
''Ryan...?'' Angel memanggil dari kejauhan, berjalan mendekat dengan tatapan yang terlihat mengarah ke arah Adelia.
''Nona Angelina?'' Ryan bergumam pelan.
''Sedang apa di sini?'' tanya Angel tidak menghiraukan Adelia yang sedari menatap dan mengenali wajahnya.
''Eu... Anu, tadi bos Leo mengalami sedikit kecelakaan,'' jawab Ryan dengan sedikit terbata-bata.
''Apa...?'' Angel membulatkan bola matanya merasa terkejut.
Ryan mengangguk.
''Kecelakaan apa? mengapa sampai di bawa ke Rumah Sakit? apakah lukanya parah?'' tanya Angel dengan raut wajah yang terlihat khawatir.
''Tidak, ko. Hanya kecelakaan biasa,'' jawab Ryan datar, menatap ke arah Adelia dan ibu merasa tidak enak.
''Ya ampun, Leo. Malang sekali nasibmu,'' Angel duduk di kursi tepat di samping Ryan.
''Kamu sendiri sedang apa di Rumah Sakit? silahkan lanjutkan apa yang ingin kamu lakukan,'' tanya Ryan mengusir secara halus.
''Tidak ko, tadi aku hanya berobat sebentar, karena merasa sedikit tidak enak badan, tapi sekarang aku sudah baik-baik saja ko, aku ingin menunggu disini, ingin tahu bagaimana keadaan Leo,'' jawabnya dengan begitu polosnya, tanpa memikirkan perasaan Adelia yang merupak istri Leonardo.
Ibu menatap wajah Angel dengan tatapan heran, menatap pakaian seksi dengan belahan dada sedikit terbuka yang di kenakan oleh Angel, dan ibu pun masih dapat mengenali dengan jelas wajah Angel sebagai mantan kekasih dari menantunya tersebut. Namun ibu tidak berkata apapun, karena tidak ingin membuat kegaduhan di dalam Rumah Sakit.
Tidak lama kemudian, Dokter pun keluar dari dalam ruangan, dan Adel segera menghampiri sang Dokter lalu bertanya padanya.
''Bagaimana keadaan suami saya, Dokter?'' tanya Adelia.
''Syukurlah, suami Nyonya tidak apa-apa, tidak ada luka yang terlalu terlalu serius, hanya saja, kakinya harus memakai gips selama beberapa Minggu ini, karena ada keretakan di pergelangan kakinya,'' jawab Dokter tersebut.
''Tapi suami saya masih bisa berjalan kan, Dok?''
''Ya, harus di bantu dengan tongkat, sampai tulang yang retak itu benar-benar sembuh kembali,'' jawab sang Dokter.
''Apa perlu di rawat di Rumah Sakit?'' Ryan pun bertanya.
__ADS_1
''Tentu saja, Tuan Leonardo harus mendapatkan pengawasan terlebih dahulu, mungkin harus di rawat tiga sampai empat hari ke depan.''
''Baiklah...'' jawab Ryan menunduk lesu.
''Kalau begitu saya permisi, tuan Leonardo akan segera di bawa ke ruang rawat inap.''
''Baik, Dokter. Terima kasih.''
Tidak lama kemudian perawat pun membawa Leonardo keluar dari dalam ruangan, dengan memakai kursi roda, kakinya pun tampak sudah di pasangkan gips, dengan jarum infus yang menancap sempurna di lengan kirinya.
''Suamiku... apakah kamu baik-baik saja?" Adel menghampiri dan berjongkok tepat di depan kursi roda.
"Iya, sayang. Aku baik-baik saja, hanya luka seperti ini, kamu tidak perlu khawatir, ya," jawab Leo tersenyum dengan sangat manisnya.
"Aku minta maaf, gara-gara aku, kamu jadi seperti ini," Adel menunduk merasa menyesal.
"Sudah, jangan sedih seperti ini, kasian bayi kita, tidak baik untuk' jika terlalu banyak fikiran, lagipula hanya luka seperti ini saja, sudah biasa.''
Leo tersenyum manis, senyum yang sudah lama tidak pernah di lihat oleh Angelina, dia yang sedari tadi berdiri di sana, hanya bisa mematung menatap Leo yang bersikap sangat manis kepada istrinya, sikap yang dulu pernah di terima olehnya juga, dan sungguh Angel sangat merindukan itu, di perlakuan dengan sangat spesial oleh Leonardo.
