Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Maukah Kau Menjadi Istriku


__ADS_3

''Siapa ini?'' Leo mengerutkan keningnya mengangkat telpon.


''Masa kamu lupa dengan aku? aku sahabat terbaikmu, Alex...''


Deg...


Jantung Leo berdetak dengan kencang.


''Ada apa? bukankah kau sudah hidup tenang di sana? aku sudah sangat kesal padamu, kalau sampai aku melihatmu lagi, bisa saja aku membunuhmu,'' jawab Leo dengan perasaan kesal.


''Ha... ha... ha...! mengapa kamu mengatakan hal seperti itu? bukankah seharusnya kamu berterima kasih kepada'ku? berkat aku, perusahaan kamu terhindar dari kebangkrutan? malah sekarang sepertinya semakin berkembang, betul?''


''Mengapa aku harus berterima kasih kepada'mu, brengsek...? kau yang menyebabkan semua itu terjadi, jadi sudah selayaknya kamu mengembalikan semuanya kembali, dasar pencuri tidak tahu diri,'' Leo merasa geram.


''Hei... tenangkan perasaan'mu, andai saja kau tahu apa yang sebenarnya terjadi, hingga membuatku mengembalikan semua itu kembali padamu, apakah mungkin kau masih bisa bersikap sombong seperti itu kepada'ku, wahai Leonardo,'' Alex berbicara dengan rasa penuh percaya diri.


''Apa maksud'mu? kamu tahu aku sangat membencimu sekarang, jangan sampai aku bertemu dengan'mu bajingan.''


''Sudahlah, jangan terlalu membenciku seperti itu, Leo. Aku sudah bilang, mulai sekarang aku akan melupakan dendam di antara kita, karena kamu sudah mendapatkan balasan yang setimpal, bahkan hatimu akan merasa tersiksa apabila kamu mengetahui apa yang telah aku lakukan.''


''Apa maksudmu?''


''Akh, rasanya tidak enak jika membicarakan'nya di telpon, nanti, suatu saat nanti, aku akan memberitahumu secara langsung, jika rasa benci'mu sudah sedikit berkurang terhadapku, jujur saja, saat ini aku terlalu takut untuk bertemu dengan diri'mu.''


''Dasar pengecut, cepat jelaskan sekarang juga brengsek...''


Tut...Tut...Tut...


Telpon pun di tutup begitu saja, membuat Leonardo semakin marah sekaligus penasaran, alhasil dia pun melempar ponsel yang di genggamnya, hingga ponsel tersebut hampir saja mengenai Angel yang masuk ke dalam ruangannya.


Prank


Suara ponsel yang di lempar.


''Ya ampun, bos. Kamu kenapa? jika ingin membuang ponsel, berikan saja padaku, aku akan senang hati menerima ponsel mahal'mu ini,'' Angel meraih ponsel yang tergeletak di atas lantai.


''Kamu...? kebiasaan banget sih, kalau masuk ketuk pintu dulu, bikin kesal saja.''


''Sudah...! tadi aku sudah mengetuk, kamu nya saja yang terlalu pokus menelpon.''


''Ada apa kemari?''


''Ini, bos. Masih ada satu berkas lagi yang harus di periksa dan di tanda tangani,'' Angel berjalan menghampiri dan meletakan kertas di atas meja.


''Baiklah... silahkan keluar kembali,'' Leo meraih kertas tersebut dan memeriksanya.


''Hmmm... bos. Bolehkan aku bertanya?''

__ADS_1


''Apa...?'' jawab Leo tanpa menoleh.


''Hmmm... yang tadi telpon itu bang Alex ya?''


Leo menghentikan gerakan tangannya lalu menoleh menatap Angelina.


''Iya, memangnya kenapa?'' Leo menatap wajah Angel dengan tatapan tajam.


''Eu... tidak ko, aku hanya bertanya saja,'' Angel membalikan badan dan hendak keluar dari dalam ruangan.


''Tunggu...''


Leo menghentikan.


''Ada apa, bos?''


Angel kembali memutar badan.


''Apa kamu tahu Alex pergi kemana?''


''Eu, tidak bos. Waktu dia berpamitan pun dia tidak mengatakan akan pergi kemana, dia hanya bilang bahwa dia akan pergi ke luar negeri dan menetap di sana, itu saja.''


''Baiklah, kau boleh pergi sekarang.''


''Permisi, bos.''


Angel pun kembali memutar badan, dan meneruskan langkahnya keluar dari dalam ruangan.


Angel membuka pintu dan kembali menutupnya dari luar, dia pun berjalan lalu duduk di kursi tempat biasa dia bekerja.


