
Ceklek ...
Perlahan Leo membuka pintu mobil, begitupun dengan Gabriel, sang menantu, di dalam hati seorang Leonardo tiba-tiba saja terselip rasa syukur karena memiliki menantu seperti Briel yang bisa menemani dirinya dalam menghadapi musuh tanpa harus melibatkan kedua putranya yang sama sekali tidak memiliki kemampuan apapun.
Perlahan tapi pasti, Ayah dan menantu itu berjalan beriringan dan berdiri tepat di depan pintu pagar yang sudah tertutup rapat.
Sementara itu rombongan Revan yang terdiri dari dua mobil pun nampak keluar dari dalam mobil, Revan berjalan menghampiri Leo sendirian sementara seluruh anak buahnya ia suruh menunggu di depan mobil.
''Selamat datang di rumahku Revan, tapi maaf, aku gak akan mengizinkan kamu masuk, karena pintu rumahku tertutup rapat untuk manusia bejat seperti kamu,'' ucap Leo.
Sementara Gabriel yang berdiri tepat di samping ayah mertuanya, kini mengarahkan pistol tepat ke arah kepala Revan yang kini berjalan semakin mendekat.
''Cuih, aku juga gak Sudi masuk ke rumahmu, aku ke sini hanya ingin mengambil putriku yang kau culik, ban*sat,'' jawab Revan.
''Siapa bilang aku menculik putrimu? aku hanya membebaskan gadis yang bernama Ayu yang di sekap oleh ayahnya sendiri. Apa kamu masih pantas di panggil dengan sebutan ayah, hah ...?'' teriak Leo.
''Kurang ajar, mau aku apakan dia, ya terserah aku, buka urusan kamu, bahkan jika dia mati ditangan aku pun itu sama sekali tidak ada hubungannya denganmu, Leonardo ...''
''Ha ... ha ... ha ... Kamu memang iblis berkedok manusia. Orang seperti kamu seharusnya di musnahkan dari muka bumi ini.''
Ucapan Leo benar-benar membuat emosi Revan memuncak, dia mengeluarkan pistol dari saku celananya, dan mengarahkannya tepat di wajah Leo, namun, Leo sama sekali tidak merasa gentar, karena Gabriel kini menempelkan pistol miliknya tepat di kepala Revan.
Kini posisi mereka benar-benar saling mengarahkan pistol, Revan mengarahkan pistol tepat di wajah Leo, sementara kepalanya sendiri kini di todong pistol milik Gabriel.
__ADS_1
''Kalau kamu berani menembak, maka kepala kamu pun akan aku pecahkan sekarang juga,'' ancam Gabriel, menarik pelatuk.
''Coba saja, aku sama sekali gak takut, sepertinya, jika kita mati bersama, dendam ini baru akan benar-benar berakhir,'' jawab Revan yang juga menarik pelatuk pistolnya.
Gabriel mengepalkan kepalanya geram, ingin rasanya dia benar-benar menghancurkan kepala mantan bosnya tersebut, tapi dia pun tidak ingin kalau sampai ayah mertuanya itu menadapat tembakan yang sama.
''Tenang-tenang Revan. Kalau kamu sudah ingin mati, ya mati saja sendiri jangan ajak-ajak aku. Lagipula kamu ke sini ingin mengambil putrimu 'kan? tapi sayang dia tidak ada di sini,'' ucap Leo santai dan seolah tanpa beban sedikitpun, meskipun kini pistol berada tepat di hadapannya.
''Bohong kamu, jelas-jelas anak buah'mu tadi menculik dia, aku juga sudah lihat dari rekaman CCTV di rumahku, kalau putramu itu menggendong Ayu keluar dalam rumah,'' teriak Revan dengan mata yang memerah.
''Apa dia beneran putri kandung kamu, Revan?'' tanya Leo sedikit menurunkan nada suaranya.
''Apa maksud kamu?''
''KATAKAN DIMANA PUTRIKU, BRENGSEK ...?'' teriak Revan membulatkan bola matanya.
''Apa kamu benar-benar ingin bertemu dengan putrimu? untuk apa? untuk bisa membunuh dia, hah ...?'' Leo balas berteriak.
''Gila kamu, mana mungkin aku membunuh putriku sendiri?''
''Tapi sayangnya kamu sudah melakukannya, Revan. KAMU SUDAH MEMBUNUH PUTRI MU SENDIRI,'' teriak Leo, geram. Teriakannya bahkan menggema di udara malam.
''Apa maksud kamu, Leo. Katakan? apa putriku benar-benar sudah mati, kamu yang membunuhnya, 'kan?''
__ADS_1
''Ha ... ha ... ha ... Mana mungkin aku membunuh pacar dari putra ku sendiri? gila kamu, aku tidak seperti kamu, Revan. Aku masih memiliki hati, dan hati aku masih berfungsi dengan baik, asal kamu tahu itu ...''
''Terus katakan dimana putriku saat ini, Leo. KATAKAN ...'' teriak Revan yang kini menempelkan pistol tepat di kening Leonardo.
Gabriel yang menyaksikannya merasa gugup seketika, dia pun melakukan hal yang sama, menekankan pistol yang di pegang-nya di kepala Revan, dan siap memuntahkan peluru apabila musuhnya itu mulai akan menarik pelatuk pistolnya.
''Kamu pikir aku takut mati, hah ...? tembak aku, kalau kamu berani,'' tantang Leo.
''Pap ...'' lirih Gabriel mulai merasa khawatir.
''Baiklah kalau memang itu yang kamu inginkan, kita mati bersama di sini, aku rela mati asalkan kamu ikut aku neraka,'' jawab Revan, terdengar serius dengan ucapannya.
''Awas saja kalau kamu berani menembak, kalau kamu melakukan hal itu, maka akan membunuhmu,'' teriak Briel mulai merasa khawatir.
Sedetik kemudian ...
Dor ...
Suara tembakan terdengar memecah keheningan.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Promosi Novel ...
__ADS_1