung tadi ibu datang tepat pada waktunya, jika tidak, mungkin aku telah diseret untuk keluar dari kampung ini,'' suara Adel terdengar sangat manja.


''Iya, sayang, mungkin sudah takdirnya seperti ini, ibu harus datang di waktu yang tepat untuk menyelamatkan mu,'' jawab ibu mengelus rambut dan mengecupnya dengan penuh kasih sayang.


Adelia memeluk ibunya dengan sangat erat, seolah sedang menumpahkan kerinduan yang selama ini dia tahan. Meski hanya tiga hari tidak bertemu dengan sang ibu namun baginya, tiga hari itu bagai setahun di rasanya.


____-----____


Sepertinya Axel kembali bermimpi buruk, malam ini dia tertidur dengan wajah yang terlihat gelisah, keringat pun membasahi pelipis wajah serta tubuh kekarnya, entah apa yang dia mimpikan sehingga raut wajah menjadi seperti itu.


Mulutnya pun terdengar mengucapkan sesuatu, seperti orang yang sedang meminta tolong dan meminta maaf.


''Maafkan aku, tolong selamatkan aku, aku mohon jangan bunuh aku,'' Axel berbicara dalam tidur, seolah mimpi yang dia jalani terbawa ke dunia nyata.


Tak lama kemudian dia pun terbangun dengan sedikit berteriak, sehingga membuat ibu masuk ke kamarnya.


Ceklek...


Brug...


Ibu membuka pintu dengan kasar, kerena terkejut mendengar suara Axel meminta tolong dan berteriak. Ia pun menghampiri Axel dan bertanya kepadanya.


''Axel...? kamu kenapa? kamu mimpi buruk?'' tanya ibu dengan wajah heran.


Axel mengusap keringat di pelipis wajahnya, nafasnya terlihat terengah engah seperti telah di kejar oleh seseorang, ia pun bangun dan duduk, lalu menarik napas panjang, dan menghembuskannya secara perlahan.


Dia menatap wajah ibu dengan tatapan sayu, dengan hati pilu, dia pun berucap dalam hatinya, bahwa ingatannya kini telah benar-benar kembali seperti semula.

__ADS_1


____________-----------_____________


__ADS_2