
''Aku juga mencintai'mu, istriku sayang, terima kasih karena telah mau menerima aku apa adanya, dan tetap setia menemani aku, meski aku belum menjadi suami yang sempurna,'' ucap Leo sesaat setelah dia melepaskan kecupannya.
Ternyata semua orang berkumpul di sana, termasuk para penjaga yang biasa berjaga di luar, semuanya bertepuk tangan melihat keromantisan sepasang suami istri yang pasti akan membuat iri siapa pun yang melihatnya.
''Selamat ulang tahun ya menantu ibu yang paling tampan dan baik hati, doa terbaik untuk'mu dan keluarga kecilmu, semoga kalian selalu bahagia sampai sama-sama tua,'' ibu menghampiri dan memeluk tubuh Leonardo seraya mengelus punggung'nya dengan penuh kasih sayang.
''Terima kasih, Bu.''
''Sekarang, tinggal di potong saja kue nya, kasian sudah capek-capek bikin, masa tidak di makan?''
''Memangnya kue ini ibu yang bikin?'' Leo melepaskan pelukannya.
Ibu menggelengkan kepalanya, tangan'nya menunjuk Adelia.
''Kue ini kamu yang bikin, sayang?''
Adel mengangguk.
''Terima kasih ya sayang, di saat perut'mu sudah semakin membesar, kamu masih menyempatkan waktu untuk membuat kue seperti ini, rasanya pasti enak, kan?'' Leo berjalan ke depan meja dimana kue itu berada.
Kemudian dia pun memotong kue tersebut dan memberikan suapan pertama kepada istrinya, dan dengan senyum yang mengembang dari kedua sisi bibirnya, Adelia pun menerima suapan yang di berikan oleh suaminya dengan perasaan bahagia.
Di saat mereka sedang bersuka cita merayakan hari ulang tahun Leonardo di dalam kamarnya yang berada di lantai dua, tiba-tiba saja Ryan yang tadi berada di luar rumah masuk ke dalam kamar dengan membawa sebuah kado berukuran besar yang di bungkus dengan kertas berwarna coklat.
''Bos, tadi ada yang mengantarkan ini,'' Ryan masuk dan menyerahkan kado tersebut.
''Siapa yang mengantarkan kado sebesar ini?'' Adelia menerima kado tersebut dan menggoyangkan isinya.
''Isinya apa ya? kenapa sepertinya ringan sekali?'' tanya Leo.
''Aku buka, ya?'' ucap Adelia
Dia pun merobek kertas berwarna coklat tersebut, dan membuka kardusnya. Dan apa yang terjadi kemudian...
__ADS_1
''Haa...'' Adel berteriak kencang.
Dia pun melempar kardus tersebut, yang ternyata isinya adalah sebuah boneka bayi yang sudah di lumuri cairan berwarna merah, mirip seperti darah sungguhan, bahkan boneka bayinya pun terlihat seperti bayi sungguhan.
Adel yang sedang dalam keadaan mengandung pun ketakutan seketika, dia menangis karena merasa terkejut dengan apa yang baru saja di lihatnya.
Leo segera meraih kardus tersebut dan segera melihat isinya, dia merasa geram karena seperti'nya hadiah itu sengaja di kirimkan untuk membuat istrinya yang sedang dalam kondisi mengandung ketakutan.
Di dalam kardus tersebut terdapat secarik kertas yang merupakan pesan dari orang yang telah mengirimkan hadiah tersebut.
''Kado spesial untuk mu sahabatku Leonardo, semoga kamu panjang umur dan sehat selalu sampai bayi yang di kandung oleh istri tercinta'mu lahir ke dunia... by. Sahabat sejati mu..."
Begitulah isi pesan tersebut, dengan hanya membacanya sekilas, dia sudah dapat memastikan bahwa yang mengirimkan hadiah itu adalah 'Alex'. Leo meremas kertas tersebut memasukannya kembali ke dalam kardus.
''Brengsek... siapa yang telah mengirimkan sesuatu yang mengerikan seperti ini?'' Leo kembali melempar kado tersebut dengan perasaan yang sangat kesal.
''Cepat singkirkan itu, buang jauh-jauh,'' Adel berteriak dan menangis ketakutan seraya mengusap perutnya yang sudah semakin membesar.
Ryan segera meraih dan berlari keluar dari dalam kamar untuk membuangnya.
''Tega sekali orang yang mengirimkan hal itu kepada aku yang jelas-jelas sedang mengandung, hiks hiks hiks...''
''Aku akan mencari siapa orangnya, kamu tenang dulu ya,'' jawab Leo.
''Kalian semua, cepat susuri daerah sekitar sini, cari sekarang juga, orang brengsek yang telah berani mengganggu kebahagiaan yang sedang aku rasakan sekarang,'' pinta Leo kepada semua anak buahnya.
''Baik, bos.''
Semua anak buahnya yang berada di sana segera berlari keluar dari dalam kamar untuk mematuhi perintah bos mereka.
Leo dan ibu memeluk Adelia secara bersamaan untuk menenangkan hati dan perasaan'nya.
''Sekarang kamu tidur sama ibu dulu ya, aku harus mencari siapa dalang dari semua ini,'' pintu Leo melepaskan pelukannya.
__ADS_1
''Apa tidak sebaiknya kita lapor polisi saja?'' ucap ibu menatap wajah Leo.
''Aku juga sedang memikirkan hal itu, Bu. Akan aku coba untuk mencari'nya sendiri dulu, kalau usaha ku tidak membuahkan hasil, baru aku akan meminta bantuan polisi,'' jawab Leo.
''Baiklah, jika itu yang terbaik menurut'mu, ibu akan mendukung apapun keputusanmu,'' jawab ibu.
Leo pun berjalan keluar dari dalam kamar, setelah sebelumnya mengecup kening istrinya terlebih dahulu.
***
Leo mengumpulkan semua anak buahnya di markas yang dia biasa gunakan, sudah lebih dari tiga bulan markas itu tidak di kunjungi'nya, dan malam ini dia sengaja mengumpulkan anak buahnya di sana, untuk membicarakan teror yang baru saja dia dapatkan.
Leo pun berdiri di depan dengan anak buahnya berjejeran menghadap dirinya. Leo meraih ponsel dan menelpon seseorang.
Tut
Tut
Tut
Suara telpon yang belum di angkat.
''Halo... Dimana kamu brengsek?'' tanya Leo sesaat setelah orang tersebut mengangkat telpon.
Entah apa yang di bicarakan oleh orang yang sedang di telpon oleh Leo tersebut, sehingga membuat wajah Leonardo memerah seketika menahan amarah, serta tangan yang terlihat di kepalkan menahan rasa geram.
''Tunggu aku di sana, bajingan, aku akan menghabisi'mu sekarang juga,'' Leo menutup telpon.
''Kalian semua siap-siap, bawa senjata apapun yang kalian punya, kita akan pergi ke suatu tempat,'' ucap Leo dengan wajah yang terlihat geram dan tangan yang kepalkan, menahan rasa kesal.
__________---------___________
Kali ini Author akan merekomendasikan novel yang bagus untuk kalian, sekalian nunggu Author up episode selanjutnya, silahkan mampir dulu novel di bawah ini ya. Terima kasih.
__ADS_1
******