
Axel terkejut mendengar ucapan ibu, yang mengatakan bahwa dia harus pulang ke rumah orang tua kandungnya, begitupun dengan Adel, dia membulatkan bola matanya seketika saat mendengar hal tersebut.
Baru saja beberapa hari dia merasakan dan mendapatkan kekasih sayang dari seorang suami, apakah sekarang harus di tinggalkan begitu saja? batin Adelia bergejolak.
''Terus aku bagaimana bu?'' tanya Adel dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
''Ya, kamu ikut. Kamu kan istrinya?'' ucap ibu lembut.
''Kenapa dia harus ikut? dia kan menikah dengan Laki-laki yang bernama Axel, buka Leonardo, apakah pernikahan kalian sah secara hukum dan Agama?'' ujar Angel dengan nada suara yang penuh dengan penekanan.
Ketiga orang yang mendengar hal tersebut terkejut dan menatap wajah Angel secara bersamaan, membuat Angel salah tingkah.
''Kenapa kalian menatapku seperti itu? bukankah yang aku katakan adalah benar?'' tanya Angel.
''Tapi kan dia hilang ingatan,'' ucap Adel kemudian.
''Ya... ya... anggap saja kemarin-kemarin dia hilang ingatan, dan kalian menahannya di sini, memberinya nama, lalu dinikahkan. Tapi sekarang identitas dia sudah di ketahui dan aku adalah orang yang sangat mengenal dia. Mana mungkin Leonardo mau dengan wanita kampung seperti dia,'' jawab Angel dengan bola mata yang membulat sempurna.
''Kami tidak menahannya, dan juga tidak memaksanya untuk menikahi'ku, dia sendiri yang ingin untuk tinggal disini dan meminta aku untuk jadi istrinya, kamu kalau ngomong hati-hati ya,'' Adel tidak mau kalah.
''Sudah cukup, kalian berdua hentikan,'' sungut Axel dengan nada suara yang di naikan.
''Aku akan pulang, tapi Adel ikut denganku, karena dia istriku dan aku mencintai'nya.''
Axel meraih lengan sang istri dan menggenggam jemarinya dengan menatap wajah Angel karena dia mengucapkan hal itu untuk mempertegas kepada wanita itu, bahwa dia yang sekarang bukanlah Leonardo yang merupakan seorang mafia, melainkan Axel, Laki-laki biasa yang hanya ingin hidup tenang bersama wanita yang di cintai'nya.
Angel terperangah, dia merasa tidak percaya bahwa Laki-laki yang dahulu memuja dan memuji dirinya, kini telah berubah dan mencintai wanita lain, apa mungkin karena Amnesia yang sedang menimpanya, membuat perasaan nya pun turut hilang kepada dirinya? batin Angel.
''Baiklah, lakukan apapun yang kau mau, aku yakin, kamu seperti ini karena kamu sedang dalam keadaan Amnesia, nanti jika ingatanmu telah kembali seluruhnya, aku percaya bahwa kamu akan kembali kepadaku seutuhnya,'' jawab Angel merasa percaya diri.
Tak lama kemudian, ponsel Angel berdering, dia pun meraih ponsel, menatap sekejap layar ponsel miliknya lalu mengangkat telpon tersebut.
__ADS_1
''Lihat, ibu kandungmu menelpon?'' Angel menunjukan layar ponselnya yang bertuliskan 'Tante Liana' kepada Axel.
''Halo, Tante, ini saya Angel, calon menantu Tante,'' ucap Angel berbicara di dalam telpon dengan mendelik ke arah Adel.
Entah apa yang di bicarakan oleh orang yang berada di dalam tersebut, karena Angel seketika merubah ekspresi wajahnya, yang semula tersenyum bahagia karena menerima panggilan dari calon mertuanya, kini berubah menjadi muram dengan air mata yang memenuhi pelupuk matanya.
Angel menyudahi pembicaraan nya di telpon, lalu menatap wajah Axel di iringi dengan air mata yang mulai berjatuhan.
''Leo... kita harus pulang sekarang juga, ibumu... hiks hiks hiks...'' Angel tidak kuasa meneruskan ucapannya.
''Kenapa? ada apa dengan ibuku?'' tanya Axel dengan wajah yang terlihat sangat penasaran.
''Ibu... ibu'mu... Tante Liana...hiks hiks hiks... dia ditemukan te--tewas di kediamannya...''
