Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Pertengkaran kecil


__ADS_3

''Nggak usah, aku bisa makan sendiri,'' Adel meraih sendok yang hendak di masukan ke dalam mulutnya.


''Nah, gitu dong,'' jawab Axel dengan tersenyum lalu menyerahkan mangkuk itu.


Adelia hendak memakan bubur buatkan Axel, namun sebelumnya dia mengaduknya terlebih dahulu, meski merasa ragu dia pun mengambil satu sendok berisikan bubur dan memakannya perlahan.


''Gimana rasanya?'' tanya Axel merasa penasaran.


''Mmmm... Rasanya enak, dari mana kamu mendapatkan resep bubur seperti ini? Apa jangan-jangan kamu sebenarnya tukang bubur ya?'' tanya Adel dengan mulut yang terisi penuh dengan makanan.


''Aku kan sudah bilang tadi, selain aku jago bela diri, aku juga jago masak, tapi bukan berarti aku penjual bubur lho.''


''Iya... iya... kamu memang jago masak, dua jempol deh buat kamu,'' jawab Adel mengalah dengan mengangkat dua jempol tangannya.


Axel tersenyum dengan sombong.


''Habisin...''


''Iya... cerewet banget si seperti emak emak saja.''


Adel makan dengan lahapnya, karena dari pagi dia belum makan sama sekali membuat perutnya terasa sangat lapar.


Axel hanya menatap wajah Adel, dengan tersenyum kecil sambil menyanggah dagu dengan kepalan tangannya.


''Jangan ngeliatin aku kayak begitu nanti wajahku berlubang lho,'' tanya Adel dengan tanpa menoleh.


''Kenapa? aku kan calon suamimu?'' jawab Axel percaya diri.


Uhuk...


Adel batuk dan tersedak mendengar ucapan dari Axel, lalu dengan sigap Axel mengambil satu gelas air minum dan menyerahkannya.


''Makan nya pelan pelan, saking enaknya ya?'' ucap Axel dengan tersenyum percaya diri.


''Kata siapa kamu calon suami aku, percaya diri sekali kamu,'' jawab Adel sesaat setelah minum.


''Aku yang bilang, kan di sini tak ada siapa-siapa lagi selain kita,'' Axel dengan tersenyum menggoda.

__ADS_1


''Ciih... dasar Axel si pria paling percaya diri sedunia,'' Adel mengerucutkan bibir mungilnya.


''Bibir mu jangan di gituin, bikin aku ngilu, tau.'' Axel semakin menggoda.


''Sudah... sudah...! aku sudah kenyang, dan sekarang aku mau istirahat, bisa tolong keluar dari kamar ku, lama-lama wajahku bisa benar-benar berlubang,'' Adel kesal lalu menyerahkan mangkuk yang sudah terlihat kosong.


''Kamu gak ngucapin terima kasih sama aku,'' ujar Axel meraih mangkuk kosong.


''Iya... Terima kasih Axel, si pria paling percaya diri,'' ucap Adel.


''Aku keluar dulu ya, kamu istirahat. Jangan mikirin yang macam-macam, apa lagi mikirin aku,'' ujar Axel berdiri dan hendak pergi.


''Dih...! siapa lagi yang bakalan mikirin kamu.''


Axel tersenyum, dan menghentikan langkahnya, ia pun kembali berbalik dan menghampiri Adel. Entah apa yang ada di fikiran pemuda itu, tiba-tiba saja dia mendekati Adel dan mengecup keningnya.


Adel terkejut seketika, saat bibir kenyal Axel menyentuh lembut keningnya, dia tidak menolak ataupun memberontak, dirinya hanya memejamkan mata saat sentuhan bibir itu berada di keningnya selama beberapa detik.


''I Love you.'' Ucap Axel tiba-tiba, sesaat setelah dia melepaskan kecupannya.


Setelah melakukan hal tersebut Axel pun berbalik dan meneruskan langkahnya, dia tidak keberatan sama sekali meskipun ucapkan cintanya tidak dijawab oleh gadis itu, karena dia yakin lambat laun Adel akan menerima dirinya sebagai calon suaminya.


