
Setelah selesai membersihkan diri, Leo pun segera keluar dari dalam kamar, dengan hanya menggunakan handuk kimono berwarna putih dia berjalan pelan menuju tempat tidur merasa tidak sabar untuk segera memeluk sang istri, namun, ternyata istrinya itu kini terlihat sudah tertidur lelap, membuat Leo sedikit kecewa.
Tidak ingin mengganggu tidur sang istri, dia pun tidak memaksakan keinginannya, dia hanya naik ke atas tempat tidur tanpa melakukan apapun, dia hanya meringkuk di belakang sang istri dengan melingkarkan tangannya di perut ramping istrinya tersebut, serta menyandarkan kepalanya di punggung Adelia.
Tanpa di sangka, ternyata, istrinya itu masih terjaga, dia membalikkan tubuhnya seketika, membuat Leo terkejut sekaligus tersenyum senang.
''Kamu belum tidur, sayang?'' tanya Leo dengan menarik kedua sisi ujung bibirnya, begitu lebar membuat wajah tampannya terlihat semakin tampan sempurna.
''Bagaimana aku bisa tidur? di saat suaminya merengek seperti anak kecil yang sedang meminta es krim dengan begitu manjanya?'' jawab Adelia tersenyum, menatap wajah sang suami.
''I Love You, honey ..."
''Sudah lama sekali aku gak mendengar kata itu dari'mu, aku sungguh merindukan suaramu saat mengucapkan kata itu.''
''Benarkah, oke ... Mulai saat ini, aku akan mengatakan ucapan itu setiap hari, meskipun kita sudah tua, tapi aku ingin, cinta kita selalu membara layaknya anak remaja.''
Adelia tersenyum, mendengar dan menatap wajah sang suami sedikit mengobati rasa gundah yang tadi sempat menyelimuti relung hatinya, dia pun mengecup pelan bibir Leo.
''I Love You ... I Love You ... I Love You ... I Love You ..."
Leo terus mengucapkan kata itu secara berkali-kali, hingga Adelia pun tersenyum geli, melihat kelakuan suaminya yang terlihat seperti seorang remaja yang sedang jatuh cinta.
''Sudah hentikan, satu kali saja cukup, aku sudah tau kalau kamu sangat mencintai aku,'' pinta Adel melingkarkan tangannya di perut sang suami, dengan kepala yang di sandarkan di dada bidang nan wangi suaminya itu, aroma sabun pun masih tercium begitu menyengat, hingga dia pun memejamkan mata, menikmati aroma tubuh Leo.
__ADS_1
Leo pun tidak menghentikan bibirnya dalam mengucapkan kata tersebut, hingga akhirnya Adelia mengangkat kepalanya, menatap dengan tatapan tajam lalu membungkam bibir suaminya itu dengan bibir dirinya, membenamkan nya dengan begitu dalam, hingga yang terdengar hanya suara gumaman yang perlahan menghilang digantikan dengan suara lum*tan diiringi dengan napas yang sedikit saling berkejaran.
Terbuai, Leo pun melepaskan lingkaran tangannya, sebagai gantinya, kini tangannya naik menjelajahi gunungan kembar yang masih berbalut penghalang tebal yang membuatnya membentuk bundaran sempurna, mere*asnya perlahan dengan bibir yang masih saling ditautkan.
Keduanya pun semakin merasakan ga*irah yang perlahan naik kepermukaan, Adelia kini semakin membenamkan bibirnya dalam-dalam, mengobrak-abrik rahang suaminya, hingga sang suami mulai memejamkan matanya, dan tentu saja melakukan hal sama, membalas setiap lu*atan yang dilayangkan oleh istrinya tersebut.
Dengan napas yang saling berburu, Leo pun mulai menanggalkan satu-persatu helaian benang yang melingkar di raga sang istri, melemparnya sembarang, hingga tidak ada lagi yang tersisa kini.
Begitupun dengan kimono yang dia kenakan, yang langsung terlempar dengan hanya sekali tarikan.
Pendakian panjang pun dimulai, sepasang suami-istri itu pun mulai bergoyang secara bergantian, dengan hentakan berirama, melupakan sejenak masalah besar yang sedang mereka hadapi.