'Apa yang terjadi? kenapa bos sepertinya sedang bermusuhan dengan bang Alex, dendam? apakah bang Alex masih menyimpan dendam atas kematian adiknya, jika bos saja yang merupakan seorang bos mafia berani di lawan oleh bang Alex, gimana dengan aku? apa yang akan terjadi denganku kalau sampai dia tahu aku ada kaitannya dengan kematian Jimmy'


Angel bergumam dalam hatinya seraya mengigit ujung kuku jempol'nya, merasa cemas.


Lalu dia menyandarkan kepalanya di atas meja, dengan perasaan cemas yang menyelimuti seluruh hatinya. Sejenak pikirannya melayang entah kemana, sampai akhirnya Ryan datang dan mengejutkan dirinya.


''Angel...''


''Maafkan aku bang aku sungguh...'' Angel berdiri seketika dan tanpa sadar mengucapkan hal itu dengan nada cepat.


''Angel...! kamu kenapa?'' Ryan mengerutkan keningnya.


''Eu... tidak... barusan aku bermimpi buruk,'' Angel salah tingkah.


''Oh, begitu...?'' jawab Ryan.


''Eu... aku lapar, pekerjaanku banyak sekali, sehingga aku tidak sempat makan sama sekali,'' Angel dengan nada suara manja.

__ADS_1


''Boleh, kebetulan aku juga belum makan, kita makan di Restoran biasa, ya.'' jawab Ryan, merasa senang.


Mereka pun berjalan secara beriringan, dengan senyum yang mengembang dari bibir Ryan, sementara Angel, hatinya diliputi kegelisahan yang teramat mendalam.


Di dalam Restoran.


''Kamu mau makan apa?'' tanya Ryan menatap wajah Angel.


Yang di tanya hanya diam saja, matanya seolah melihat ke depan, namun sebenarnya tatapannya terlihat kosong.


''Angel...'' Ryan mengulurkan tangannya, meraih lengan Angel dan menggenggam'nya.


''Heuh... apa? maaf aku sedikit melamun, tadi,'' Angel menoleh ke arah Ryan.


''Kamu mau makan apa? bukannya tadi kamu bilang, kamu lapar?'' tanya Ryan dengan raut wajah yang terlihat heran.


''Biasa, aku pesan nasi goreng spesial, pedas...'' jawab Angel.


''Baiklah...!''


Ryan pun segera memanggil pelayan dan memesan dua porsi nasi goreng.


Setelah itu, dia kembali mantap wajah Angel, yang terlihat tidak seceria seperti biasanya.


''Kamu kenapa, Angel? sepertinya ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan?'' tanya Rian dengan perasaan heran.


''Tidak ko, aku tidak apa-apa, sungguh...''


''Bohong, aku sudah mengenal'mu lebih dari lima tahun, dan aku tahu betul seperti apa sifat mu,'' jawab Ryan penuh percaya diri.


''Diih... so tahu banget si? apa yang kamu tahu tentang aku?''


''Banyak...! aku tahu semua tenang mu, makanan kesukaan'mu, pakaian jenis apa yang kamu gemari, warna kesukaan'mu bahkan merk make up yang biasa kamu kenakan juga aku tahu,'' Ryan tersenyum.


Angel tertawa, dirinya merasa jika Ryan sedang mengarang cerita.


''Coba sebutkan satu-persatu yang kamu tahu, aku yakin semua tebakan'mu itu pasti salah.''


Ryan memulai aksinya, dia menyebutkan satu-persatu sesuatu yang dia ketahui tentang wanita yang sudah lama di sukai nya itu, dan yang membuat Angel terkejut adalah, semua yang di katakan oleh Ryan adalah benar.


Angel membulatkan bola matanya merasa terkesima, bagaimana bisa Ryan tahu semua tentang diri'nya, dan bahkan yang tidak di ketahui oleh Leo, pria yang sempat mengisi hatinya dua tahun lamanya.


''Angel...! aku harap ini belum terlambat, tapi sungguh... aku tidak bisa menahan lagi rasa yang selama ini bergejolak memenuhi relung hatiku,'' Ryan menatap wajah Angel dengan tatapan serius dan pancaran penuh rasa cinta.


''Apa maksudmu?'' Angel merasa gugup.


''Maukah kamu jadi pacar'ku? tidak-tidak... kita sudah tidak lagi berada di usia untuk berpacaran seperti anak muda. Aku ulangi lagi, Angelia... mau kah kau menjadi calon istriku?'' Ryan penuh percaya diri.

__ADS_1


___________----------____________


Jangan lupa tinggalkan jejak y Reader ❤️❤️💓


__ADS_2