Leo yang sudah berada di atas tempat tidur, sedikit tersenyum melihat istrinya, dia hendak memanggil sang istri, namun dia mengurungkan niatnya seketika, saat melihat ternyata Angelina juga berada di sana.
''Angel...? sedang apa kamu di sini?" Leo membulatkan bola matanya, merasa kesal seketika.
"Akhirnya kamu sadar juga ada aku disini," jawab Angel sedikit sinis.
"Iya... tapi sedang apa kamu di sini?"
"Lagi nengok'in kamu'lah, apa lagi?'' jawab Angel, lalu dirinya berdiri di samping tempat tidur.
''Lebih baik kamu pergi sekarang, aku tidak suka melihat kamu ada di sini, tubuhku terasa semakin sakit jika melihat wajahmu,'' ucap Leo tanpa memikirkan perasaan Angel sama sekali.
''Heuh... dasar Leonardo, habis manis sepah di buang, mentang-mentang sudah punya istri, aku di singkirkan begitu saja, ya sudah... Aku pergi sekarang, lagipula aku juga tidak suka lama-lama berada di sini,'' jawab Angel ketus lalu keluar dari dalam ruangan.
Adelia menatap wajah Angel yang terlihat melayangkan tatapan tajam dan penuh dengan kebencian, melintas tepat hadapan dirinya dengan bahu yang sedikit di tempelkan. Ketiga orang yang berada di sana pun menatap kepergian Angel dengan tatapan kesal.
__ADS_1
''Jangan terlalu keras sama Angel, biasa saja,'' Adelia menghampiri dan berdiri tepat di samping tempat tidur.
''Wanita kaya Angel emang harus di keras'in, kalau tidak, dia nggak akan pernah menyerah buat dapetin aku lagi,'' jawab Leo.
''Terserah kamu aja kalau begitu,'' Adel menatap wajah sang suami.
''O iya, buah mangga yang aku petik mana?'' tanya Leo menatap ke sekeliling.
''Anu, bos... sepertinya ketinggalan di rumah,'' jawab Ryan menggaruk kepalanya.
''Kenapa bisa ketinggalan si? cepat ambil. Apa kamu tidak tahu perjuangan aku untuk dapat memetik buah mangga itu?'' Leo sedikit menaikan suaranya.
''Eu... iya, bos. Saya akan kembali ke rumah sekarang,'' jawab Ryan, berbalik lalu berjalan keluar dari dalam kamar.
''Apa harus di ambil segala?'' tanya Adelia.
''Kamu lihat, aku sampai seperti ini demi mendapatkan buah mangga itu, masa sekarang di biarkan begitu saja, aku tidak suka usaha'ku tidak di hargai,'' Leo mengerucutkan bibirnya.
''Iya sayang... jangan ngambek kaya gitu akh, nanti ketampanan'nya hilang lho,'' Adel sedikit menggoda.
Leonardo pun tersenyum, lalu mengusap perut sang istri dengan penuh kasih sayang.
''Demi calon bayi kita, apapun akan aku lakukan, meski harus menyebrangi lautan ataupun melintasi pengunungan, asalkan apa yang kamu mau, tercapai dan kamu merasa senang, aku sama sekali tidak keberatan. Iya kan Dede bayi...?'' Leo berbicara seraya menatap perut sang istri.
''Iya... iya... aku percaya kamu bisa melakukannya apapun. O iya, aku mau tanya sesuatu, mengapa tadi kamu melarang aku di periksa oleh Dokter kandungan itu? bukankah sebelum'nya, kamu yang mendorong aku untuk segera di periksa?''
''Hmmm... karena Dokter itu seorang Pria. Aku tidak suka kamu di pegang apalagi di raba-raba, meski dia seorang Dokter tetap saja, aku tidak suka, nanti kita cari Dokter kandungan wanita saja.''
*****
Selamat pagi Reader, hari ini saya akan merekomendasikan novel bagus untuk kalian semua, sambil menunggu Author up episode baru, silahkan kunjungi terlebih dahulu novel di bawah ini saya, semoga bisa menghibur.
*****
__ADS_1