Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Pusara Sang Adik


__ADS_3

Alex berjongkok di pusara sang adik, tangannya tampak membersihkan tanaman liar yang tumbuh di sela-sela rumput Jepang yang sengaja di tanam di atas pusara, ditemani oleh Revan yang selalu dengan setia menemani kemana pun bos'nya itu pergi.


''Jimmy... bagaimana kabar'mu? apakah tidurmu nyenyak? kau sudah tidur terlalu lama, Abang sungguh merindukanmu, Jim...!'' Alex berucap seolah Jimmy benar-benar berada di hadapan dirinya.


Revan yang berdiri tepat di belakang Alex, menatap punggungnya dengan tatapan penuh rasa iba. Dia tahu betul bahwa Alex sangat menyayangi Jimmy, yang merupakan teman'nya semasa remaja, itu sebabnya semenjak Jimmy tidak ada, dia selalu dengan setia menemani dan menghormati Alex dan menganggapnya Kaka sendiri.


Kemudian Revan pun berjongkok di samping Alex, dia menatap batu nisan bertuliskan nama Jimmy, tanggal kelahiran dan tanggal tutup usia beberapa tahun yang lalu.


''Jimmy, tunggu sebentar lagi, hanya tinggal satu langkah lagi, dendam'mu akan lunas terbayarkan, meski tidak di bayar dengan nyawa, namun setidaknya apa yang kita lakukan dapat membuat Leonardo menderita,'' ucap Revan dengan tangan yang di tempelkan di atas pusara.


Alex menoleh ke arah Revan, menatap wajah tulus Revan yang telah berteman baik dengan Jimmy, adiknya dari semenjak adiknya tersebut duduk di bangku sekolah menengah pertama.


Dia pun mengusap punggung Revan, mencoba menenangkan, walau hatinya pun sebenarnya tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja, Alex sendiri sudah menganggap Revan seperti adiknya, kehadiran Revan sedikit banyaknya dapat mengobati rasa kesepian semenjak adiknya tersebut meninggal.


Setelah sekian lama berada di sana, akhirnya keduanya pun bangkit dan berdiri, lalu memandangi pusara tersebut dengan seksama.


"Abang pulang dulu Jim... Abang janji Abang akan sering berkunjung kemari," Alex berpamitan, kemudian dia pun melangkah pergi.


***


Malam hari Leo baru pulang dari kantornya, seharian ini dia bekerja lembur karena harus menyelesaikan urusan pekerjaan, masalah yang sedang di hadapi oleh perusahaan membuat dirinya harus memutar otak agar bisa menemukan solusi yang tepat.


Jujur saja, baru kali ini dia dilanda rasa gundah yang mendalam, dia sungguh merasa ketakutan perusahaan yang sudah di bangun dengan keringat dan kerja keras kedua orang tuanya gagal di selamatkan.

__ADS_1


Entah apa yang akan terjadi pada dirinya kalau sampai hal itu sampai terjadi, rasanya hidupnya akan benar-benar hancur berantakan.


Leo memasuki rumahnya dengan langkah yang gontai, wajahnya terlihat muram, dengan rambut yang bahkan terlihat berantakan, jas nya pun di tenteng dengan tangannya, dengan kancing kemeja bagian atasnya di buka begitu saja.


Sungguh terlihat dengan sangat jelas dari wajahnya bahwa Leo sedang menghadapi masalah yang sangat besar.


Adelia menyambut kedatangan suaminya dengan tersenyum seperti biasa, namun dia di buat heran seketika melihat raut wajah suaminya.


''Kamu kenapa sayang?" tanya Adel mengikuti sang suami duduk di kursi di ruang Televisi.


''Perusahaan sedang mengalami masalah yang besar, bahkan terancam bangkrut jika aku tidak segera mendapatkan dana cadangan,'' jawab Leo mengusap wajahnya dengan kasar, menyembunyikan rasa gusar.


''Masalah apa, sampai kamu terlihat seperti terpuruk seperti ini?''


''Masalah besar, sangat besar, aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa.''


Leo menatap wajah istrinya yang terlihat cantik, meski hanya mengenakan daster rumahan layaknya ibu rumah tangga biasa, di tambah sorot mata teduh yang memancarkan rasa cinta yang mendalam.


Dia pun meletakkan kepalanya dia atas pangkuan Adelia, seraya melingkarkan kedua lengannya di pinggang ramping istrinya, dengan mata yang di pejamkan mencari ketenangan.


Adel mengusap pelan rambut suami tampannya, menatap wajah muramnya seraya tersenyum.


''Wajahmu ko berkeriput gini sih?'' ucap Adel dengan nada suara yang terdengar menggoda.

__ADS_1


''Benarkah? kamu serius?'' Leo mendongakkan wajahnya menatap wajah istri tercintanya.


''Iya, serius... mungkin ini karena kamu terlalu banyak berfikir, sehingga menimbulkan keriput di ujung kelopak mata'mu ini,'' Adel kembali berucap dengan mengusap ujung mata suaminya.


''Gak apa-apa yang penting aku masih terlihat tampan, kan... kan...?'' sifat narsisnya pun akhirnya keluar.


''Iya... iya... Oppa Leonardo, kamu masih tetap tampan, dulu, sekarang dan bahkan nanti ketika rambut'mu sudah beruban dan keriput memenuhi seluruh wajahmu ini,'' jawab Adel lalu mengecup kecil bibir merah suaminya.


''Terima kasih, sayang. Kamu selalu menjadi obat mujarab bagi setiap kegundahan yang aku dapatkan, dan kamu selalu menjadi obat penenang bagi setiap keresahan yang sedang aku rasakan, aku sungguh beruntung memiliki istri seperti diri, tetaplah seperti ini, dan jangan pernah berubah, sampai maut memisahkan kita, nanti...'' jawab Leo menatap wajah istrinya dengan tatapan penuh rasa cinta dan kasih sayang.


''Iya, sayang. Aku berjanji tidak akan pernah berubah, aku akan terus seperti ini.''


Leo pun meraih kepala istrinya, mendekatkannya tepat di depan wajahnya secara perlahan lalu membenamkan bibirnya dengan begitu dalam, berputar dengan bibir yang saling ditautkan.


Untuk sesaat, Leo akhirnya dapat melupakan masalah besar yang sedang di hadapi'nya, dia pun membenamkan wajahnya di perut sang istri sesaat setelah dia melepaskan ciumannya, memejamkan mata mencoba tertidur sejenak di atas pangkuan Adelia.


''Bangunlah, mandi dulu, badanmu pasti berkeringat seharian bekerja di kantor,'' ucap Adel mengusap rambut suaminya.


''Tunggu, sebentar lagi, biarkan aku seperti ini, sebentar saja, tubuhku sungguh lelah sekali, berada di pangkuan'mu seperti ini membuat hatiku tenang,'' jawab Leo tidak merubah posisinya.


''Baiklah, kamu boleh melakukannya sepuasnya, yang penting hati kamu tenang, dan perasaan'mu tenang,'' jawab Adel, tak kuasa menolak keinginan suaminya.


''Makasih, sayang. Aku sungguh mencintai'mu,'' lirih Leo dengan mata yang terpejam.

__ADS_1


''Aku pun sama, sayang. Aku juga mencintaimu, suamiku...''


*****


__ADS_2