Terjerat Cinta Mafia Tampan

Terjerat Cinta Mafia Tampan
Merasakan Rasa Yang Sama


__ADS_3

Gabriel hanya bisa menatap tubuh sang kekasih yang perlahan menjauh dengan di gendong oleh saudara kembarnya, dia berdiri mematung, dengan diiringi tatapan tajam dan raut wajah yang terlihat geram dari ibu kekasihnya, ingin mengikuti sang kekasih keluar, namun, tatapan mata yang di layangkan oleh Adelia membuat kakinya terasa berat untuk di langkahkan.


Bahkan, ucapan yang tadi di lontarkan oleh Adelia pun sedikit membuat hatinya merasa terhenyak sebenarnya. Kini hati Briel pun di landa rasa pilu, niatnya untuk berubah dan menjalani hidup dengan benar, terhalang tembok besar sekarang, tembok kebencian dari Adelia yang terlihat begitu kokoh menjadi penghalang bagi cintanya untuk Axela.


Briel duduk bersandar tembok di belakangnya, duduk di atas lantai dengan memeluk kedua lututnya dengan wajah yang dibenamkan. Kenapa dia harus menjalani takdir pahit seperti ini? Dia merasa bahagia karena akan segera memiliki putra, namun kebahagiaan itu diiringi dengan duka nestapa.


Terdiam sejenak meratapi nasib buruknya, akhirnya dia pun bangkit dan berdiri, lalu dengan setengah berlari, Briel pun menyusul keluarga Axela ke Rumah Sakit


'Maafkan aku, Al. Kamu seperti ini karena aku, aku memang jahat ...!' ( Batin Briel di sela-sela langkah kakinya)


🌹🌹


Di Rumah Sakit


Leo dan Adelia duduk saling berdampingan, dengan tangan yang saling ditautkan memberi dukungan, keduanya sama-sama merasakan hati yang sangat hancur, mendapati putri kesayangannya kini hamil di luar nikah, di usia yang masih muda pula.


Tangis Adelia pun masih tidak terbendung, dia terus menitikkan air mata meski tanpa mengeluarkan suara, sedangkan Leonardo, dia mencoba berusaha tegar, meski sebenarnya hatinya seakan hendak meledak, dengan jiwa yang terasa hancur.


Sementara itu, Lucky berdiri sedikit menjauh dari kedua orangtuanya, menyandarkan kepalanya di tembok, dengan mata yang terpejam, dengan pikiran yang melayang, memikirkan nasib buruk yang sedang menimpa keluarganya.


Axel, dia duduk di atas lantai, tepat di samping adik bungsunya, menyandarkan tubuhnya di tembok, dengan mata yang menatap lurus ke depan, melayangkan tatapan kosong.


Sungguh hati mereka memliki satu rasa yang sama, rasa sakit, rasa gundah, dan rasa kecewa dengan apa yang baru saja menimpa Axela.


Satu jam menunggu di sana, membuat hati seorang Leo pun dilanda kecemasan, dia takut jika putri kesayangannya itu tidak terselamatkan, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, akhirnya dia pun menyadari bahwa, apa yang dikatakan oleh putra sulungnya itu adalah benar.


Putrinya itu memang salah, namun, tidak seharusnya dia bertindak terlalu keras dan terlalu menghakimi putrinya tersebut, dia pun menyesali apa yang telah dia katakan kepada Axela, perkataan menyakitkan yang tidak selayaknya dia ucapan.

__ADS_1


Leonardo terlihat mengusap wajahnya secara kasar, diiringi dengan buliran air mata yang tanpa terasa kini mulai berjatuhan membasahi rahangnya.


Lalu tiba-tiba saja, mata Leo tertuju pada seseorang yang kini terlihat berjalan mendekat dari arah kejauhan, Leo pun melepaskan genggaman tangan sang istri, berdiri lalu berjalan cepat menghampiri Gabriel.


Dengan tatapan tajam, wajah yang terlihat geram serta tangan yang di kepalkan, dia siap untuk menghantam laki-laki yang menghancurkan masa putri kesayangannya.


Kemudian ...


Buk ...


Leo melayangkan pukulan dan tepat mengenai wajah Gabriel, begitu kerasa hingga menimbulkan suara hantaman yang sangat nyaring, dan Gabriel pun tersungkur ke atas lantai dengan darah segar yang keluar dari mulut dan juga hidungnya.


