
Axela menyipitkan matanya, menatap dengan seksama sosok pria yang terekam kamera CCTV, dia pun menekan tombol pause lalu memperbesar gambar, menatap setiap detail lekuk tubuh dari mulai pakaian serta postur badan pria tersebut.
Dia pun membelalakkan bola mata bundarnya, menutup mulut dengan telapak tangannya, merasa terkejut dan tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
'Gabriel ...' ( Lirih Al pelan )
Dia pun menyalin dan mengirimkan fail tersebut kedalam ponsel canggihnya, ingin lebih memastikan bahwa yang dia lihat itu adalah salah. Setelah fail itu ter'salin, Al pun segera keluar dari dalam Pos dan berlari ke kamarnya.
Di dalam kamar.
Al segera menyalakan ponselnya, kembali melihat fail yang tadi dia kirim ke ponselnya tersebut.
''Akh ...! gak mungkin dia pacar aku, untuk apa dia datang kemari? melukai Papi juga,'' Al berbicara sendiri.
Namun, apa yang dia lihat sekarang bertentangan dengan apa yang baru saja dia ucapkan, pria yang sedang dilihat di ponselnya itu benar-benar mirip dengan Gabriel, meski wajahnya tidak terlihat jelas namun, postur tubuh dan jaket serta topi yang dia kenakan sangat mirip dengan milik Gabriel.
Dia tahu persis, karena dia sering melihat kekasihnya itu memakai jaket yang sama persis dengan tersangka utama penembakan. Sejenak, Al pun termenung, seraya menatap layar ponsel, mencoba untuk berfikir jernih.
''Gak, gak mun mungkin itu dia? gak mungkin ...!'' Al berteriak lalu membanting ponselnya ke atas ranjang, merasakan kekecewaan yang teramat dalam.
Dia pun membanting'kan tubuhnya ke atas ranjang dengan sedikit kasar, berbaring dengan menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut dan menangis sesenggukan di dalamnya.
''Kenapa kamu melakukan ini, Briel? Kenapa ...? jika kamu benar-benar orang itu, aku tidak akan pernah memaafkan kamu, hiks hiks hiks ...!'' Al kembali berbicara sendiri.
Kemudian ...
Huek
Huek
Huek
Mulutnya kembali terasa mual, dan dia pun segera berlari ke dalam kamar mandi, dan berjongkok di depan toilet.
Huek
Huek
Huek
__ADS_1
Al memuntahkan makanan yang tadi sempat dimakannya, memuntahkan semuanya hingga perutnya terasa kosong, dan kepalanya terasa sangat pusing.
Trok
Trok
Trok
''Al, kamu sedang apa? kamu baik-baik saja kan, sayang?'' terdengar suara sang ibu mengetuk dan memanggil.
Al pun panik, dia segera mengusap mulutnya dan cuci muka agar wajahnya terlihat lebih segar.
Trok
Trok
Trok
Pintu pun kembali di ketuk.
''Iya, Mom. Aku tidak apa-apa, ko. Aku hanya sedikit tidak enak badan,'' jawab Al sedikit berteriak dari dalam kamar mandi.
Dia pun membuka pintu, dan berjalan keluar.
''Sayang, kamu baik-baik saja, kan? wajah kamu pucat sekali?''
''Aku gak apa-apa ko, Mom. Beneran ...!" Al berjalan ke arah tempat tidur lalu berbaring, menutup tubuhnya dengan selimut tebal.
"Serius ...? Apa perlu Mommy panggilkan Dokter?"
"Gak usah, Mom. Aku hanya butuh istirahat sebentar ko, nanti juga baikan sendiri." Al sedikit memejamkan mata, menahan rasa pusing di kepalanya.
"Tapi, sayang ...? Mommy khawatir melihat keadaan kamu seperti ini?"
"Gak apa-apa, Mom. Aku lelah sekali, aku ingin istirahat ...!''
''Baiklah, kamu istirahat ya sayang, kalau kamu butuh sesuatu, kamu tinggal telpon Mommy aja, oke ...?'' Adelia sang ibu, mengusap rambut lalu mengecup kening putri kesayangannya.
Al mengangguk seraya tersenyum.
__ADS_1
Setelah itu, Adelia pun berjalan keluar dari dalam kamar putrinya, dia membuka pintu dan hendak melangkah.
''Mom ...!'' Al memanggil.
''Ada apa sayang?''
''I Love You, Mom ...!'' lirih Al, sedikit berkaca-kaca.
''I Love You To, sayang ...'' jawab sang ibu, tersenyum lalu keluar dari dalam kamar.
Sepeninggal sang ibu, Al pun kembali meringkuk di atas tempat tidur, seraya menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut hingga kepalanya pun ia tenggelamkan di dalamnya, diam-diam menangis dengan tanpa mengeluarkan suara.
Sungguh ...! hati Al bagai terasa tersayat pisau yang begitu tajam, sakit, perih, itulah yang dia rasakan, kebahagiaan yang baru saja dia rasakan beberapa hari yang lalu bagai tenggelam di telan kenyataan, kenyataan yg yang begitu pahit, hingga membuat dadanya terasa sesak dan sulit bernafas.
Apalagi sekarang di harus menerima kenyataan, bahwa, saat ini dirinya sedang dalam keadaan hamil, mengandung darah daging dari pria yang sangat di cintainya sekaligus di bencinya saat ini.
Tidak lama kemudian ponselnya pun berdering, Al pun mengeluarkan satu tangannya dari dalam selimut, lalu meraih ponsel yang tergeletak begitu saja di atas tempat tidur. Dia menatap layar ponsel, ternyata pria yang saat ini sedang memenuhi otaknya, kini sedang menelpon dirinya.
Masih merasa kesal, dia pun mengabaikan panggilan telepon, dan kembali meletakkan ponsel miliknya tersebut.
''Kamu jahat, apa sebenarnya yang kamu inginkan? kamu menerobos masuk kedalam rumahku, bahkan menodongkan pistol tepat ke arah wajahku, kamu bahkan menembak Papi dengan tanpa perasaan, aku sungguh benci padamu, Gabriel ... hiks hiks hiks ...!'' Al kembali berbicara sendiri.
Ponselnya pun kembali berdering, selama berkali-kali, namun Al masih saja mengabaikan panggilan tersebut, hingga akhirnya satu pesan pun masuk kedalam ponsel.
📱Sayang, kamu sedang apa? kenapa telpon aku gak di angkat, aku sungguh merindukan'mu, aku ingin mendengar suaramu, Al.'
Begitu lah isi pesan tersebut, dia membaca pesan namun tidak membalas nya. Hingga 10 menit kemudian satu pesan pun kembali masuk kedalam ponselnya.
📱Apa yang terjadi? kenapa kamu tidak membalas pesan aku?
📱Sayang
📱 Sayang
📱 Balas pesan aku, Al. Kamu kenapa? apa kamu marah sama aku? tapi salah aku apa, Al. Please jangan buat aku gelisah seperti ini.
Berkali-kali pesan pun masuk kedalam ponselnya, namun, Al sama sekali tidak membalas pesan itu, dia hanya membacanya saja dengan perasaan kesal sebenarnya, karena semua yang dikatakan oleh kekasihnya itu terdengar palsu sekarang, sampai akhirnya dia pun memutuskan untuk mengirimkan fail rekaman CCTV itu kepada Gabriel.
_______________------------__________________
__ADS_1