
Tiga Hari Sebelumnya.
Axel Will musuh bebuyutan Leonardo alias Axel terlihat sedang duduk di sebuah kantor berukuran luas, dengan para bawahannya berbaris menunduk seperti sedang mendapatkan kemarahan.
Wajah Alex terlihat geram, dengan wajah merah menahan amarah, dia menatap satu persatu anak buahnya dengan tatapan tajam.
''Kalian semua bodoh, mencari satu orang saja tidak bisa, mau aku pecat kalian,'' sungut Axel dengan wajah geram.
''Maaf bos, tapi memang kami sudah mencari dia kemanana-mana tetap tidak ketemu, Leonardo seperti hilang di telan bumi,'' jawab salah satu anak buahnya yang berdiri di paling depan.
''Alasan...''
Bruk...
Alex menendang kaki anak buahnya yang tadi berbicara, dia pun berlutut seketika dengan mengerang kesakitan lalu kembali bangkit dan berdiri tegak.
''Sepertinya aku harus melakukan sesuatu untuk memancing dia agar keluar dari persembunyiannya,'' ucap Alex dengan berjalan mondar-mandir.
Kemudian dia pun tersenyum licik, matanya terlihat berbinar, dengan bibir yang menganga sambil tertawa dengan keras.
''Ha... ha... ha...! nyawa di balas nyawa, jika aku tidak bisa membunuhmu langsung maka aku akan mengambil nyawa orang terdekatmu sebagai gantinya.''
___
Keesokan harinya.
Nyonya Liana, ibunda Leonardo/Axel sedang duduk di dalam kamarnya, hatinya tiba-tiba saja di kejutkan oleh sesuatu seperti benda yang terjatuh, karena merasa penasaran dia pun bangkit lalu berjalan keluar kamar.
Ceklek
Nyonya Liana membuka pintu lalu melihat ke sekeliling ruangan di luar kamar, suasana yang hening membuat bulu kuduknya nya serasa merinding, dia memang hanya tinggal sendiri di rumah mewahnya, karena Leonardo putra satu-satunya belum juga pulang selama berbulan-bulan.
__ADS_1
Karena merasa takut dia pun berbalik hendak kembali ke dalam kamar, namun dia menghentikan langkahnya seketika mendengar suara langkah sepatu yang sedang mendekat ke arah dirinya.
Dengan tubuh yang gemetar Nyonya Liana pun kembali membalikkan badannya, lalu sedetik kemudian.
Dor
Terdengar suara tembakan yang yang sangat nyaring, dan peluru yang di tembakan pun tepat mengenai kening Nyonya Liana, dia pun ambruk seketika tak bernyawa, dengan darah segar yang berceceran di atas lantai.
Orang yang menembakan pistol itu tersenyum merasa sangat, wajahnya tidak terlihat karena memakai topi dan juga memakai baju yang serba hitam, setelah memandang jasad yang terbujur kaku di atas lantai, dia pun pergi begitu saja.
_____-----_____
Setelah menempuh perjalanan panjang akhirnya mobil yang dikendarai oleh Excel dan juga Adelia sampai di Rumah sakit di mana tempat jenazah Nyonya Liana berada.
Axel langsung berlari keluar mob sesaat setelah Angel memarkir mobilnya di parkiran Rumah Sakit. Yang langsung di ikuti oleh Adelia dan Angel dari belakang.
Di Ruang Jenazah.
Axel berjalan pelan, menghampiri jasad ibundanya yang sudah di tutup dengan kain berwarna putih, matanya pun terlihat menitikkan air mata tidak bisa menahan kesedihan.
''Ibu... Maafkan anakmu ini, hiks hiks hiks...'' dia meraba wajah ibunda tersayangnya, menatap dengan penuh deraian air mata saat jemarinya menyentuh lubang bekas peluru senjata tajam di kening sang ibu.
Axel pun mengepalkan tangannya, seketika raut wajahnya berubah garang dengan tatapan yang penuh dengan dendam, dia yakin betul jika Alex Will lah yang sudah melakukan hal ini, karena Alex adalah musuh bebuyutannya di dunia mafia.
