
Setelah menunggu dengan perasaan tidak sabar dan juga cemas, akhirnya Ayu keluar dari dalam kamar mandi, berjalan pelan dengan di papah oleh sang ibu, Adelia.
Wajah Ayu masih tetap sama, wajahnya yang semakin terus terlihat begitu pucat dengan mata memerah dan tubuh yang menggigil kedinginan.
Lucky segera menghampiri, berdiri di sisi kanan memapah tubuh Ayu yang terlihat lemas dan juga terasa dingin.
''Sebaiknya kamu istirahat, Yu. Berbaringlah dan pakai selimut yang tebal agar tubuh kamu terasa hangat,'' pinta Adelia.
''Tidak, Tante. Aku ingin berjemur di luar, seharian di kamar membuat pikiran aku melayang, yang ada aku hanya bisa melamun sendiri,'' jawab Ayu, menoleh, menatap sayu wajah Adelia.
''Baiklah kalau begitu, biar Lucky menemani kamu berjemur.''
Ayu mengangguk lemah.
''Mom, aku akan membawa Ayu ke atap. Apa boleh?'' tanya Lucky.
''Iya boleh, sayang. Tapi tubuh Ayu lemas, apa kuat kamu berjalan ke atap, Ayu?''
''Gak apa-apa, Tan. Aku kuat ko.''
''Ya sudah kalau begitu, Tante keluar dulu ya. Ayu, sayang. Kalau kamu membutuhkan sesuatu jangan sungkan panggil Tante ya.''
''Baik, Tan. Terima kasih ...''
🍀🍀
Di atap.
Ayu menatap takjub pemandangan yang berada di bawah sana, halaman luas membentang hijau begitu sejuk di pandang, semilir angin yang menyapu rambut Ayu ditambah sinar matahari yang terasa hangat benar-benar membuat hati Ayu terasa tenang.
Dia berdiri di depan pagar tembok yang tinggi sedada, menatap ke arah bawah dengan tersenyum senang, membuat Lucky merasa bahagia seketika menatap wajah kekasihnya itu tanpa berkedip sedikitpun.
''Apa kamu senang?'' tanya Lucky tersenyum menatap wajah Ayu.
''Iya, aku senang sekali, aku gak tau kalau pemandangan dari atas sini terlihat begitu indah. Halaman rumah kamu luas sekali, benar-benar menakjubkan,'' jawab Ayu tersenyum sumringah.
__ADS_1
''Syukurlah, aku senang sekali mendengarnya, melihat kamu seperti tadi benar-benar membuat aku merasa khawatir, Yu.''
''Maaf, karena telah membuat kamu khawatir, sayang,'' lirih Ayu menoleh menatap wajah Lucky.
''Iya, sayang. Gak usah di pikirkan, sekarang coba ikuti aku, kamu lihat wajah aku.''
Ayu mengikuti keinginan kekasihnya, mereka kini berdiri saling berhadapan. Lucky menggenggam kedua tangan Ayu, mendekap erat jemari kekasihnya itu, dan menatap lembut wajah Ayu dengan tatapan penuh kasih sayang.
''Ikuti instruksi aku, ikuti ucapan aku. Pejamkan mata kamu, dan jangan lepaskan genggaman tangan aku, mengerti ...''
Ayu mengangguk pelan.
''Sekarang kamu pejamkan mata, lalu ikuti setiap perkataan aku.''
Ayu kembali menganggukkan kepalanya, lalu mulai memejamkan mata.
''Aku, Ayu Puspita. Pasti sembuh, aku akan sehat kembali seperti sedia kala, dan rasa haus dalam tubuh aku, aku akan melawannya sekuat tenaga.''
Ucap Lucky lantang, dan langsung diikuti oleh Ayu seketika itu juga.
Ayu berteriak, sekuat tenaga, mengulangi ucapan Lucky, masih dengan memejamkan mata dan tangan yang ditautkan kuat dengan tangan kekasihnya.
Berulang kali Ayu mengulangi kalimat itu, semakin lama suara Ayu semakin terdengar kuat dan bertenaga sampai akhirnya hatinya merasa lega, dan dia pun tertawa seketika.
Tertawa lepas, sampai matanya terasa berair, entah karena merasa senang atau memang hatinya merasa pilu, hanya dia sendiri yang tahu.
