
''Kalian, cukup hentikan ...'' terdengar lirih suara Ayu, siuman.
Kedua orangtua Ayu pun menutup mulut seketika, matanya kini menatap wajah Ayu yang terlihat menatap ke arah ayah dan juga sang ibu secara bergantian.
''Sayang, kamu sudah bangun ...'' tanya sang ibu, mengusap rambut putrinya, namun, segara di tepis seketika itu juga oleh Ayu.
''Aku gak ingin ngeliat kalian berdua, aku mau kalian pergi,'' pinta Ayu dengan suara yang di paksakan.
''Tapi, sayang-''
''PERGI ...!'' teriak Ayu dengan napas yang tersengal-sengal, membuat Lucky segera menghampiri dan menenangkan.
''Sebaiknya kalian keluar dulu, sepertinya saat ini Ayu sedang butuh ketenangan,'' ucap Lucky akhirnya memberanikan diri bersuara.
''Siapa kamu ...'' Revan membulatkan bola matanya menatap wajah Lucky.
''Perkenalkan, Om. Saya-''
''Dia pacar aku, dan aku ingin hanya dia yang ada di sini, kalian berdua pergi, sebelum benar-benar melihat aku mati,'' teriak Ayu menyela ucapan Lucky, dengan buliran air mata yang mulai berjatuhan.
''Baik, sayang. Ayah dan ibu akan pergi, tapi nanti kami ke sini lagi, ya ...'' jawab ibu mengusap kening putrinya, namun, di tepis kembali oleh Ayu.
Akhirnya, mau tidak mau, Revan dan istrinya keluar dari dalam kamar, mereka memasang wajah masam, bahkan tidak saling menyapa satu sama lain, membuat Lucky akhirnya mengerti, mengapa Ayu sampai terjerumus ke dalam dunia obat-obatan.
Sepeninggal kedua orang tua Ayu, kini tinggalah mereka berdua berada di sana, Lucky nampak sedikit gugup tidak tahu harus berkata apa.
''Makasih, karena telah menemani aku di sini,'' lirih Ayu, tanpa menoleh, matanya menatap ke arah jendela melayangkan tatapan kosong.
''Sama-sama, Yu.'' Jawab Lucky datar.
Keheningan pun seketika tercipta, keduanya terdiam tanpa satu patah katapun, Lucky, dia sama sekali tidak tahu harus seperti apa untuk menenangkan gadis itu, sementara Ayu, dia sibuk memikirkan kedua orangtuanya yang sepertinya tidak merasa bersalah sedikitpun melihat dirinya seperti ini, mereka hanya bisa saling menyalahkan membuat Ayu semakin merasa kecewa.
Akhirnya, Ayu mencoba untuk bangkit dan duduk, membuat Lucky dengan sigap membantu gadis yang sedang terpuruk itu untuk duduk dan bersandar bantal di belakang punggungnya.
__ADS_1
''Maaf, karena kamu harus menyaksikan kedua orang tua aku bertengkar seperti itu, seharusnya mereka mencoba menahan diri, di depan kamu ...'' lirih Ayu merasa kecewa.
''Gak apa-apa, kamu gak usah merasa nggak enak begitu,'' jawab Lucky, menatap wajah Ayu kini.
''Mereka memang selalu seperti itu, aku benar-benar jengah melihatnya.''
''Apa itu yang menyebabkan kamu nekat menggunakan barang haram dan menjadi pencandu ...?''
Ayu terdiam menunduk, mengingat bibir bawahnya keras.
''Kamu pasti semakin ilfil sama aku, 'kan?''
Lucky terdiam tidak menjawab apapun, karena memang pada dasarnya dari awal dia sama sekali tidak menyukai gadis itu.
''Kamu pantas ko punya perasaan itu sama aku, toh aku memang bukan cewek baik, pecandu pula, aku sudah terbiasa di abaikan bahkan oleh kedua orangtuaku sendiri,'' ucap Ayu dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.
''Bukan seperti itu maksud aku. Butuh waktu untuk benar-benar menyukaimu, dan aku akan mencobanya mulai sekarang,'' jawab Lucky, akhirnya. Entah apa dia terpaksa mengatakan itu, atau memang benar-benar keluar dari dalam hatinya yang paling dalam, hanya dia sendiri yang tahu.
''Benarkah ...?'' tanya Ayu mengangkat kepalanya.
''Makasih, Luck. Akhirnya kamu mau mencoba membuka hati kamu untuk aku.''