''Brengsek kamu, berani-beraninya kamu menghamili putriku, menghancurkan masa depannya dan membuat hidupnya hancur,'' teriak Leo dengan rahang yang mengeras.


Dia pun meraih kembali tubuh Briel, membawanya berdiri lalu memukul wajah, serta menendang perutnya, secara berkali-kali, hingga Briel pun meringis kesakitan.


Dia pun kini tersungkur di atas lantai, dengan wajah yang penuh dengan darah segar.


Adelia sang istri sangat terkejut dengan apa yang di lakukan oleh suaminya, dia berdiri dan berjalan menghampiri, dengan suara tangis yang terdengar pilu sekarang, begitu pun dengan Axel dan juga Lucky, keduanya menghampiri sang ayah dan memegangi tubuh ayahnya tersebut.


''Cukup, Pap. Ini Rumah Sakit, tahan emosi Papi,'' ucap El memeluk tubuh sang ayah.


''Lepaskan Papi, El. Papi mau bunuh dia sekarang juga, apa dia tidak tahu Papi ini siapa, hah ...?'' teriak Leo, dengan mata memerah, menahan rasa amarah.


''Cukup, sayang. Aku mohon, cukup. Kalau dia sampai mati, gimana nasib anak kita? Apa kamu mau dia melahirkan tanpa seorang suami? hiks hiks hiks ...!'' Lirih Adelia memeluk bagian depan tubuh suaminya.


Leo pun terkulai lemas tidak berdaya, melihat sang istri kembali menangis sungguh membuat hatinya terluka, dia pun memeluk tubuh istri yang sangat dicintainya itu, membenamkan wajahnya di pundak sang istri, seraya mengucapkan kata maaf kepadanya.

__ADS_1


''Maafkan aku, sayang ...!'' Lirih Leo mendekap erat tubuh sang istri.


Tidak lama kemudian, Dokter pun keluar dari dalam ruangan, semua yang ada di sana pun segera menghampiri sang Dokter, kecuali Gabriel, yang sekarang masih terduduk lemas di atas lantai.


Wajahnya terasa begitu perih, dia pun merasakan rasa sakit di ulu hatinya, namun, dia menerima apa yang seharusnya di terima oleh laki-laki jahat seperti dirinya, kesakitan yang dia rasakan tidak seberapa, di bandingkan dengan rasa sakit yang di terima oleh Axela dan seluruh keluarganya.


Dia pun mencoba bangkit dengan wajah masih terlihat meringis kesakitan, memaksakan diri untuk berjalan mendekat dengan tangan yang memegangi perutnya, menghampiri Leo dan juga yang lainnya, yang saat ini sedang berdiri bersama Dokter.


''Bagaimana keadaan putri saya, Dokter?'' tanya Leo cemas.


''Pasien harus banyak istirahat, usia kandungannya masih sangat muda, masih rentan dan membutuhkan penjagaan,'' ucap sang Dokter.


''Tapi, putri saya baik-baik saja kan?'' Adelia menatap wajah sang Dokter.


''Dia memang baik-baik saja, keadaanya pun sudah mulai stabil, tapi, saya harap, keluarganya bisa menjaga perasaan pasien, karena sepertinya, mental pasien sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Jika kalian sedang ada masalah besar di dalam keluarga, di sarankan untuk tidak melibatkan pasien, akan lebih baik jika kabar-kabar buruk yang bisa membuat mental pasien drop di jauhkan terlebih dahulu,'' Dokter menjawab dengan panjang lebar.


''Baik, Dokter. Kami akan mengikuti saran Dokter. Terima kasih, Dokter.''


''Baiklah, saya permisi sekarang. Pasien akan segera di bawa ke ruang rawat inap segera.''


Dokter pun berjalan meninggalkan mereka, dan kembali masuk kedalam ruangan.


Kemudian, Leo menghampiri Gabriel yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berada sekarang. Berdiri dan menatap wajah Gabriel, melayangkan tatapan tajam.


''Sebaiknya kamu pergi sekarang, aku tidak ingin melihat wajahmu, tapi ingat, kamu jangan coba-coba untuk kabur dan meninggalkan Axela, karena jika kamu melakukan itu, aku akan mencari kamu kemana pun, dan aku gak akan segan-segan untuk membunuhmu, kalau sampai kamu lari dari tanggung jawab, mengerti kamu?'' Leo dengan penuh penekanan, dan rahang yang di keras'kan.


________________-----------______________

__ADS_1


Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Readers ♥️♥️♥️


__ADS_2