Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Penuh Luka


__ADS_3

Tidak seperti sang ibu yang lebih terlihat tegar melihat suaminya di todong pistol oleh Revan, Axela, yang saat ini sedang mengandung lima bulan nampak menangis sesenggukan, melihat wajah suaminya babak belur.


Mereka berdua duduk di tepi ranjang. Al nampak mengusap lembut setiap luka di wajah Gabriel, yang kini telah ditutup perban berwarna putih.


''Apakah sakit sekali? aku gak tau kalau kejadian akan seperti ini, hiks hiks hiks ...'' tanya Al menangis sesenggukan.


''Nggak, sayang. Gak sakit sama sekali ko, sungguh.''


''Bohong ... hiks hiks hiks ...''


''Sudah jangan sedih lagi, kasian bayi kita nantinya, yang penting aku sudah pulang dengan selamat 'kan?'' lirih Briel mencoba menenangkan.


''Tapi tetap saja, hati aku sakit, melihat kamu seperti ini sayang ...''


''Aku gak apa-apa, beneran deh. Malah setelah di pegang sama kamu, rasa sakitnya hilang lho ...''


Al tersenyum seketika, dia pun mengusap wajahnya sendiri secara lembut, mencoba mengontrol emosinya, meski suara isak tangisnya masih sedikit terdengar.


Briel memeluk tubuh istrinya itu, mengusap punggungnya lembut, seraya mengecup tengkuknya dengan mata yang di pejamkan.


''Apa kamu ingin berendam di air hangat seperti yang dikatakan oleh Papi tadi?'' tawar Al.


''Nggak usah sayang, aku lelah sekali, ingin cepat-cepat istirahat.''


''Tapi sekujur tubuh kamu bau darah tau, mana mau aku tidur sama kamu, kalau badan kamu mengeluarkan bau tak sedap kayak gini.''


''O ya ...?''


Briel melepaskan pelukannya, menundukkan kepalanya, menatap pakaian yang dikenakannya yang memang mengeluarkan bau tidak sedap.


''Baiklah, aku mandi dulu ...''


''Sebentar, biar aku siapkan air hangat ...'' Al hendak berdiri.


''Gak usah sayang, kamu istirahat saja, biar aku siapkan sendiri.''


''Hmm ... Ya udah deh, aku cuma mau nemenin kamu aja, aku bantu gosok punggung kamu ya?'' tawar Al, yang langsung di jawab dengan anggukan diiringi senyuman oleh Gabriel.

__ADS_1


''Tapi ini sudah malam lho, sayang. Kasian nanti bayi kita kedinginan.''


''Gak apa-apa, aku cuma mau bantu gosok punggung kamu doang, gak mandi beneran ko.''


''Ya sudah kalau begitu.''


Keduanya pun masuk ke dalam kamar mandi secara bersamaan.


Di dalam kamar mandi.


Al nampak duduk, menatap suaminya yang kini tengah menyiapkan air hangat di dalam bathub, dia pun terlihat menuangkan sabun wangi membuat air di dalam bathub berubah menjadi buliran busa putih yang membumbung tinggi.


''Hmm ... Apa gak kebanyakan tuh sabun'nya ...?'' tanya Al, meletakkan kepalan tangannya di bawah dagu.


''Emang sengaja, biar bau amis di tubuh aku benar-benar hilang, aku gak mau kalau kamu sampai gak nyaman tidur sama aku malam ini,'' jawab Briel mulai membuka kaos oblong berwarna hitam yang dipakainya.


Mata Al nampak berbinar, saat tubuh kotak-kotak sang suami terekspos sempurna bak roti sobek yang minta di lahap, namun, seketika tatapannya berubah nanar, saat melihat begitu banyaknya luka lebam yang kini telah membiru, hampir memenuhi tubuh bagian atas suaminya tersebut.


''Tunggu ...! Tubuh kamu penuh dengan luka lebam, apa akan baik-baik saja jika luka ini di rendam dengan air sabun seperti itu?'' tanya Al, bangkit lalu mengusap satu-persatu luka di perut, tangan, bahkan punggung.


''Hmm ... pasti sakit sekali, ya ...?''


''Hmm ... Nggak ko, biasa aja.'' Jawab Briel berbohong, karena nyatanya sekujur raganya kini terasa remuk.


Al nampak meraba satu-persatu luka tersebut, lalu mengecupnya pelan berharap dengan dia melakukan hal seperti itu, rasa sakit yang dirasakan oleh suaminya itu akan sedikit berkurang.


Briel hanya berdiri mematung dengan mata yang menatap kepala istrinya yang kini tidak hentinya menciumi sekujur tubuhnya.


''Sudah cukup, sayang. Darahku terasa mendidih digituin sama kamu, hentikan ...'' lirih Briel memejamkan mata.


''O ya ...?'' jawab Al sedikit terkekeh.


''Ya sudah kamu mandi dulu sana, selesai mandi, aku tunggu kamu di atas ranjang, oke ...?'' ucap Al mengedipkan satu matanya.


''Kamu serius ...?''


Al mengangguk seraya mengecup tipis bibir sang suami.

__ADS_1


''Ya udah, aku mandi dulu ya. Kamu tunggu aku di dalam.''


Al kembali menganggukkan kepalanya, lalu berjalan keluar dari dalam kamar mandi.


30 menit kemudian, Briel pun selesai mandi, dia keluar dari dalam kamar dengan hanya mengenakan handuk kimono berwarna putih, rambutnya yang basah dia kibaskan ke kiri dan ke kanan.


Briel nampak berjalan ke arah ranjang, dan menatap tubuh sang istri yang ternyata sudah tertidur lelap dengan selimut yang menutupi seluruh bagian tubuhnya, hanya menyisakan bagian wajahnya saja dengan mata yang nampak sudah terpejam sempurna.


''Hmm ... kamu pasti lelah nungguin aku semalaman,'' lirih Briel pelan, tidak ingin menganggu tidur istrinya.


Dia pun hendak naik ke atas ranjang dan memasukan tubuhnya ke dalam selimut, tangannya nampak membuka selimut tebal yang membalut tubuh istrinya dan terkejut seketika saat melihat raga sang istri yang terlihat sudah polos tanpa penghalang apapun.


Sontak saja, Briel tersenyum lucu, melihat raga sang istri yang begitu seksi dengan perut yang sudah membesar, meringkuk di dalam selimut.


''Dasar, ngerti banget si apa yang suaminya inginkan,'' lirih Briel, masuk ke dalam selimut.


Al yang memang sudah setengah tertidur sontak membuka mata, saat raga polosnya di jamah lembut oleh tangan suaminya.


''Mandinya udah selesai?'' tanya Al menguap.


''Maaf ya, kamu harus nunggu lama,'' tanya Briel men*ium punggung istrinya.


''Iya, lama banget, aku sampai ketiduran lho ini.''


''Kalau kamu ngantuk, tidur aja. Aku gak apa-apa ko ...''


''Hmm ... Apa kamu gak liat, aku udah polos kayak gini, masa mau di anggurin gitu aja si.''


''Baiklah kalau kamu maksa ...'' jawab Briel langsung memeluk erat tubuh polos sang istri.


Dia pun membuka kimono yang dikenakannya dan melemparkannya ke sembarang arah, hingga raga mereka sama-sama polos tanpa penghalang apapun.


''Aku sayang kamu, Axela ...'' bisik Briel mel*mat telinga istrinya.


''Aku juga menyayangimu, Gabriel ...'' jawab Al, memejamkan mata, meremas rambut suaminya kuat-kuat.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


__ADS_2