
Di sebuah Apartemen, Amora Patricia, gadis remaja putri dari Alex, dia terlihat sedang bercermin setelah selesai membersihkan diri, sepertinya dia merasa sedikit kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, tinggal dan besar di Amerika, membuatnya sudah terbiasa hidup bebas di negara adidaya tersebut.
Dia nampak merapikan celana jeans berwarna abu, dengan atasan polos berwarna putih di tambah jaket kulit berwarna hitam, menyempurnakan penampilannya, rambutnya pun di biarkan terurai memenuhi punggungnya, wajahnya polos tanpa make up, hanya lipglos berwana bibir saja yang membasahi bibirnya menjadi terlihat lebih sensual.
Ceklek
Pintu kamarnya tiba-tiba di buka, sang Ayah pun masuk ke dalam kamar, menggunakan kursi roda dan memutar roda dengan dengan tangannya sendiri.
''Cantik sekali putri Daddy, mau kemana malam-malam begini?'' Tanya Alex duduk di samping sang putri.
''Aku bosan Dad...! malam ini boleh kan aku keluar sebentar, ingin mencari udara segar?''
Amora berjongkok tepat di depan kursi roda ayahnya.
''Tentu saja boleh, sayang. O ya, bagaimana sekolah baru'mu? apakah menyenangkan?''
''Sekolahnya si menyenangkan, tapi aku ketemu sama satu cowok narsis, dia si tampan, tapi sombong dan songong nya minta ampun, bikin aku ilfil.''
''O ya? jangan terlalu ilfil, nanti bisa-bisa kamu suka lho sama dia, ingat, benci sama cinta itu hanya terhalang satu lembar benang, dimana jika benar itu putus, maka rasa cinta yang perlahan akan menggantikan kebencian dalam hati kamu,'' Alex mengusap rambut Amora.
''Dih, gak akan. Aku gak akan pernah suka sama cowok kayak dia, narsis, sombong, percaya dirinya selangit lagi, amit-amit deh.''
Alex terdiam sejenak, mendengar ucapan putrinya mengingatkan dia kepada sosok yang dahulu pernah dia kenal, orang yang pernah menjadi musuh bebuyutannya, meski rasa dendam itu sekarang sudah habis tidak bersisa, namun dia masih dapat mengingat dengan jelas, mantan sahabat'nya, sekaligus pria yang pernah menjadi musuhnya yaitu, Leonardo.
''Ya sudah, Dad. Aku pergi dulu ya, nggak usah nungguin aku pulang, Daddy istirahat dan tidur duluan aja, oke...''
''Iya, sayang. Hati-hati di jalan, jangan pulang terlalu malam juga.''
Pesan sang ayah lalu mengecup kening putri kesayangannya.
''Baik, Dad. Aku pergi dulu ya, Babay...''
Amora pun berjalan keluar dari dalam kamarnya.
***
Amora gadis berusia 17 tahun, gadis energik dan juga tomboi, meski wajahnya cantik, memiliki sifat dan gaya bicaranya seperti anak laki-laki, mungkin karena dia hanya di besarkan oleh ayahnya saja, membuatnya tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu.
Amora memutar gas motor Ninja'nya, motor besar berwarna hitam yang selalu menemani dirinya kemanapun dia pergi, dia pun melaju kencang di jalanan, dengan helm berwarna hitam sebagai pelindung kepala'nya.
Karena terlalu kencang saat berkendara, dia pun hampir saja bersentuhan dengan sebuah mobil sport mewah bewarna hitam, Amora segera menginjak rem dengan begitu kencang, namun karena sedikit terlambat usahanya sia-sia, mobil mewah dan mahal itu sedikit terserempet oleh motornya, dan dia pun terguling di atas aspal.
Ckit
Blug
Mobil berhenti seketika, beriringan dengan tubuh Amora yang terjungkal di atas aspal bersama dengan motor yang kendarai'nya.
__ADS_1
Pemilik mobil'pun keluar, lalu menghampiri Amora.
''Kamu tidak apa-apa?''
Berjongkok dan menolong Amora, meraih bahunya untuk kembali berdiri.
''Kalau naik motor pelan-pelan, emangnya kamu punya nyawa ganda apa?'' omel sang pemilik mobil.
Amora pun membuka helm yang di kenakan'nya secara perlahan lalu mengibaskan rambut panjangnya, wajahnya sedikit meringis kesakitan, namun matanya terkejut seketika saat menatap pria yang saat ini masih memegang pundaknya.
''Kamu...'' Teriak Amora dengan mata yang di bulatkan sempurna.
Axel, dia menatap wajah Amora dengan mata yang terlihat tidak percaya, mulutnya sedikit menganga, merasa terkejut dengan apa yang saat ini sedang di lihatnya.
