Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Menangis Seperti Anak Kecil


__ADS_3

Brak


Pintu di buka secara paksa dan bersamaan dengan itu pula.


Prang


Adelia tanpa sengaja menjatuhkan bingkai Poto yang di pegang'nya ke atas lantai hingga hancur berantakan. Dia pun menatap ke arah pintu dengan jantung yang sedikit bergetar serta tubuh yang terlihat gemetar.


Lalu dirinya meraih patung kuda yang terbuat dari kayu yang terletak di atas meja, Adelia memasang posisi kuda-kuda seolah siap untuk memukul orang yang akan masuk ke dalam sana menggunakan patung kuda yang kini diangkat ke udara oleh satu tangannya.


Dan Adelia pun berjalan maju menghampiri pintu yang terbuka, dengan seseorang yang sedang berjalan masuk ke dalam kamar. Dia pun benar-benar menghantamkan benda di tangannya kepada orang tersebut dan tepat mengenai pelipis wajahnya.


Argh...


Orang itu meringis kesakitan, dia menunduk seketika dan darah segar pun sedikit keluar, dia menutup pelipis dengan kedua tangannya, setelah itu dirinya mengangkat kepala lalu melihat ke arah Adel.


''Leonardo...?'' tanya Adelia, seketika hatinya terhenyak, karena orang yang akan masuk ke dalam sana adalah suaminya, dan salahnya lagi dia memukul dengan keras karena mengira jika yang masuk itu adalah pencuri.


''Maafkan aku, tadi aku kira pencuri,'' ucapnya dengan penuh penyesalan.


''Argh...! seharusnya sebelum memukul lihat dulu siapa yang datang, jangan main pukul saja, sakit tahu, kalau aku hilang ingatan lagi gimana? susah-susah berusaha agar ingatan ku kembali lagi, sekarang kepalaku malah di pukul begitu saja,'' jawab Leo mencoba berdiri dengan di bantu oleh sang istri.


''Iya, maaf, aku sungguh menyesal, aku merasa ketakutan tadi. Lagi pula, bukannya kamu sudah tidur pulas?'' tanya Adel, dengan memapah sang suami untuk duduk di atas kursi.


Buk...


Leonardo menjatuhkan bokongnya begitu saja di atas kursi, kepalanya terasa pusing dengan pandangan yang sedikit berkunang-kunang.


''Ya ampun, pelipis wajahmu berdarah?'' ucap Adelia panik.


''Gimana nggak berdarah, lihat tuh, patung itu terbuat dari kayu, dan kamu memukulku dengan keras, ya pasti berdarah lah.''


''Apakah kita perlu ke Rumah Sakit? ayo aku antar kan kamu ke sana,'' Adel meringis melihat darah yang keluar meski jumlahnya tidak terlalu banyak.

__ADS_1


''Sudah, tidak apa-apa, aku sudah biasa terluka seperti ini,'' ujarnya keceplosan.


''Apa...? biasa...? apa kamu sering berkelahi sehingga terbiasa dengan luka?'' tanya Adel heran sekaligus penasaran.


''Eu... Tidak... maksudku...! Argh... sakit sekali, bisakah tolong ambilkan kotak obat di lemari itu, lukanya sakit sekali,'' Leonardo mencoba untuk mengalihkan pembicaraan, dan meringis kesakitan, agar istri nya tersebut tidak terlalu banyak bertanya.


''Dimana... dimana kotak obatnya? apakah sakit sekali, tunggu sebentar, aku akan mengambilkannya untuk mu,'' berjalan dengan perasaan cemas menuju tempat yang di tunjuk oleh Leo dimana kotak obat itu berada.


''Ketemu tidak?''


''Iya, sebentar sedang aku cari.''


''Cepat, kepalaku terasa pusing.''


''Nah, ketemu,'' Adel meraih kotak obat dan berjalan lalu duduk di samping sang suami.


Dia pun membuka kotak obat, dan ternyata isinya lengkap dengan obat untuk luka, seperti sengaja disediakan atau memang suaminya tersebut sering terluka.


Hanya ingin fokus dengan sang suami dia pun tidak terlalu menghiraukan hal tersebut, lalu dirinya meraih salah satu obat dan mengoleskannya di pelipis wajah sang suami.


''Iya, ini aku pelan ko.''


