
''ADELIA... CEPAT KELUAR.''
Terdengar suara Laki-laki berteriak dari luar rumahnya, Adel dan Axel segera berlari keluar karena merasa sangat penasaran.
''Ada apa ini? mengapa kalian berkumpul di rumahku?'' tanya Adel dengan alis yang saling di taut kan.
''Kalian berdua telah berani tinggal serumah tanpa menikah, kalian harus di usir dari kampung ini, jika tidak, seluruh kampung akan kena sial,'' ujar pria bertubuh gempal dan berkumis tebal.
''Apa?'' Adel dan Axel saling pandang merasa heran.
''Sudah, tidak usah mengelak lagi tadi kami lihat kalian berdua keluar dari satu kamar yang sama, kalian pasti sudah berbuat mesum, kan''? ucap salah satu warga.
''Kami tidak berbuat mesum, sungguh...!'' wajah Adel terlihat pucat pasi merasa sangat malu diperlakukan seperti itu.
''Jangan mengelak lagi, CEPAT USIR MEREKA DARI SINI,'' beberapa warga berteriak dan meraih lengan Axel dan juga Adel.
Keduanya berontak mencoba melepaskan diri, namun apalah daya, genggaman tangan warga begitu kuat sehingga membuat pergelangan tangannya terasa sakit.
''Lepaskan kami, kami sungguh tidak berbuat mesum,'' Adel berteriak sambil terus memberontak.
Sementara itu, Axel yang sedang dalam kondisi mental yang tidak stabil hanya bisa pasrah dengan tubuh yang terasa lemas, saat para warga menyeret dirinya.
Dan tak lama kemudian terdengarlah suara ibu, berteriak dengan suara nyaring, menghentikan mereka.
''Hentikan? Ada apa ini, mengapa putri saya diseret seperti ini? Apa salah mereka?'' tanya ibu yang baru saja datang.
Sontak saja Adel menangis seketika dan berteriak memanggil ibunya.
''Ibu,hiks hiks hiks...!''
Ibu berjalan menghampiri Adel, dan menyingkirkan dengan kasar tangan laki-laki bertubuh besar itu, dari pergelangan tangan Adel.
__ADS_1
''Lepaskan tanganmu dari lengan putri saya,'' pinta ibu dengan mata yang menatap tajam ke arah Laki-laki tersebut.
''Kenapa ibu Sarah membiarkan putrinya tinggal hanya berdua saja dengan seorang laki-laki? Apa ibu tidak takut mereka berbuat mesum?'' tanya Laki-laki tadi yang tak terima tangannya disingkirkan begitu saja.
''Apabila ada sesuatu yang ingin dikatakan, mari kita bicarakan secara baik-baik, jangan seperti ini. Itu namanya main hakim sendiri,'' ucap ibu dengan nada tegas, membuat semua yang berada di sana terdiam.
''Mari kita masuk ke dalam, dan membicarakan nya secara baik-baik, tidak enak berdiri di sini sambil menyeret anak orang,'' ujar ibu kembali.
Akhirnya tiga orang perwakilan dari warga di sana masuk ke dalam rumah, mereka duduk di sana begitupun dengan Adel dan Axel yang duduk secara berdampingan.
''Coba bapak-bapak katakan, Apa yang membuat bapak-bapak semua melakukan hal seperti ini?'' tanya ibu dengan nada dan suara yang lembut seperti biasanya.
''Begini Ibu Sarah, kami mendapat laporan dari warga, bahwa putri Ibu sudah kumpul kebo dengan laki-laki yang bernama Axel ini,'' jelas salah satu warga.
''Mereka tidak kumpul kebo pak, kami tinggal bertiga di sini, hanya saja selama dua hari ini saya harus pergi karena ada urusan mendadak keluar kota, begitu...!'' Ibu mencoba menjelaskan.
''Tapi, tadi kami melihat mereka berdua keluar dari satu kamar yang sama, apa lagi itu namanya, kalau bukan telah berbuat mesum?'' pria bertubuh besar menatap dengan tatapan tajam ke arah Adel dan Axel.
