
Dor ...
Gabriel terpaksa melayangkan tembakan, dirinya tidak mau identitasnya sampai di ketahui, dia memang menembak, namun hanya menembak bagian tangan kiri Leo, berharap bahwa ayah dari kekasihnya itu akan baik-baik saja nantinya.
''Maafkan aku ...'' dia pun segera berlari, menyusuri halaman hingga akhirnya sampai di pagar dan memanjatnya, setelah itu dia pun segera menaiki motor yang memang sudah terparkir di depan pagar.
Leo tersungkur di atas rumput, tangan kanannya memegangi tangan yang terkena tembakan, seraya meringis kesakitan, matanya pun mulai berkunang-kunang karena terlalu banyaknya darah yang sudah keluar.
Samar-samar dia melihat istri dan ketiga anaknya berlari menghampiri dengan suara tangis yang sedikit terdengar oleh telinga Leonardo, namun perlahan pandangan matanya mulai kabur, gelap pun mulai dia rasakan dan suara istri serta ketiga anaknya tidak lagi terdengar.
'Apa aku akan mati sekarang ...?' (batin Leo sesaat sebelum dia hilang kesadaran)
Adelia pun panik, tangisnya pecah seketika mendapati sang suami terkulai bersimbah darah, dia meraih kepala sang suami lalu meletakkannya di atas pakuan, begitupun dengan si kembar dan dan juga putra bungsunya, ketiganya menangis sesenggukan mengira sang ayah sudah meninggal.
''El ...! cepat ambil mobil, kita harus segera membawa papi ke rumah sakit, hiks hiks hiks ...!'' lirih Axela.
Tanpa basa basi, Axel pun segera berlari ke garasi, dan tidak lama kemudian dia pun Kembali, dengan membawa mobil miliknya, sang ayah pun di gendong oleh ketiga anaknya lalu di masukan ke dalam mobil, untuk segera di bawa ke Rumah Sakit.
***
Di Rumah Sakit.
Lampu ruang operasi mulai menyala, tanda ruangan tersebut sedang di gunakan mengoperasi pasien, Adelia nampak dipeluk oleh Axela, keduanya menangis sesenggukan, Lucky dan Axel terlihat lebih tegar, mata keduanya hanya terlihat berkaca-kaca namun hatinya merasa hancur sebenarnya.
Axel menatap wajah sang ibu, dengan tatapan mengiba, sebagai putra sulung tentu saja dia harus menjadi kekuatan terbesar untuk kedua saudaranya dan tentu saja ibunda tercinta.
El mendekati ibu dan juga Axela, di berjongkok tepat di depan dua wanita yang paling di cintai'nya tersebut.
''Mom ...! yang sabar ya, Papi pasti akan baik-baik saja, dia orangnya kuat, aku yakin ... '' Lirih El meraih tangan sang ibu dan juga kembarannya secara bersamaan, lalu menggenggam'nya dengan kedua tangan.
__ADS_1
''Mommy gak tahu apa yang akan terjadi dengan Mommy jika papi kalian sampai tiada, seperti'nya mommy pun akan menyusul ke sana kalau sampai itu terjadi, hiks ... hiks ... hiks ...!''
''Mom ...?''
Ketiga anaknya memanggil sang ibu secara bersamaan, Lucky bahkan segera menghampiri sang ibu lalu memeluknya, dia yang semula ingin bersikap tegar, tiba-tiba saja menangis sesenggukan seperti anak kecil, ketegarannya seolah runtuh setelah mendengar ucapan sang ibu.
''Mom ...! jangan bilang begitu, aku gak bisa hidup tanpa mommy, apa jadinya aku jika mommy dan papi sampai gak ada, hiks ... hiks ... hiks ...!" lirih Lucky menangis di pangkuan sang ibu.
Sang ibu yang merasa telah mengatakan sesuatu yang salah segera mendekap ketiga putra-putrinya, memeluknya seraya meminta maaf.
"Maafin Mommy, Mommy salah bicara, seharusnya Mommy menjadi sumber kekuatan buat kalian, ucapan Mommy tadi malah membuat mental kalian semua down, mommy minta maaf, El ... Al ... Lucky ..." Mommy mengecup satu-persatu putranya dengan perasaan penuh dengan rasa penyesalan.
Ketiganya pun mengangguk dengan terisak, di dalam pelukan sang ibu, tidak lama kemudian Ryan, orang kepercayaan Leonardo pun datang, di temani Angel sang istri.
Adelia pun segera melepaskan pelukan ketiga putra-putriku, lalu berdiri menyambut kedatangan sahabatnya tersebut.
''Adelia ...! Apa yang terjadi, mengapa bisa jadi seperti ini ...?'' Angel menghampiri lalu memeluk Adelia, mengusap punggungnya memberi dukungan.
''Pencuri ...?'' tanya Ryan.
Axel, Al dan juga Lucky mengangguk secara bersamaan.
''Gak mungkin, seumur hidup baru kali ini ada pencuri yang berani masuk ke rumah bos Leo ...!''
''Kalau bukan pencuri terus siapa? mana mungkin ada orang yang sengaja masuk ke rumah kita untuk menghabisi nyawa papi, kan ...?'' celetuk El, membuat semua mata tertuju kepadanya.
''Apa ...? apa aku salah bicara ...?'' ucapnya lagi kemudian.
"Ucapan Abang bikin bulu kudukku merinding ...?" Lucky.
__ADS_1
"Ya udah aku minta maaf kalau aku salah ngomong," El menyesali ucapannya.
"Adelia ...! kamu yang sabar ya, aku yakin Leo kuat, dia sudah berkali-kali terkena peluru, tapi dia selalu selamat, dia itu seperti punya nyawa ganda, kamu nggak usah terlalu sedih ya ...!'' Angel mencoba menenangkan.
Adelia pun mengangguk pelan, sementara ketiga anak Leo menatap wajah Angelina, mencoba mencari arti dari kata-kata yang baru saja di ucapkan oleh wanita tersebut.
Apa ini bukan kali pertama sang ayah terkena sebuah tembakan? itu artinya dahulu papi mereka juga pernah seperti ini? siapa papi sebenarnya...? Pertanyaan itu mendadak saja memenuhi pikiran El, Al dan juga Lucky, ketiganya terus menatap Angelina hingga wanita yang merupakan mantan kekasih dari ayah mereka itu salah tingkah di buatnya.
''Kenapa kalian menatap Tante seperti itu?'' Angel.
''Eu ...! Nggak ko, Tante. Gak ada apa-apa ko,'' Al mencoba menyembunyikan kegundahan hatinya.
''Om Ryan, apa papi punya musuh?'' celetuk El tiba-tiba.
''Maksud kamu ...?'' Ryan.
''Maksud aku, apa mungkin papi sebenarnya punya musuh, gitu ...?''
''Nggak, papi mu nggak punya musuh, meskipun ada, mereka sudah baikan, dan gak mungkin Alex melakukan hal ini, ini bukan gayanya dia ...!" Ryan menjelaskan.
"Alex ...?" El mengerutkan keningnya, nama Alex seperti familiar di telinganya.
Tidak lama kemudian, Dokter pun keluar dari dalam ruangan operasi, semua yang ada di sana segera berlari menghampiri Dokter tersebut, perasaan mereka di diliputi berbagai tanda tanya tentang bagaimana kondisi Leonardo, dan sudah tidak sabar mendengar kabar bahwa ayah merek baik-baik saja.
''Bagaimana keadaan suami saya, Dokter ...?'' Adelia berkaca-kaca, menatap wajah sang Dokter berharap mendapat kabar gembira.
________---------________
promosi
__ADS_1