Axel terkejut seketika, air matanya mengalir dengan sangat derasnya, merasa menyesal karena tidak bisa menemani hari-hari terakhir sang ibu kandung.
''Mamih... mamih ku wafat? hiks... hiks... hiks...'' tanya Axel masih merasa tak percaya.
''Ti--tidak mungkin...''
''Kita harus segera pulang sekarang juga, sekarang jenazah Tante Liana sudah berada di Rumah Sakit untuk di otopsi,'' Angel kembali berucap.
''Cepat bereskan bajumu, kita berangkat sekarang juga,'' Axel menatap wajah Adelia.
Adel pun segera masuk ke dalam kamar, dia memasukkan baju miliknya ke dalam tas besar, kemudian dia pun memanggil sang ibu untuk masuk ke dalam, karena ada sesuatu yang ingin dia bicarakan.
''Ada apa?'' tanya ibu duduk di samping Adelia.
''Apa yang aku lakukan Bu? apa aku harus benar-benar ikut bersama Axel?''
''Tentu saja, dia suamimu, kamu harus ikut kemanapun dia pergi, apalagi ibu mertuamu meninggal dunia, jadi kamu harus menemani dan menenangkan suami'mu, ibu yakin hatinya pasti sangat terluka.''
__ADS_1
''Lalu ibu sendiri bagaimana? aku tak tega jika harus meninggalkan ibu sendiri di rumah,'' ucap Adel dengan mata yang sudah penuh dengan air mata.
''Ibu baik-baik saja, sayang. Lagi pula, kamu bisa mengunjungi ibu kapanpun kamu mau, jangan sedih seperti ini,'' ibu meraih tubuh putri kesayangan lalu memeluknya dengan penuh kasih sayang.
Adel menangis sesenggukan di dalam pelukan ibu, dirinya sungguh merasa belum siap untuk meninggalkan sang ibu, apalagi ibu Sarah hanya tinggal sendiri.
''Ibu ikut saja sama aku, kita tinggal bertiga di sana,'' Adel melepaskan pelukan sang ibu, lalu menatap wajahnya penuh harap.
''Tidak, sayang. Sudah sewajarnya jika putri yang sudah menikah akan mengikuti suaminya, ibu gak apa-apa ko, beneran deh...!'' jawab ibu dengan suara yang terdengar menahan kesedihan.
Adelia kembali memeluk tubuh ibu, dan menangis di dalam pelukannya. Sampai akhirnya Axel masuk ke dalam kamar, dan duduk di samping ibu Sarah.
''Apa kamu sudah siap?'' tanya Axel menatap wajah sang istri.
Adel mengangguk lalu melepaskan pelukan sang ibu, dirinya pun terlihat mengusap air mata yang sempat membasahi pipinya.
Ibu menatap wajah Axel dan meraih lengannya, menggenggam erat jemari Axel dengan mata yang menatap penuh kasih sayang.
''Axel... ibu turut berduka cita atas meninggalnya ibu kandung'mu, ibu sungguh merasa sedih mendengar hal itu,'' ucap ibu Sarah berbelasungkawa.
''Iya, Bu. Terima kasih. Aku juga mau mengucapkan terima kasih sama ibu, karena selama ini telah merawat serta menganggap'ku seperti anak sendiri, aku sangat beruntung di selamatkan oleh ibu,'' jawab Axel, dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.
''Iya, sayang. Ibu juga bersyukur karena mempunyai menantu yang baik dan perhatian seperti kamu. Sekarang ibu berpesan, tolong jaga Adel dengan baik, jangan pernah melukai hatinya ataupun membuatnya menangis, mulai saat ini ibu serahkan Adel padamu,'' ibu berucap dengan menitikkan air mata.
''Iya, Bu. Aku berjanji tidak akan membuat Adelia kecewa dan akan selalu membuat'nya bahagia, ibu bisa percaya dengan kesungguhan'ku,'' Axel berucap dengan bersungguh-sungguh.
Setelah saling berpamitan dan berpelukan, Adelia dan Axel pun berangkat ke kota dengan menaiki mobil Angelina.
Perjalanan panjang pun di mulai, perjalanan menuju kehidupan yang berbeda di kota, dimana tempat tinggal Axel berada, kehidupan penuh liku dan rintangan sedang menunggu di depan mereka.
__________----------___________
__ADS_1