Gadis cantik, berambut panjang namun sedikit pirang, bertubuh tinggi dan juga ramping, mengibaskan rambutnya tepat di hadapan wajah'nya, membuat Axel sungguh terpesona seketika saat menatapnya.
Amora pun melepaskan genggaman tangan Axel yang masih berada di pundaknya secara kasar, seraya mengumpat kepada pria sombong dan angkuh di matanya tersebut.
''Lo, ya? kenapa tiap ketemu sama Lo, gue selalu sial? di sekolah gue terjatuh gara-gara kaki panjang Lo itu, dan sekarang gue hampir mati gara-gara mobil sialan Lo ini,'' Amora menendang mobil mewah Axel.
''Heh, cewek bar-bar, Lo yang ngebut-ngebut di jalan, Lo juga yang hampir nabrak mobil gue, kenapa jadi gue yang disalahin? dasar aneh.''
''Lo yang ngehalangin jalan gue, tau...'' ucap Amora dengan pandangan mata yang sedikit terlihat buram, dan kepala yang berkunang-kunang sebenarnya.
''Dasar cewek bar-bar tidak tahu diri,'' Axel hendak pergi.
Bruk
Amora tersungkur di atas aspal tidak sadarkan diri, dari pelipis wajahnya nampak sedikit keluar darah segar akibat benturan.
Panik, Axel segera menghampiri lalu duduk di atas aspal dan meraih kepala gadis itu, meletakan'nya di atas pangkuannya.
''Hei, bangun...! Amora, kenapa pake pingsan segala sih, aduh...?'' Gerutu Axel.
Tanpa berfikir panjang, Axel segera meraih tubuh ramping Amora, menggendong'nya dan membawanya masuk kedalam mobil miliknya, sementara motor milik gadis itu, di tinggalkan begitu saja di pinggir jalan.
***
Satu jam kemudian.
Amora mulai membuka mata, sedikit demi sedikit dengan alis yang saling di takutkan, kepalanya masih terasa pusing, dan tubuhnya pun masih terasa lemas.
Dia pun membuka mata sempurna, menatap keseliling ruangan yang seperti'nya berada di sebuah kamar, kamar bernuansa ungu muda dengan berbagai aksesoris wanita.
'Aku dimana?'
Gumam Amora.
__ADS_1
Ceklek...
Pintu kamar'pun di buka, Axela masuk ke dalamnya, berjalan seraya menatap wajah Amora dan tersenyum senang, karena akhirnya dia membuka mata.
''Lo sudah bangun?'' tanya Al, duduk di tepi tempat tidur.
''Gue dimana?''
''Di rumah gue, saudara kembar gue yang bawa Lo semalam, katanya Lo tiba-tiba pingsan di pinggir jalan.''
''Axel...? jadi ini rumah dia?''
Al mengangguk.
''Gue, mau pulang, Daddy pasti cemas nungguin gue di rumah,'' Amora bangkit dan hendak duduk, namun karena kepala masih terasa pusing dia pun kembali berbaring.
Tidak lama kemudian, Ibunda Axela pun masuk kedalam kamar, membawa bubur ayam yang masih terlihat hangat dengan satu gelas susu putih di atas nampan.
''Kamu sudah siuman, nak?'' berjalan lalu meletakan nampan yang dibawanya di atas meja.
''Iya, Tante. Tapi saya harus segera pulang, Daddy pasti nunggu aku di rumah,'' jawab Amora, menatap wajah Adelia, yang terlihat teduh dengan pancaran mata penuh dengan kasih sayang layaknya seorang ibu.
''Tapi kamu masih sakit, nak. Kepala'mu juga seperti'nya masih terasa pusing, kan?''
Ibunda Al duduk di tepi ranjang, lalu mengusap kening Amora yang terlihat berkeringat.
Amora hanya terdiam, terus menatap wajah ibu dari pria yang di benci'nya tersebut, menatap dengan pandangan sayu, sungguh gadis remaja bernama lengkap Amora Patricia itu sangat merindukan sosok seorang ibu.
''Daddy'mu di telpon saja, nanti biar Tante yang bilang kepada'nya bahwa kamu menginap di rumah Tante, ya...?''
Amora pun mengangguk, lalu meraih ponsel dari dalam saku celana jeans miliknya, setelah itu dia pun menelpon Alex, ayah'nya.
Tut
Tut
Tut
Amora segera menyerahkan ponsel miliknya, saat ayahnya tersebut mengangkat telpon, agar Adelia bisa langsung berbicara dengan ayahnya tersebut.
''Halo...! apakah ini dengan ayahnya Amora?''
''Iya, betul. Ini siapa?''
Jawab Alex di sebrang sana.
__________----------__________
__ADS_1