Tekadnya untuk insyaf dan meninggalkan dunia hitamnya seketika hilang, dia pun berniat membalas dendam dengan orang yang sudah membunuh ibundanya. Axel yang semula ingin meninggalkan dunia mafia dan hidup tenang bersama istri tercintanya kini berubah haluan, dia akan kembali ke dunia itu demi membalaskan dendam.
Adelia mendekati suaminya dengan tatapan iba, dia berdiri di samping sang suami lalu mengelus pundaknya memberikan dukungan. Lalu dirinya menatap jasad ibu mertua yang terbujur kaku dengan wajah pucat pasi, ia pun menutup mulut dengan kedua tangannya seketika kaget melihat kening dari mertuanya itu yang nampak berlubang.
''Ke--keningnya kenapa? mengapa berlubang seperti itu?'' tanya'nya merasa heran.
''Dia di bunuh?'' jawab Axel singkat dan tanpa menoleh.
__ADS_1
''Apa...'' Adelia terkejut dan memundurkan langkahnya.
Apa yang terjadi, mengapa ada orang yang dengan teganya mengambil nyawa manusia, air mata seketika membasahi pipinya, merasa takut dengan dunia baru yang akan dia jalani bersama suaminya.
Sementara itu, Axel memeluk tubuh sang ibu, dia menangis sesenggukan meratapi nasib sang ibu yang harus berakhir tragis karena pekerjaannya sebagai seorang Mafia.
Angel berdiri di depan pintu menatap tidak percaya bahwa perempuan yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri telah tiada, Angel memang dekat dengan ibunda Axel, selain sama-sama berasal dari kaum sosialita, mereka juga sering menghabiskan waktu bersama, meski hanya sekejap berbelanja ataupun makan bersama.
Angel bahkan tidak berani masuk ke dalam ruangan, tubuhnya terlalu lemas untuk melihat jasad dari Tante Liana, dia hanya berdiri mematung dengan mata yang terlihat sembab penuh dengan air mata.
Dokter menganjurkan untuk melakukan autopsi kepada jenazah Nyonya Liana, namun Axel menolak karena tidak ingin jasad sang ibu rusak. Dia pun memilih untuk langsung melakukan pemakaman, agar arwah dari ibundanya merasa tenang di alam sana.
Pemakaman pun segera di laksanakan, jasad beliau di kebumikan berdampingan dengan suaminya yang telah meninggal tiga tahun yang lalu.
Setelah acara pemakaman selesai Axel kembali ke rumahnya dan dia duduk di kamar sang ibu, sambil menatap Poto ibundanya, dengan masih memakai setelan jas berwarna hitam.
''Aku berjanji akan membalaskan dendam atas kematian'mu, Bu,'' ucapnya dengan memandang potret sang ibu yang terlihat sedang tersenyum.
Tak lama kemudian Adelia masuk ke dalam kamar, dia duduk di samping suaminya, lalu mengusap punggung lebar sang suami.
''Kamu sabar ya, aku yakin ibumu sudah tenang di alam sana,'' ucap Adel mencoba menenangkan.
Axel menoleh ke arah Adelia dan menatap wajahnya, matanya terlihat sembab penuh dengan perasaan duka dan air mata yang memenuhi kelopak'nya, Axel meraih tubuh istrinya dan menangis sesenggukan di dalam pelukan sang istri.
''Ini semua salahku, ibu meninggal karena aku, aku yang membuat ibu kehilangan nyawanya, hiks hiks hiks...'' ucap Axel di dalam pelukan istrinya.
''Apa maksud kamu?'' Adel melepaskan pelukan suaminya dan memandang lekat wajah sang suami.
''Sebenarnya... ada banyak yang kamu tidak tahu tentang diriku, sesuatu yang mungkin akan membuatmu terkejut apabila kamu mengetahuinya,'' jawab Axel memandang wajah sang istri dengan lelehan air mata yang terus mengalir membasahi wajah tampannya.
''Apa maksudmu, aku sungguh tidak mengerti?'' jawab Adelia merasa sangat penasaran.
__ADS_1
''Sebenarnya... sebenarnya aku....''
___________-------___________