Adelia pun terlihat aktif, perlahan bergantian menjadi pemain utama yang mengendalikan permainan, dengan begitu lihainya, dia menggoyangkan pinggul*ya bak seorang penari yang sedang menari mengikuti irama suara des*han yang keluar dari bibir keduanya.
Sampai akhirnya, raganya bergetar hebat, saat puncak itu mulai dia dapatkan terlebih dahulu diiringi suara lenguhan yang keluar lirih dari bibir mungil Adelia.
Dia pun mulai memburu, memburu rasa itu, rasa yang membuatnya melayang bagai berada di surga dunia, menghujamkan senjata tajam miliknya, begitu dalam, hingga mencapai titik inti di dalam raga sang istri, sampai akhirnya, puncak itupun dia dapatkan, beriringan dengan larva kental yang menyembur dengan begitu derasnya bagai bisa ular, masuk kebagian inti istrinya diiringi suara lenguhan sebagai tanda bahwa, dia puas dengan apa yang dia dapatkan.
Kini, keduanya pun terkulai lemas, dengan napas yang berhembus tidak beraturan, Leo berbaring di samping raga polos sang istri, lalu mengecup kening Adelia dengan mata yang di pejamkan.
''l Love You, honey ..."
"I Love You To, suamiku ..."
__ADS_1
Keduanya pun melayangkan kecupan di bibir masing-masing sebagai penutup rangkaian pendakian yang baru saja mereka lakukan. Sampai akhirnya, keduanya pun mulai memejamkan mata, dan tertidur lelap seketika itu juga.
🌹🌹
Di Rumah Sakit. Di hari yang sama dan di jam yang sama.
Axela, nampak masih terjaga, dia berbaring di atas ranjang, mencoba untuk tertidur, namun, matanya seolah menolak terlelap, mencoba untuk menenangkan pikirannya, namun otak kecilnya itu seolah terus saja melayang.
Dia pun menatap satu-persatu saudaranya yang kini telah tertidur begitu lelapnya, meringkuk di kursi empuk berwarna hitam, dengan pasangan masing-masing.
'Adikku, terima kasih karena telah berada di sisi kakakmu yang tidak berguna ini, menemani dan memberi Kaka dukungan, meskipun kamu tidak tahu apa yang sedang menimpa kakakmu ini' ( Batin Mika, menatap wajah Lucky sang.? adik )
Kini pandangannya terarah kepada saudara kembarnya, dia menatap dengan begitu lekat, dengan mata yang terlihat berkaca-kaca kini.
'Axel, kamu sungguh saudara yang sangat baik, aku bersyukur memiliki kembaran seperti kamu, sedikitpun, kamu tidak pernah meninggalkan aku, selalu senantiasa menemani hari-hariku yang terasa berat setiap harinya, andai saja tidak ada kamu, mungkin aku sudah mengakhiri hidupku, terima kasih, Abang. Aku sungguh menyayangi kalian kalian berdua,' ( Lirih Al dengan buliran air mata yang perlahan berjatuhan)
Perlahan dia pun turun dari atas tempat tidur, menarik jarum infus hingga terlepas, dan darah segar pun sedikit keluar membuat wajah Al pun sedikit meringis kesakitan seraya menutup pergelangan tangannya dengan telapak tangan yang lainnya.
Kini, dia sudah berdiri tegak, mulai melangkahkan kakinya perlahan keluar dari dalam kamar, sebelum dia membuka pintu, dia pun menoleh terlebih dahulu ke arah saudaranya, menatapnya secara bergantian dengan tatapan sayu dan penuh penyesalan.
Ceklek ...
Pintu pun di buka, dengan sangat pelan hingga tidak mengeluarkan suara sedikitpun, setelah puas menatap kedua saudaranya, dia pun perlahan keluar dari dalam kamar, lalu menutup pintu kembali dengan sangat hati-hati, sampai pintu pun benar-benar tertutup rapat.
__ADS_1
____________---------------____________
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Readers, terima kasih ❤️❤️❤️