''Sekarang buka mata kamu, sayang.''
Pinta Lucky, dan langsung diikuti oleh Ayu, dia menatap wajah kekasihnya dan terkejut karena kekasihnya itu dalam keadaan berjongkok dengan membawa kotak cincin di tangannya.
Sontak saja, mata Ayu kini terlihat berbinar, senyuman pun mengembang begitu lembar dari kedua sisi bibir mungilnya, bahkan air mata Ayu pun kini benar-benar bergulir begitu saja, dan kali ini, air mata yang keluar dari pelupuknya itu benar-benar air mata bahagia.
''A-apa ini sa-yang ...?'' tanya Ayu terbata-bata.
''Ini cincin pengikat dan penguat, aku sudah masukan mantra ke dalam cincin ini, nanti di saat kamu merasakan perasaan seperti tadi, kamu hanya perlu mencium cincin ini dan sebut nama aku tiga kali, aku yakin perasaan kamu akan langsung tenang,'' jawab Lucky sedikit menggombal.
__ADS_1
Ayu semakin tersenyum senang, hatinya kini benar-benar merasa bahagia.
''Ayu Puspita, maukah kamu menemani hari-hariku ke depan, selamanya berada di hatiku sampai kita dewasa dan menikah nanti?'' tanya Lucky membuka kotak cincin tersebut.
Dengan guliran air mata yang terus mengalir membasahi wajah tirusnya, Ayu pun menganggukkan kepalanya.
Lucky pun mulai melingkarkan cincin putih berhiaskan satu buah permata di tengahnya, menyematkannya di jari manis kekasihnya itu, lalu kembali berdiri dan memeluk tubuh Ayu, mendekapnya erat dengan perasaan senang dan juga bahagia.
''Makasih, sayang. Aku senang sekali, aku benar-benar bahagia dan merasa beruntung karena memiliki kekasih seperti kamu, aku harap kamu akan selalu seperti ini, tidak akan pernah berubah sedikitpun di masa depan, karena hanya kamu sumber kekuatan dan sumber kebahagiaan aku saat ini, besok dan juga nanti. Aku sungguh mencintaimu, Lucky Pratama,'' lirih Ayu melingkarkan tangannya di pinggang kekasihnya itu.
''Aku janji gak akan pernah berubah, karena aku pun sangat mencintai kamu, Ayu Puspita,'' jawab Lucky mencium tengkuk Ayu lembut.
Mereka pun mulai mengurai pelukan, saling menatap satu sama lain dan saling melemparkan senyuman, dan terakhir satu ciu*an pun mendarat di bibir masing-masing, cium*n panas yang menjadi penutup kejutan yang di berikan oleh Lucky.
🍀🍀
Revan nampak sedang duduk di kamar putrinya, menatap bingkai Poto yang terdapat gambar sang putri di dalamnya. Hati Revan kini dipenuhi kerinduan yang mendalam terhadap putrinya tersebut, rasa rindu yang benar-benar terasa menyiksa sebenarnya.
''Ayah rindu sekali sama kamu, Ayu.''
Lirih Revan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Dia pun mengusap lembut wajah sang putri yang sedang berpose tersenyum di dalam Poto, senyumannya terlihat mengembang sempurna membuat Revan tidak tahan lagi untuk tidak mengecup potret tersebut.
Sejujurnya, Revan benar-benar merasa bersalah, penyesalan di dalam hatinya teras begitu sakit menggerogotinya relung jiwanya, kehidupannya kini pun terasa begitu hampa.
Sang putri sudah benar-benar melupakan dirinya, dan istrinya pun telah meminta dia untuk segera menceraikan dirinya. Hidupnya sangat merasa kesepian kini, tanpa sang istri dan juga putrinya yang kini telah meninggalkannya sendirian.
Rumah besar ini terasa begitu hampa, sepi dan hening, se'hampa hatinya, se'sepi jiwanya dan se'hening perasaannya.
Apakah ini adalah balasan atas semua perbuatan yang telah dia lakukan kepada anak dan juga Istrinya itu?
'*Tentu saja, ini memang pantas aku dapatkan dari kalian, karena aku telah menyakiti dan mengabaikan kalian, dulu ...' (Batin Revan)
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀*
__ADS_1