
''Maksud kamu apa, El ...?
''Aku ingin membelikan kamu satu cincin, meski bukan cincin lamaran seperti yang dilakukan oleh pacarnya si Al, tapi anggap saja ini sebagai pembuktian cinta aku sama kamu, sebagai pengikat bahwa kamu milik aku, gak ada pria lain yang boleh merebut kamu dari aku,'' jawab El seraya tersenyum.
''Kamu serius? tadi aku cuma bercanda ko?''
''Aku serius, Ra. Ayo pilih cincin manapun yang kamu suka, dan seperti yang aku bilang tadi, kamu boleh pilih yang manapun yang kamu suka, gak usah mikirin harga, karena meskipun aku anak sekolahan aku punya banyak uang, jadi kamu gak usah khawatir, oke ...?''
Amora pun mengangguk, merasa terharu dengan apa yang dilakukan oleh kekasihnya. Dia pun melihat-lihat cincin yang terpajang di dalam etalase toko, memperhatikan satu-persatu yang semuanya terlihat cantik, membuat Amora kesulitan memilih'nya.
''Kamu aja deh yang milih, aku bingung, semuanya cantik ...!''
''Apa perlu aku beli semua yang ada di sini?'' Al dengan begitu sombongnya.
''Gak perlu, ya udah deh aku pilih sendiri.''
El tersenyum, menatap wajah cantik kekasihnya yang kini terlihat bahagia membuat hatinya merasa senang, sejujurnya dia melakukan ini karena rasa bersalahnya atas sikap sang ibu yang tadi sempat membuat Amora sedikit kecewa.
''Hmm, kayaknya aku suka yang ini deh,'' Amora menunjuk satu buah cincin, berwarna putih dengan taburan mutiara dia atasnya.
''Yang mana? yang ini?''
Amora mengangguk.
''Mbak, coba saya lihat cincin yang ini?'' pinta El kepada penjaga toko tersebut.
''Baik, mas sebentar ya.''
Penjaga itu pun mengeluarkan cincin yang dimaksud dari dalam etalase.
''Coba di pakai?''
Amora pun melingkarkan cincin itu di jari manisnya, dan ternyata ukuran nya memang pas dan cocok sekali dikenakan oleh dirinya.
''Gimana? kamu suka?''
Amora pun mengangguk seraya tersenyum.
''Mbak, aku ambil yang ini ya.''
''Baik, mas. Tunggu sebentar ya, saya siapkan surat-suratnya dulu.''
Axel menganggukan kepalanya.
''Makasih, El. Aku senang sekali,'' Amora menatap wajah kekasihnya.
''Iya, sama-sama sayang. Aku janji, jika kita sudah lulus nanti, aku akan melamar'mu secara resmi,'' jawab El, meraih lengan sang kekasih lalu menggenggamnya.
__ADS_1
**
''Huek ...''
Axela tiba-tiba saja terbangun tengah malam, perutnya terasa begah dan mulutnya mual, entah mengapa tiba-tiba saja dia terus-menerus merasa mual, namun, tidak ada satupun makanan yang di muntah'kan.
Al berjongkok di depan toilet dengan menundukkan kepalanya seraya hendak memuntahkan sesuatu, dengan keringat yang bercucuran dari pelipis wajahnya, dan kepala yang sedikit pusing.
Huek
Huek
Huek
Kemudian dia duduk di depan toilet, dengan tubuh yang di sandarkan di tembok, seluruh tubuhnya terasa lemas sekarang.
'Ada apa dengan aku? Apa aku masuk angin?' ( Batin Axela )
Al pun memejamkan mata seraya memegangi perutnya. Tiba-tiba saja, dia mengingat ucapan kembarannya waktu itu, yang mengatakan bahwa, jangan sampai dirinya hamil, karena memang, dia dua kali melakukan hal tersebut dengan kekasihnya itu tanpa menggunakan alat pengaman.
Tubuhnya mendadak terasa gemetar, jantung'nya pun berdetak begitu kencang, apalagi saat dia mengingat, sudah dua bulan ini dia sama sekali belum datang bulan.
