
Lucky menutup telpon lalu kembali berjalan menghampiri Ayu yang saat ini sedang menatap dirinya begitu lekat seolah tidak berkedip sedikitpun, senyum yang mengembang dari bibir Ayu pun terlihat begitu manisnya, membuat Lucky sedikit salah tingkah.
''Jangan liatin aku kayak gitu, aku tahu wajahku memang sudah tampan dari dulu,'' ucap Lucky, duduk kembali di tempat yang sama.
''Selalu, wajahmu selalu tampan, dari dulu sampai sekarang, gak hanya tampan, kamu juga pintar dan juga populer, itu sebabnya aku sudah memendam rasa dari semenjak pertama kali kita bertemu,'' jawab Ayu menyanjung.
''Akh, sudahlah. Hidungku bisa mengembang kalau kamu terus menyanjungku kayak gitu.''
Ayu terkekeh, wajah Lucky yang saat ini merah bersemu membuat wajahnya terlihat semakin lucu.
''Yang tadi itu ibu kamu?'' tanya Ayu kemudian.
''Iya ... Mommy khawatir, karena aku belum nyampe rumah sampai sekarang.''
''Emangnya kamu habis dari mana?''
''Waktu kamu nelpon tadi, sebenarnya aku sedang dalam perjalanan pulang dari desa Nenek aku, 6 jam di perjalan setelah itu langsung ke rumah kamu.''
''O ya ...? Maaf aku gak tau?'' Ayu menunduk merasa menyesal.
''Udah gak apa-apa, lagian udah kejadian juga, 'kan?''
''Kalau kamu mau pulang, pulang aja gak apa-apa, biar aku sendiri di sini, beneran ...''
''Gak apa-apa, aku bisa beristirahat di sini, ko. Mana mungkin aku ninggalin kamu sendirian di sini,'' jawab Lucky menundukkan kepalanya.
Ayu kembali tersenyum senang, dia berfikir bahwa mungkin saja Lucky sudah benar-benar membuka hati untuk dirinya.
''Sekali lagi makasih, Luck. Aku senang sekali, aku berharap kamu benar-benar membuka hati kamu untuk aku, meskipun saat ini kamu masih belum mencintai aku, namun, aku berharap seiring dengan berjalannya waktu, rasa itu perlahan akan hadir di hati kamu, karena jujur saja aku ingin sembuh, ingin terlepas dari dunia obat-obatan, dan aku benar-benar membutuhkan dukungan kamu, hanya kamu yang bisa membuat aku berubah,'' lirih Ayu menatap wajah Lucky dengan tatapan sendu.
''Aku akan mencobanya, meski tidak tau kapan rasa itu akan benar-benar hadir, tapi aku akan membantumu untuk bisa sembuh dan menjalani hidup dengan normal,'' jawab Lucky tersenyum, menatap wajah Ayu.
__ADS_1
Ayu mengangguk pelan.
''Bantu aku berbaring, aku mau tidur sebentar, rasanya mataku ngantuk sekali,'' pinta Ayu mengulurkan tangannya.
Lucky pun menerima uluran tangan gadis itu, dia membantu Ayu untuk berbaring, dan tidak lama kemudian dia pun memejamkan mata, dan terlelap seketika itu juga.
Setelah memastikan Ayu tertidur pulas, Lucky pun berjalan menuju kursi lalu berbaring di sana, matanya terasa ngantuk di tambah letih yang dia rasakan, membuatnya tidak membutuhkan waktu lama untuk dia benar-benar tertidur lelap.
🌹🌹
Sore hari, Axel nampak sedang duduk di teras rumah sang Nenek, dirinya menatap pohon mangga yang nampak telah berbuah begitu lebatnya.
Tidak lama kemudian, Amora sang kekasih pun datang menghampiri, dia duduk di samping kekasihnya, menatap wajah Axel dengan tersenyum.
''Lagi apa? jangan ngelamun sore-sore nanti kesambet, lho ...''
''Kamu ...? aku gak ngelamun, ko. Lagi liat mangga-mangga itu aja, kira-kira udah matang belum ya?'' jawab El, masih mendongakkan kepalanya menatap buah mangga dia atas sana.
''Ikh, gila kamu. Gak akh, takut jatuh ...''
''Dulu ayah kamu juga pernah naik pohon mangga, waktu ibumu ngidam kalian,'' terdengar suara Nenek keluar dari dalam rumah, berjalan mendekat lalu duduk di samping Amora.
''Serius, Nek? Papi naik pohon mangga?'' yang El merasa tidak percaya.
''Iya, malahan dia sampai jatuh segala, patah tulang dan harus di rawat beberapa hari di rumah sakit, itu semua dia lakukan untuk memenuhi keinginan ibu kamu yang ngidam buah mangga milik tetangga, hebat 'kan Papi'mu itu?'' ucap sang Nenek mengenang masa lalu.