Setelah di olesi dengan obat, luka pun di beri perban dan di tutup menggunakan plester. Adel tampak menatap nanar wajah sang suami, dirinya sungguh menyesal karena terlalu ceroboh sehingga membuat suami tampannya terluka.


''Wajah tampanku jadi ternoda, kan?'' ucap Leonardo mengusap perban.


''Tidak ko. Wajahmu tetap tampan, beneran deh,'' jawan Adel mencoba menghibur dengan tersenyum tipis namun dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.


Leo pun kembali mengusap perban, dan berpura-pura kesakitan, dia mengernyitkan keningnya, lalu menyandarkan kepalanya di sandaran kursi di belakang kepalanya.


Melihat suaminya seperti itu, membuat air mata Adel tidak dapat di tahan di menangis seketika merasa sangat menyesal dengan apa yang baru saya di perbuatanya, bahkan dia menangis seperti seorang anak kecil.


''Apakah sakit sekali? hiks... hiks... hiks...'' dengan suara tangis yang terdengar seperti anak kecil.

__ADS_1


Leo terkejut, dia tidak menyangka jika istrinya akan bereaksi seperti itu, dirinya pun kembali mengangkat kepala dari sandaran kursi, dan menatap wajah sang istri dengan sedikit tersenyum geli.


''Hei... kenapa kamu menangis seperti ini? sudah tidak sakit ko, beneran, cup... cup... cup...'' lirih Leo memeluk tubuh sang istri lalu mengusap punggungnya.


''Hiks... hiks... hiks... aku sungguh minta maaf, kalau nanti kamu hilang ingatan lagi gimana? kalau kamu sampai melupakan aku, gimana? hiks... hiks... hiks...'' rengek Adelia di dalam pelukan suaminya.


Leonardo melepaskan pelukannya, lalu menatap dengan tatapan penuh cinta, seraya mengusap satu-persatu buliran air mata yang mengalir begitu derasnya. Bibirnya pun tampak tersenyum kecil, merasa geli, ternyata istrinya yang selalu terlihat kuat bisa menangis seperti anak kecil juga.


''Tidak, sayang. Meskipun aku hilang ingatan, aku tidak akan pernah melupakan kamu, karena dirimu memiliki ruang yang spesial di dalam hatiku, lagipula di dunia ini tidak ada lagi wanita cantik dan unik seperti kamu,'' jawabnya sedikit menghibur.


Adelia sedikit tersenyum dan menghentikan suara tangisnya, dia mengusap kedua mata dengan tangannya, merasa sedikit tenang. Leo pun kembali memeluk tubuh sang istri dan mendekapnya dengan erat lalu mengecup pucuk kepala dari istrinya tersebut.


''Sekarang jam berapa?'' tanya Adelia masih di dalam pelukan sang suami.


''Jam setengah dua pagi,'' jawab Leo melirik jam dinding.


''Sebentar lagi pagi, dan aku sudah mulai mengantuk sekarang,'' ucapnya Adelia sedikit terpejam dan membuka mulutnya menguap.


''Malam ini, kita tidur di sini saja, aku juga masih mengantuk.''


Keduanya pun terpejam dan terlelap seketika dalam keadaan berpelukan dengan tubuh yang di sandarkan di sandaran kursi.


Keesokan harinya.


Adelia pun membuka mata, dia mengedipkan matanya pelan, menyesuaikan cahaya yang masuk ke pelupuk matanya, dan tidak lama kemudian matanya pun terbuka sempurna.


Dia menatap wajah suami tampannya yang masih terpejam, memandang dengan tatapan nanar sembari mengusap perban di pelipis wajahnya merasa menyesal.


Adelia pun bangkit dan berdiri, dirinya baru teringat jika semalam telah menjatuhkan sebuah bingkai Poto di atas lantai, dia pun berjalan menuju tempat dimana bingkai itu terjatuh, dan benar saja, bingkai nya hancur dengan kacanya yang hancur berantakan.


Dia menyingkirkan satu persatu serpihan kaca dan meraih lembar Poto yang berada di antaranya, matanya menatap Poto tersebut dengan tatapan heran dan alis yang saling ditautkan.


'Dimana ini? kenapa semuanya berpakaian hitam, mereka seperti....'

__ADS_1


_______________-------------______________


__ADS_2