Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Hadiah Pernikahan


__ADS_3

''Siapa yang mengantarkan kotak ini?'' tanya Leo dengan sedikit kesal, lalu melempar kotak tersebut.


''Kenapa, Pap? mengapa papi marah-marah seperti itu?'' tanya Axel, dia meraih kotak dan hendak membukanya.


''Jangan, El. Jangan dibuka, Papi takut isinya teror.''


''Masa sih teror ...? mana ada orang yang berani mengirimkan teror ke sini ...?''


''Kamu ini, kata Papi jangan dibuka ya jangan.''


Leo meraih kotak tersebut dengan kasar, membuat semua yang ada di sana merasa heran dengan sikap yang ditunjukkan oleh Leonardo.


''Sayang, kamu kenapa si sebenarnya?'' Adelia sang istri menghampiri.


''Kamu ingat kejadian beberapa tahun lalu, saat ada orang yang mengirimkan kotak yang sama seperti ini, isinya ... isinya ...! Akh ... Kamu tahu sendiri 'kan isinya apa?''


''Tapi itukan dulu, sini biar aku yang buka,'' pinta Adelia memegang kotak tersebut.


''Tapi, sayang?'' Leo semakin mempererat pegangan tangannya.


Adelia membulatkan bola matanya, menatap wajah sang suami yang terlihat begitu khawatir, dia pun meraih kotak tersebut dengan sedikit paksaan, hingga kotak itu benar-benar terlepas dari tangan Leo, dan berada di dalam genggamannya sekarang.


Dia pun mulai membuka kertas berwarna pink, menyobeknya perlahan dengan diiringi tatapan tajam suaminya yang terlihat semakin khawatir, hingga kertas itu pun benar-benar robek sempurna menyisakan kardus berwarna coklat.


Perlahan Adelia membuka isi kardus tersebut dan tersenyum bernapas lega, lalu memperlihatkan isinya kepada sang suami.


''Lihat, isinya bukan teror 'kan?'' ucap Adelia.


Leo pun tersenyum seraya menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sebenarnya, dia menatap isi kotak yang ternyata isinya adalah satu set perhiasan mahal lengkap dengan kertas bertulisan memo didalamnya.


Leo meraih kertas itu, lalu membacanya.


_______________


Ehem ... Ehem ... Tes ... Tes ...


Kamu pasti sedang membaca tulisan ini 'kan Leo ...? Ini aku Alex, sahabat kamu. Aku tahu kamu pasti panik mendapatkan kotak hadiah ini? ha ... ha ... ha ...


Jangan khawatir, isinya bukan teror, aku sengaja membeli ini semua untuk hadiah pernikahan putrimu, aku bingung mau memberikan hadiah pernikahan apa, itu sebabnya aku memilihkan perhiasan yang paling bagus dan yang paling mahal, karena aku tahu kamu pasti akan mengejek jika aku membelikan hadiah murahan.


Aku doakan putrimu bahagia dan menjalani rumah tangga yang sakinah, mawadah, warahmah. Doa aku tulus, lho ...

__ADS_1


Satu lagi, kamu juga harus memberikan hadiah yang sama mewahnya jika nanti putra dan putri kita menikah, oke calon besan ...


By. Alex.


Nb. Maaf kotaknya kebesaran, sengaja biar kamu panik, ha ... ha ... ha ...


_________________


Leo pun tersenyum, dia tidak menyangka sahabat terbaiknya akan memberikan hadiah spesial seperti itu, lalu dia meraih kotak tersebut dan benar-benar menatap isinya dengan seksama, tanpa dia sadari bahwa, semua yang ada di sana, menatap wajahnya dengan tatapan heran.


''Dasar Alex, si pria tua yang lambat, so imut banget si pake surat segala, memangnya dia pikir aku anak kecil, dikirim surat kayak gini bakalan senang?'' Leo bergumam sendiri seraya tersenyum.


Dia masih belum menyadari tatapan yang berasal dari seluruh keluarganya. Hingga akhirnya dia menoleh ke arah sang istri, lalu bergantian menatap satu-persatu anak-anaknya dengan tatapan yang terlihat malu, dan wajah yang memerah.


''Kenapa kalian menatap Papi kayak gitu? iya-iya Papi salah ...'' tanya Leo menggaruk kepalanya.


''Lihat 'kan? isinya hadiah beneran, kamu itu terlalu berlebihan tahu, bikin panik kita semua aja,'' ucap Adelia dengan sedikit kesal.