''Be--benar, Bu. Tapi kita tidak habis berbuat mesum kok, aku hanya menemani dia sampai dia tertidur, tapi kami tak melakukan apa-apa, sungguh...'' Adel menjelaskan dengan sedikit terbata-bata, karena semua orang yang berada di sana menatapnya dengan perasaan curiga.
''Alah, sudah jangan mengelak lagi, kami yakin kalian sudah berbuat mesum, mana mungkin sepasang laki-laki dengan perempuan berada dalam satu kamar tapi tidak berbuat apa-apa, emangnya kalian malaikat? Hah...'' salah satu pria meninggikan suaranya.
''Kami sungguh tidak melakukan apa-apa, aku berani bersumpah,'' kali ini Axel yang menjawab.
''Ibu percaya sama kamu, tapi bagaimana dengan mereka? tak satupun diantara mereka yang percaya dengan ucapanmu,'' ibu mengelus punggung Adelia yang terlihat sedang menangis karena merasa tersudutkan.
''Sekarang, apa yang kalian inginkan?'' tanya ibu dengan tatapan tajam, menatap satu persatu warga yang duduk bersama nya di sana.
''Kami ingin mereka berdua diusir dari kampung ini, kalau tidak, mereka harus segera dinikahkan secepatnya, karena kampung kita akan terkena sial apabila ada pasangan mesum yang tinggal di kampung ini.''
''Iya, betul, saya setuju.'' Ucap salah satu warga lainnya.
__ADS_1
''Kami sama sekali tidak berbuat mesum, harus bagaimana lagi aku menjelaskannya, hiks hiks hiks...'' Adel berusaha terus menjelaskan, namun usahanya sia-sia, karena mereka tidak ada yang percaya.
''Apa kalian melihat kita berbuat hal seperti itu? Hah...'' terdengar suara Axel yang terdengar sangat kesal namun dengan nada suara yang sedikit di tahan.
Mereka semua terdiam.
''Jika kalian menuduh tanpa adanya bukti, itu namanya Fitnah, dan saya tidak akan segan-segan melaporkan kalian semua atas laporan pencemaran nama baik, mau kalian?'' amarah Axel pun tidak dapat lagi di tahan, dia menatap satu persatu pria tersebut dengan tatapan yang sangat tajam.
Ketiga orang itu pun hanya terdiam, namun mereka tetap tidak mau mengalah.
''Ibu Sarah, pokoknya saya ingin anak ibu pergi dari kampung ini, atau di nikahkan secepatnya, tinggal pilih saja salah satu, masalah kalian mengaku atau tidak itu urusan kalian, mana ada maling yang mau ngaku, kalian pikir saya bodoh?'' Laki-laki bertubuh gempal dan berkumis tebal pun pergi meninggalkan rumah ibu dengan perasaan kesal.
''Baik, pak...! saya akan mempertimbangkan salah satu dari pilihan bapak,'' ucap ibu sembari mengantar ketiga orang itu keluar dari dalam rumahnya.
Adel dan Axel saling pandang merasa terkejut mendengar ucapan ibu. Apa mungkin ibu akan benar-benar menikahkan mereka berdua? kalau mengusir keduanya rasanya tidak mungkin ibu melakukan hal tersebut. Sepertinya nya hanya itu pilihan satu-satunya yang ibu punya, yaitu, menikah.
Setelah mengantarkan tiga warga itu keluar, Ibu pun kembali masuk ke dalam rumah dan duduk di tempat semula, mata ibu terlihat melotot menatap secara bergantian ke arah Adel dan juga Axel.
''Ibu mau tanya sekali lagi. Apa benar kalian keluar dari kamar yang sama?'' tanya ibu dengan suara terdengar menginterogasi.
Axel dan Adel mengangguk bersamaan.
''Terus,mereka melihat kalian?''
Keduanya kembali mengangguk secara bersamaan.
''Tapi sungguh, Bu. Kami benar-benar tidak melakukan apa-apa,'' Adel kembali menegaskan.
''Terus kenapa kalian keluar dari kamar yang sama, pagi-pagi, di lihat orang pula? apa mereka akan percaya jika kamu bilang kalian tidak habis melakukan apa-apa?'' suara ibu terdengar penuh penekanan.
''Sekarang begini saja, Minggu depan kalian menikah, titik.'' tambah ibu dengan suara tegas.
__ADS_1
______________-----------______________