''Wah, Papi sungguh luar biasa, aku salut sama mereka berdua, Papi sama Mommy gak pernah berantem, selalu terlihat mesra, bahkan tidak malu-malu menunjukan rasa cinta mereka di depan anak-anaknya. Aku juga akan memperlakukan kamu seperti itu, Ra. Kalau kita menikah nanti,'' ucap El, menoleh ke arah Amora.
''Hmm ... Rasanya gak sabar buat kita benar-benar tumbuh dewasa, menikah dan memiliki anak,'' jawab Amora melakukan hal yang sama, menoleh dan menatap wajah kekasihnya.
''Jadikan Papi-mu sebagai panutan, dia tidak pernah sedikitpun menyakiti hati ibumu, Nenek senang sekali memiliki menantu baik seperti Leo, di usia Nenek yang sudah semakin senja ini, tidak ada lagi yang Nenek inginkan, selain melihat anak serta cucu-cucu Nenek bahagia, dan seperti'nya semua harapan Nenek sudah di kabulkan oleh Tuhan, dan Nenek ikhlas jika Nenek harus berpulang menghadap sang ilahi,'' lirih Nenek Sarah, membuat Axel terkejut.
__ADS_1
''Nenek, kenapa Nenek ngomong kayak gitu? aku sedih tau dengernya. Nenek harus berumur panjang, apa Nenek gak mau ngeliat buyut Nenek lahir? heuh ...'' lirih El, bangkit lalu berjongkok di depan sang Nenek.
''El, sayang. Cucu Nenek yang tampan, umur Nenek sudah tua, tuhan bisa mengambil nyawa Nenek kapanpun, dan kamu harus siap jika saat itu tiba, ingat, setiap manusia pasti akan kembali padanya, apalagi Nenek sudah tua renta seperti ini,'' jawab Nenek, mengusap rambut sang cucu.
''Nggak, Nek. Kenapa Nenek ngomongnya gitu terus si?'' El meletakkan kepalanya di pangkuan sang Nenek.
Amora hanya tersenyum tipis, melihat kebersamaan sang kekasih dengan Nenek Sarah membuat hatinya terenyuh, karena dia sendiri tidak memiliki seseorang yang bisa dia panggil dengan sebutan Nenek.
''Sayang, kamu anak sulung, anak yang besar, kamu harus menjadi contoh yang baik bagi adik-adikmu, jaga mereka dan jaga kedua orangtuamu juga, Nenek percaya sama kamu, dan Nenek serahkan mereka padamu, Oke ...?'' lirih Nenek, membuat El seketika langsung memeluk dan menangis sesenggukan di pelukan sang Nenek.
Tanpa terasa Amora pun menitikkan air mata, melihat sang kekasih menangis seperti itu membuat hatinya benar-benar merasa sedih, selama ini Amora sama sekali tidak pernah melihat Axel menitikkan air mata dengan begitu derasnya.
Emillia yang sedang berada di dalam rumah pun akhirnya keluar karena mendengar suara tangis Axel .
''Ada apa, Nek? kenapa Axel menangis?'' tanya Emill berdiri di depan Nenek Sarah.
''Entahlah, mungkin dia memang sedang ingin menangis, sudah lama sekali dia tidak menangis di pelukan Nenek kayak gini. Sudah sayang, berhenti. Malu 'kan diliatin sama pacar kamu, sama Emil juga.''
''Tapi Nenek janji gak akan ngomong kayak gini lagi, ya ...?'' rengek Axel, melepaskan pelukannya lalu mengusap air matanya, dan langsung di jawab dengan anggukan oleh Neneknya tersebut.
Keesokan harinya.
Pagi-pagi sekali, Emillia sudah terbangun, hal itu memang selalu dia lakukan setiap harinya untuk membantu membereskan rumah agar Nenek tidak perlu lagi kecapean dalam mengurus rumah tersebut.
Emilia pun merasa ada yang aneh dengan suasana pagi ini, dia sama sekali belum melihat Nenek yang biasanya bangun lebih awal darinya. Dia berjalan ke arah pintu kamar sang Nenek, mengetuk pintu dan berniat untuk membangunkan Nenek.
Tok ... Tok ... Tok ...
Emil mengetuk pintu berkali-kali, dan karena tidak mendapatkan jawaban apapun dari salam sana, akhirnya dia memilih membuka pintu dan masuk kedalam kamar, Emil terlihat duduk di tepi ranjang dan menatap sang Nenek yang masih memejamkan mata secara sempurna.
''Nek, bangun. Sudah pagi,'' lirih Emil pelan, namun, Nenek masih tidak bergeming sedikitpun.
__ADS_1
_____________-----------_____________