''Iya-iya maaf, sayang. Aku salah.''


''Isinya apa, Pap?'' tanya Al berjalan menghampiri.


Axela meraih kotak perhiasan tersebut membukanya dan terkejut seketika melihat isinya, dia pun menatap dengan mata yang berbinar lalu tersenyum begitu senang.


''Wah, bagus sekali, isinya lengkap banget, pasti harganya mahal.''


Al meraih kalung yang berhiaskan permata putih berkilau, mencoba memasangkan di lehernya, setelah itu dia menatap satu persatu perhiasan lainnya dengan motif yang sama.


Sementara itu, karena Adelia merasa penasaran, dia kini meraih kertas memo yang di genggam oleh sang suami, lalu membaca, dan tersenyum kecut sesaat setelah dirinya selesai membaca kertas tersebut.


''Sahabat kamu itu lebay banget si, so kepedean lagi, siapa lagi yang mau jadi besan dia,'' ucap Adelia tidak menyadari tatapan Axel yang menatap lekat wajahnya.


''Mom ...?'' ucap Al.


''O iya, maaf Mommy tidak bermaksud berkata seperti itu,'' Adelia segera meralat ucapannya.


Axel hanya terdiam, di merasa tidak terkejut lagi mendengar ucapan ibunya tersebut, memang sudah sejak lama, dia menyadari bahwa sepertinya telah terjadi sesuatu di masa lalu, antara ibunya tersebut dengan Alex, ayah dari kekasihnya.


''Sudah-sudah ...! Sebaiknya kita pulang saja, kita biarkan pengantin baru ini berduaan sekarang, kalau lama-lama berada di sini, kita bisa ganggu kebersamaan mereka,'' ucap Lucky kemudian.


''Dek ...! kamu masih kecil, tahu apa kamu tentang pengantin baru?''

__ADS_1


''Kakak, jangan bilang aku anak kecil terus, aku beranjak dewasa sekarang,'' jawab Lucky sedikit kesal.


''Baru mau beranjak dewasa, bukan dewasa, ingat ya ...?'' timpal El sang Kaka.


Semua yang ada di sana pun tertawa bersama, tertawa begitu bahagia, semua kesedihan dan kesakitan yang beberapa hari yang lalu mereka rasakan seolah sirna seketika.


🌹🌹


Malam hari.


Kini tinggal Al dan Gabriel yang ada di kamar, sebenarnya Axel dan Lucky menemani di Rumah Sakit, namun, karena tidak ingin mengganggu sepasang pengantin baru itu, mereka memilih untuk berada di luar Rumah Sakit.


Gabriel nampak duduk bersandar bantal dibelakang punggungnya, dia tersenyum menatap wajah wanita yang kini telah menjadi istrinya, menatapnya lekat dengan tatapan penuh rasa cinta.


''Jangan liatin aku kayak gitu, muka aku bisa berlubang,'' ucap Al, berjalan menghampiri, dan berdiri di tepi ranjang.


''Sini naiklah, istirahat dulu, kamu pasti lelah, ingat, kamu harus banyak istirahat, jaga bayi kita baik-baik.''


Al pun menuruti keinginan suaminya, dia naik atas ranjang dan berbaring tepat di samping suaminya, dengan tangan yang dilingkarkan di perut Gabriel.


''Apa kamu bahagia?'' tanya Briel menatap wajah sang istri.


Al mengangguk, lalu menatap wajah laki-laki yang telah sah menjadi suaminya itu.


''Kamu sendiri, apa kamu bahagia?'' tanya Al kemudian.


''Tentu saja, aku bahagia sekali. Aku sungguh mencintaimu, istriku.''


Al terkekeh mendengar ucapan Briel.


''Ko ketawa? emangnya lucu?''


''Nggak, bukan maksud aku mentertawakan ucapan kamu, aku hanya belum terbiasa disebut dan mendengar kata istriku, masih terasa asing di telingaku,'' jawab Al masih terkekeh.


''Nanti lama-lama juga kamu terbiasa, istriku, sayangku ...'' ucap Brie, mengecup pelan bibir sang istri.


Al pun membalas kecupan, sang suami. Namun, merasa tidak puas dengan hanya sebuah kecupan, keduanya pun kini membenamkan bibir masing-masing, me*umatnya perlahan lalu saling berputar dan menyesap saling meluapkan hasrat masing-masing.


____________-----------_____________


Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Reader, terima kasih ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2