Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Rehabilitasi


__ADS_3

Plak ...


Sabetan gesper keras mengenai punggung, namun, bukan punggung Ayu yang terkena sabetan gesper berbahan kulit asli itu, melainkan punggung Lucky yang segera memeluk tubuh kekasihnya, membelakangi Revan sehingga sabetan yang dilayangkan begitu keras itupun tepat mengenai punggung lebar remaja berusia genap 17 tahun itu.


''Argh ...'' teriak Lucky, mendekap erat tubuh kekasihnya.


''Apa yang kamu lakukan, hah ...?'' teriak Revan kesal, sekaligus terkejut dengan apa yang dilihatnya.


''Hentikan, Om. Seharusnya aku yang bertanya, apa yang Om lakukan pada putri Om sendiri? bukan seperti ini seharusnya Om memperlakukan seseorang yang sedang dalam keadaan sakau,'' teriak Lucky, menoleh dengan tangan yang masih mendekap erat tubuh Ayu.


''Tau apa kamu anak kamu anak kecil, hah ...? Om minta kamu menyingkir, Om akan beri dia pelajaran, biar dia sadar dan kapok ...''


Lucky pun bangkit lalu berdiri tepat di depan Revan, dengan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.


''Aku gak akan terima kalau Om sampai melukai dia. Dia putri Om, saat ini dia sedang membutuhkan dukungan kita, dukungan kalian sebagai orang tua, bukan malah diperlakukan seperti ini, seharusnya Om berfikir, kenapa dia bisa terjerumus ke dunia hitam seperti ini? semuanya gara-gara kalian, orang tua yang selalu mengabaikan perasaan anaknya.''


''Orang tua yang sama sekali tidak pernah memikirkan kebahagiaan anaknya dan orang tua yang selalu sibuk dengan urusan kalian masing-masing, sehingga dia mencari kebahagiaan dan kesenangannya sendiri untuk mengobati rasa kesepian yang selama ini dia rasakan, apa Om tidak tau hal itu, Ayah macam apa Om ini.''


Plak ...


Tamparan pun mendarat keras di pipi Lucky.


''Tau apa kamu tentang Om? hah ...?'' tanya Revan murka.


Baru saja Lucky hendak kembali menjawab, tiba-tiba saja mereka berdua mendengar suara seperti sesuatu yang dibenturkan.


Buk ...


Buk ...


Buk ...

__ADS_1


Sontak, Lucky dan Revan menoleh ke arah Ayu yang ternyata sedang membentur-benturkan kepalanya ke tembok, dengan wajah datar dan linangan air mata yang terus berjatuhan, tatapan matanya pun terlihat kosong menatap dinding kamar.


Lucky pun semakin panik dan segera menghampiri dan memeluk kepala kekasihnya itu dengan mata yang mulai berair, Lucky mengusap lembut kening sang kekasih.


''Ayu, sayang. Please hentikan ...!'' lirih Lucky tak bisa lagi menahan kesedihan.


''Dasar anak tidak berguna, lebih baik kamu mati aja kalau begitu, Ayah sungguh kecewa dan menyesal memiliki anak seperti kamu, Ayu ...''


''Om stop ...! tinggalkan kami sendiri, dan izinkan aku tetap di sini menemani putri Om, atau kalau tidak, dia akanbenar-benar mati seperti yang Om katakan tadi,'' teriak Lucky semakin kesal.


Revan menghela napas panjang, dia menyesal juga mengatakan hal itu, karena walau bagaimanapun Ayu adalah putri satu-satunya yang dia punya.


''Baiklah, lakukan apapun yang kamu mau. Kamu, Ayu ... Besok kamu harus masuk panti rehabilitasi, hanya itu satu-satunya cara agar kamu bisa benar-benar sembuh,'' ucapan terakhir Revan sebelum dia benar-benar keluar dari dalam kamar, lalu menutup pintu dengan kasar.


Ayu menggelangkan kepalanya, mendongakkan wajahnya menatap wajah Lucky dengan tatapan nanar, bibirnya pun nampak mengeluarkan darah akibat gigitan keras yang tadi dia lakukan sendiri, matanya yang semakin memerah terus saja mengeluarkan air mata yang semakin deras mengalir membasahi wajahnya cantik gadis remaja itu.