''Tapi kamu harus janji, kamu gak akan mengunakan atau menyentuh batang haram itu lagi, kalau sampai kamu ketahuan memakai obat-obatan atau apapun yang sejenis itu, aku akan meninggalkan kamu seketika itu juga, mengerti ...?''
Ayu mengangguk, bibirnya pun nampak mengembang sempurna tersenyum senang.
''Aku akan membantu kamu agar kamu bisa lepas dan sembuh, asal kamu punya keinginan yang kuat untuk itu.''
''Baik, Luck. Aku janji ini terakhir kali aku menggunakannya, sebenarnya, aku berharap bahwa aku tidak akan selamat tadi, tapi untung saja kamu datang tepat pada waktunya dan segera membawa aku ke sini, aku sungguh berterima kasih.''
''Maksud kamu, kamu memang sengaja meminum obat itu secara berlebihan untuk mengakhiri hi-dup ka-mu, begitu ...?'' tanya Lucky membulatkan bola matanya, merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
''Iya, kamu betul. Aku sudah benar-benar lelah menjalani hidup seperti ini, setiap hari orang tua aku bertengkar hebat, yang kamu lihat tadi hanyalah sebagian kecil yang biasa mereka lakukan, aku sudah menyaksikan sendiri mereka seperti itu setiap hari, bahkan ayah tidak segan memukul ibu jika mereka sedang berselisih pendapat.''
__ADS_1
''Aku malah berfikir, kenapa mereka tidak bercerai saja, dan menjalani kehidupan masing-masing, kebanyakan anak-anak lain tidak ingin melihat kedua orang tuanya berpisah, tapi aku justru sebaliknya, aku ingin kedua orang tua aku bercerai dan aku tidak ingin ikut dengan siapapun, aku lebih memilih hidup sendiri jika memang harapan aku itu terkabul.''
''Aneh bukan ...? ya ... itulah aku, aku memang gadis aneh, maka wajar jika kamu menolak aku berkali-kali,'' Ayu mengakhiri cerita panjangnya, ditemani lelehan air mata yang berjatuhan membasahi pipinya.
''Maaf, selama ini aku gak tahu kalau ternyata kehidupan kamu serumit ini,'' lirih Lucky meraih telapak tangan dan menggenggam jemari-nya.
Ayu tersenyum getir, dia balas menggenggam erat jemari Lucky seolah sedang mencari tumpuan, dan berharap bahwa pria ini tidak akan pernah melepaskan genggaman tangannya.
Sejenak mereka melayangkan tatapan, menatap wajah satu sama lain namun, tatapan mereka memiliki arti yang berbeda. Lucky menatap dengan tatapan iba, sedangkan Ayu menatap dengan tatapan penuh rasa cinta dengan sejuta harapan, harapan bahwa pria yang saat ini sedang berada di sisinya itu, akan selalu berada di sana dan tidak akan pernah meninggalkan dirinya, sedikitpun, selamanya.
Ayu pun tersenyum senang, kesedihan yang tadi sempat dia dapatkan perlahan hilang, dan perasaan kecewa yang dia rasakan berangsur tenang.
Pandangan mereka pun terhenti seketika, saat terdengar suara ponsel yang berasal dari saku celana jens yang dikenakan oleh Lucky berdering begitu nyaring, membuat mereka terkejut lalu mengalihkan pandangan masing-masing.
Lucky nampak merogoh saku celananya lalu meraih ponsel dan mengangkat telpon.
📞 ''Halo, Mom ...'' Lucky berdiri dan berjalan menuju jendela.
📞 ''Halo, sayang. Kamu dimana? katanya kamu sudah balik lagi ke kota, tapi ko belum nyampe rumah?''
📞 ''Iya, Mom. Aku emang sudah nyampe kota, tapi tiba-tiba aku ada urusan mendesak.''
📞 ''Urusan mendesak apa? jangan berbuat hal yang macam-macam ya, Mommy tau kamu lagi patah hati.''
📞 ''Nggak, Mom. Aku gak akan berbuat yang macam-macam, ko. Salah satu teman aku masuk Rumah Sakit, jadi aku akan nemenin dia di sini selama beberapa hari, boleh ya, Mom ...?''
📞 ''Beneran kamu gak bohong ...?''
📞 ''Bener, Mom. Kalau Mommy gak percaya, Mommy boleh datang ke Rumah Sakit buat jenguk dia.''
📞 ''Ya udah, nanti Mommy ke sana sama Papi kamu, ya ...''
.
__ADS_1
📞 ''Baik, Mom. Babay ...''
_______________--------_______________