_______------_______


Pagi hari Axel terpaksa terbangun karena mendengar suara seperti memotong sayuran, karena dia merasa penasaran, akhirnya dia turun dari tempat tidur dan berjalan menuju dapur.


''Adelia...? kamu sedang apa? bukannya kamu sedang sakit?'' tanya Axel dengan wajah terkejut.


''Memangnya gak lihat aku sedang apa?'' tanya Adel dengan wajah tanpa menoleh.


''Iya, aku lihat. Tapi kan kamu sedang sakit, seharusnya kamu berbaring di kamar, beristirahat, kenapa malah di sini?'' tanya Axel merasa kesal.


''Aku lagi buat Adonan, rencananya akan berjualan hari ini,'' jawab Adel masih tanpa menoleh dan fokus kepada wortel yang sedang di potongnya.


''Ya ampun...! kamu tuh ya, duh... aku benar benar kesal sekarang, kalau kamu mau berjualan, tunggu sampai tubuhmu benar-benar pulih, baru tadi malam badan mu Demam,'' Axel sedikit menaikan suaranya.


Adel diam saja tanpa merespon ataupun menoleh ke arah pria yang saat ini terdengar sedang marah.

__ADS_1


''ADELIA...'' Axel berteriak memanggil nama Adel.


Adelia menghentikan gerakannya seketika berdiri, lalu menatap wajah Axel dengan tatapan tajam


''Memangnya kamu siapa? berani melarang larang aku, terserah aku dong mau ngapain saja, tubuh ini tubuhku sendiri, mau aku gunakan dalam keadaan apapun, ya, terserah aku...'' Adel pun menaikan suaranya.


''Iya, aku tahu, tapi jika kamu sakit lagi, siapa yang susah? aku...''


''Aku tak pernah memintamu untuk merawatku, kamu sendiri yang melakukannya, kalau kamu gak suka, silahkan pergi dari sini, aku tidak apa-apa di tinggal sendiri,'' suara Adel terdengar sangat kesal, setelah mengucapkan hal itu, dia pun kembali duduk dan meneruskan aktivitasnya memotong sayuran.


''Baik jika itu mau mu,'' Axel berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Adelia di dapur.


Sebenarnya Axel merasa sangat kesal, karena dia merasa khawatir dengan kesehatan Adelia, baru saja tadi malam tubuhnya demam dan dia merawatnya dengan sepenuh hati, namun pagi pagi dia sudah berucap akan berjualan, sungguh Axel sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran Adel.


Dia pun keluar dari rumah itu, berjalan, namun tak tahu akan kemana, dia hanya terus melangkah, agar bisa pergi menjauh dari rumah itu untuk menenangkan hatinya yang sedang kesal.


______-----______


Adelia berjalan mondar-mandir di teras rumahnya, hari sudah semakin sore, namun Axel belum juga kembali ke rumah, dia sungguh tidak bermaksud untuk mengusir pria itu, kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya saat emosi sedang memenuhi hatinya.


Sekarang dia pun menyesal karena telah mengatakan hal itu, Adel hanya bisa berharap Axel tidak termakan ucapannya dan kembali ke rumah.


Matahari pun hampir terbenam, pria yang dinanti pun belum juga datang, Adel meremas baju yang pakai dengan kedua tangannya sambil mengigit bibir bawah merasa sangat cemas.


Adzan pun berkumandang, dan tak lama kemudian Axel datang dengan berjalan menghampiri Adel yang sedari tadi menunggunya di teras rumah.


Tanpa sadar Adel langsung berlari seketika, menghampiri Axel dan langsung memeluk tubuh kekarnya.


''Kamu kemana saja? aku menunggu mu dari tadi?'' tanya Adel di dalam pelukan pria tinggi dan kekar itu.


''Kenapa? apa kamu berfikir aku akan benar-benar pergi dari sini?''


Adel mengangguk di dalam pelukan.


''Jangan khawatir, aku tak akan meninggalkanmu di sini, aku kan sudah berjanji sama ibu, akan menjagamu. Lagipula aku kan calon suamimu,'' jawab Axel tersenyum, seraya kedua tangannya mendekap dengan erat tubuh tinggi dan ramping itu.


__________-----------__________

__ADS_1


__ADS_2