''Nggak, aku gak mau ke sana. Bilangin sama Ayah jangan usir aku dari sini, aku gak mau, Luck ...'' lirih Ayu mengiba.


Ayu mengangguk lemas, sekujur tubuhnya terasa lemas dan juga letih, di tambah lagi rasa haus yang tak kunjung hilang, dahaga yang seolah terus mendorong tubuhnya agar memakai barang haram itu dia lawan sekuat tenaga kini.


Ayu memeluk erat tubuh kekasihnya itu, meremas pakaian yang dikenakan oleh Lucky, keras.


'Aku pasti bisa, aku kuat, aku harus bisa, ada kamu di sini Lucky ...' (Batin Ayu)


Mereka pun terus berada di sana, di pojok belakang pintu yang kini sudah tertutup rapat, dengan saling berpelukan Lucky terus menenangkan Ayu, dengan mengusap lembut punggungnya.


Satu jam berada di sana, akhirnya Ayu pun berangsur tenang, kini dia tertidur di dalam dekapan kekasihnya itu, dengan wajah pucat dan lingkaran hitam di bawah matanya.


Lucky pun segera menggendong tubuh Ayu, membawanya ke tempat tidur membaringkan-nya lalu menutup tubuh ramping itu dengan selimut tebal. Saat dirinya hendak turun dari atas ranjang, tiba-tiba saja jemari Ayu menarik pakaian Lucky, membuat Lucky menoleh dan menghentikan gerakannya.


''Jangan pergi, aku mohon. Temani aku di sini?'' lirih Ayu dengan tatapan sayu.

__ADS_1


Lucky terdiam sejenak, menatap wajah kekasihnya yang terlihat begitu mengenaskan, dan sangat membutuhkan dukungan dirinya.


''Baiklah, aku akan menemani kamu di sini, lagipula aku sudah izin sama ayahmu tadi,'' akhirnya Lucky memutuskan untuk tetap berada di sana.


Dia memasukan tubuhnya ke dalam selimut yang sama dengan Ayu, berbaring tepat di samping tubuh sang kekasih, lalu memeluk erat memberinya kehangatan dan meyakini dalam hatinya bahwa dia hanya akan melakukan ini, tidak akan melewati batas, hanya sebatas tidur bersama dan tidak melakukan apapun.


''Maafkan aku, aku hilang kendali, maaf ... hiks hiks hiks ...'' lirih Ayu menatap wajah Lucky yang kini berada sangat dekat dengan tubuh yang saling menempel.


''Iya, tidak apa-apa, sayang. Aku mengerti dengan keadaan kamu tadi,'' jawab Lucky menetap mesra.


''Tapi aku gak mau direhabilitasi, aku gak mau, aku takut, Luck ...''


Lucky terdiam sejenak, menatap wajah sayu memelas kekasihnya itu, Lucky seolah dapat merasakan kesakitan yang saat ini dirasakan oleh Ayu, hingga tanpa sadar matanya pun mulai berair kini.


''Iya, sayang. Aku akan bicara sama ayahmu, agar kamu bisa diobati di rumah aja. Sekarang kamu tidur, istirahat, tubuhmu pasti letih sekali, 'kan?''


Ayu mengangguk.


Lucky mengusap wajah cantik sang kekasih, membersihkan sisa air mata yang saat ini masih memenuhinya wajah cantiknya, dia pun mengecup kening Ayu membuat gadis itu benar-benar merasa tenang.


Keduanya pun semakin merekatkan selimut yang menutupi tubuh keduanya, meringkuk di dalamnya dengan saling berpelukan erat dan bahkan dengan tubuh yang tanpa jarak sedikitpun.


''I Love You ... Lucky ..."


Lirih Ayu sebelum dia mulai memejamkan mata.


''I Love You Too, Ayu ..."


Jawab Lucky, melakukan hal sama, memejamkan mata dengan mendekap erat tubuh kekasihnya tersebut, hingga keduanya pun benar-benar tertidur lelap hingga pagi menjelang.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


__ADS_2