'Apa aku hamil? gimana ini? apa yang akan terjadi jika aku benar-benar hamil?' (Batin Al merasa gelisah)
Dia pun menutup wajah dengan kedua tangannya, merasakan kegelisahan yang sangat mendalam, apa yang akan terjadi jika dia benar-benar hamil? Kedua orang tuanya pasti akan sangat kecewa, lalu, masa depannya bagaimana? Sungguh hati Al diliputi rasa gelisah yang mendalam.
***
Keesokan harinya di sekolah.
Wajah Al terlihat sangat pucat, di sekolah pun, tubuhnya merasa sangat lemas, dia memejamkan mata, meletakkan kepalanya di atas meja, sampai tiba-tiba rasa mual itu kembali datang, membuat Al segera berlari keluar dari dalam kelas, menutup mulut dengan kedua tangannya.
Axel yang hendak menghampiri Al kedalam kelasnya pun segera berlari mengejar, mengikuti kembarannya tersebut sampai dia memasuki toilet. El pun berdiri di depan pintu toilet lalu mengetuknya pelan.
Tok
Tok
Tok
''Al, kamu kenapa? Apa kamu sakit?'' Tanya El, merasa cemas.
Huek
Huek
Huek
__ADS_1
Terdengar suara dari dalam toilet.
''Al, kamu baik-baik saja, kan?'' El kembali mengetuk.
Axel pun terus berada di sana, sekitar 15 menit kemudian, Al pun keluar dari dalam toilet, dengan wajah pucat dan keringat yang membasahi pelipis wajahnya.
''Kamu kenapa?'' tanya El lagi.
''Aku gak tau, El. Dari semalam aku mual-mual terus, sepertinya masuk angin deh.'' jawab Al, sedikit meringis memegangi perutnya.
''Ya udah, kamu izin pulang aja, aku antar ya?''
Al menganggukan kepalanya.
Akhirnya, Axel pun mengantarkan kembaran'nya itu pulang, setelah meminta izin terlebih dahulu kepada wali kelas Axela.
Di perjalanan, Al nampak melamun, dia tidak banyak bicara, wajahnya menatap ke arah luar jendela, dengan kepala yang di sandarkan di sandaran kursi mobil.
''El, mampir ke Apotek dulu ya?'' pinta Al, tanpa menoleh.
''Apotek? mau beli obat?''
El mengangguk berbohong.
Sebenarnya, dia ke sana bukan untuk membeli obat, melainkan, membeli atas tes kehamilan, tidak mungkin jika dia harus mengatakan yang sejujurnya kepuasan saudaranya tersebut.
Akhirnya mereka pun sampai di depan Apotek, El segera memarkir mobil yang kendarai'nya tepat di depan Apotek tersebut.
''Kamu tunggu aja di sini, biar aku yang masuk, kasian badan kamu pasti lemas,'' pinta El, sesaat setelah dia menghentikan laju mobilnya.
''Nggak usah, aku bisa beli sendiri, kamu tunggu di sini, jangan ikuti aku, oke ...?'' Al dengan penuh penekanan, membuat El merasa heran sebenarnya.
Al pun keluar dari dalam mobil, lalu masuk kedalam Apotek tersebut. Merasa penasaran, El pun diam-diam mengikuti kembarannya itu, dia mengintip dari balik jendela kaca dan melihat apa yang sebenarnya di beli oleh Axela.
'Apa? Alat tes kehamilan? kenapa dia malah membeli itu? Apa mungkin dia---' ( Batin El merasa terkejut )
Dia pun terus berada di sana, sampai akhirnya Al keluar dari dalam Apotek, dan terkejut seketika melihat saudara'nya itu berada di sana.
''El ...? Ngapain kamu disini? bukannya tadi aku bilang jangan ikuti aku?'' tanya Al menyembunyikan kantong plastik di balik punggungnya.
El pun segera menarik tangan saudaranya itu dengan sedikit kasar, membawanya kembali memasuki mobil dan di susul oleh dirinya.
''Kenapa kamu beli benda itu?'' tanya El sesaat setelah dia duduk di dalam mobil.
''Apa maksud kamu?'' tanya Al berpura-pura tidak mengerti.
''Apa kamu hamil, Al?''
__ADS_1
____________-----------_____________